alexametrics
Minggu, 20 Sep 2020
radarjombang
Home > Peristiwa
icon featured
Peristiwa

Anik Rofiqoh, Perawat Jombang yang Abdikan Diri untuk Tangani ODGJ

07 September 2020, 18: 46: 02 WIB | editor : Mardiansyah Triraharjo

Anik Rofiqoh dan aktivitasnya menangani ODGJ di Jombang.

Anik Rofiqoh dan aktivitasnya menangani ODGJ di Jombang. (ACHMAD RIZA W/JAWA POS RADAR JOMBANG)

Share this      

JOMBANG – Kisah perjuangan salah satu perawat ini cukup inspiratif. Keteguhannya mengabdi untuk penderita gangguan jiwa di lingkungannya patut diapresiasi.

Namanya Anik Rofiqoh, kelahiran 19 juli 1969. Lahir di Desa Jatiduwur, Kecamatan kesamben, Anik memulai pendidikannya di SDN Gumulan, setelah lulus kemudian melanjutkannya ke SMPN Ploso.

Perjalanannya menjadi tenaga kesehatan dimulai ketika ia mengambil pendidikan di SPK (Sekolah Perawat Kesehatan) Jombang. Waktu itu, SPK Jombang adalah cabang dari SPK Negeri Sidoarjo.

Ia tamat pendidikan 1989. Selanjutnya ia meneruskan DIII Keperawatan di Stikes Pemkab Jombang. Setelah lulus sebagai perawat umum, Anik bekerja sebagai honorer hingga berhasil diangkat sebagai PNS di Puskesmas Peterongan 1993. Lima tahun kemudian, ia dipindah ke Puskesmas Dukuhklopo.

Perpindahan ini yang membuat ia mengenal dunia medis kejiwaan. Anik, yang awalnya perawat umum, mulai akrab dengan banyak orang dengan gangguan jiwa (ODGJ). Anik menangani sejumlah kasus yang berkaitan dengan ODGJ, meski tak banyak yang bisa dilakukan di tahun-tahun itu.

Hingga 2014, ketika menjadi perawat pembantu di Desa Bongkot, ia menginisiasi gerakan kunjungan rutin ke beberapa penyandang ODGJ di lingkungannya. Hal ini dilakukan setelah pelatihan perawat jiwa yang diterimanya bersama beberapa kader lain di Desa Bongkot.

Upayanya berlanjut dengan pembentukan posyandu jiwa pada 2015. Hingga saat ini, wanita yang tinggal di Desa Sumberagung, Kecamatan peterongan ini telah merekrut ratusan ODGJ yang dirawat laiknya anak sendiri. Atas kegigihannya, dia sempat diganjar penghargaan Kesehatan Jiwa Berbasis Komunitas 2016 dari Gubernur Jawa Timur Soekarwo.

Perjuangan Posyandu Jiwa Pertama

MEMBANGUN Posyandu Jiwa yang telah eksis dan berkembang ke sejumlah desa, disebutnya bukan hal mudah. Ia bersama puluhan kader lain harus berjuang dengan mengorbankan waktu dan tenaga.

Sejak 2014, Anik bersama sejumlah orang di desanya mulai bergerak, mendatangi satu persatu rumah penderita gangguan jiwa. Kegiatan ini dilakukan rutin hampir setiap minggu. “Kunjungan rumah awalnya, door to door, kita datangi anaknya yang sakit, kita harus bujuk orang tuanya juga,” terangnya kepada Jawa Pos Radar Jombang.

Hal inipun tak mudah karena sering berhadapan dengan orang tua dan keluarga ODGJ yang memang tertutup, bahkan enggan berobat.

“Karena stigma masih melekat pada masyarakat, ODGJ dipandang aib bagi keluarga, sehingga harus disembunyikan bahkan dipasung. Kita sempat harus mendatangkan profesor untuk memberi pengertian kepada keluarga, setelah perangkat desa dan babinsa tidak bisa tembus,” lanjutnya.

Namun, dengan pendekatan, hal ini bisa dilakukan. Peran serta beberapa jajaran terkait yang ikut berusaha membujuk keluarga akhirnya bisa memuluskan langkahnya. Terlebih setelah beberapa penanganan kepada ODGJ mulai terlihat dampaknya.

“Setahun kita keliling dengan pemberian obat rutin, hasilnya mulai kelihatan, anak-anak mulai sehat secara mental,” imbuh Anik.

Sehat secara mental menurutnya grafik kesembuhan pengidap ODGJ dari sisi komunikasi serta interaksi mulai naik. “Misalnya dia sudah bisa diajak komunikasi, tidak lagi terisolasi, sudah mengerti perintah dan tidak lagi disorientasi, misalnya sudah mengerti waktu dan hari,” sambungnya.

Hingga puncaknya, di Maret 2015 setelah beberapa penderita mulai sembuh secara mental, tahapan pembentukan posyandu ditingkatkan.

Para penderita mulai didatangkan setiap bulan sekali ke Balai Desa Bongkot untuk diperiksa rutin. Dalam agenda itu, peserta juga diberi ketrampilan juga kegiatan yang membuat mereka rileks. “Karena meskipun secara mental  mulai sehat, untuk bisa sembuh sempurna butuh rehabilitasi, ini yang kita lakukan,” tegasnya.

Langkah inipun tak mudah, dalam pendanaan yang minim, Anik dan timnya juga masih harus berusaha agar kegiatannya tak berhenti. “Dari awal memang kita kader berusaha sendiri, kita bikin apa-apa nanti hasilnya dimasukkan kas dan untuk operasional. Karena dari awal kita sama sekali tidak pernah mau menarik iuran dari anak-anak dan keluarganya,” lontar dia.

Upayanya pun tak sia-sia. Bantuan akhirnya berdatangan seiring dengan kesuksesan posyandi yang diinisiasinya. Hingga kini, setidaknya lebih dari 90 persen ODGJ yang dirawatnya sudah mandiri.

“Artinya mandiri ini sehat secara mental, kalau yang sudah mulai bisa produksi artinya bekerja sudah 50 persen. Bahkan ada juga yang sudah menikah sekarang, dan dua-duanya memang ketemu di Posyandu ini,” rincinya.

Anik mengaku masih akan terus melakukan kegiatannya. Bagi dia melihat ODGJ bisa sembuh dan kembali ke masyarakat adalah kebahagiaan yang tak mampu terbayar dengan apapun.

“Sampai pensiun kalau masih bisa saya teruskan kegiatannya, nggak tahu ya, bahagia saya kalau bisa melihat anak-anak ini sembuh. Itu prinsip saya,” pungkas dia.

(jo/riz/mar/JPR)

 TOP
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia