alexametrics
Senin, 21 Sep 2020
radarjombang
Home > Tokoh
icon featured
Tokoh

Sukirno, Sang Guru Sekaligus Tokoh Agama Hindu di Jombang

07 September 2020, 18: 40: 37 WIB | editor : Mardiansyah Triraharjo

Sukirno

Sukirno (ACHMAD RW/JAWA POS RADAR JOMBANG)

Share this      

JOMBANG - Kiprah pria ini bermula dari guru hingga pendiri pura, juga aktivis keagamaan. Kini menjadi salah satu pengurus lembaga sosial.

Namanya Sukirno, kelahiran 11 juni 1964 di Kabupaten Blitar. Menghabiskan masa kecilnya hingga SMA di Talun Blitar, Sukirno kemudian melanjutkan pendidikan ke UTP Surabaya mengambil jurusan Pendidikan Agama Hindu.

Lulus sebagai sarjana, Kirno, sapaan akrabnya kemudian meniti karir sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Kabupaten Kediri pada 1985 silam. Mengawali tugas sebagai petugas penatar perkawinan pada dinas catatan sipil setempat, beberapa tahun kemudian ia mendapat posisi sesuai jurusan saat kuliah dan menjadi guru.

Ia harus mengajar untuk pendidikan Agama Hindu di hampir seluruh kelas, baik SD hingga SMA di Kabupaten Kediri. Pekerjaan awalnya sebagai penatar perkawinan untuk pemeluk agama hindu tak juga ditinggalkan. Karirnya berlanjut saat dia dipindah menuju Jombang pada 1986.

Meneruskan pekerjaan sebagai guru di kota dijalaninya selama dua tahun untuk beberapa SD, SMP hingga SMA. Kemudian dipindah tugas di kawasan ujung selatan Jombang yakni di SDN Jarak. Pindah tugas ini disebutnya cukup masuk akal, lantaran jumlah pemeluk agama hindu di Desa Jarak, Kecamatan Wonosalam jauh lebih banyak.

Empat tahun membina siswa dan keagamaan di Desa Jarak, Sukirno kembali berpindah tugas menjadi guru di SDN Rejoagung 2, sembari mengajar di SMP, SMA dan SMK di Kecamatan Ngoro.

Selain sebagai guru, Sukirno juga tercatat sebagai orang penting yang membangun Pura Amerta Buana di Dusun Ngepeh, Desa Rejoagung, Kecamatan Ngoro. Kirno juga pendiri yayasan sosial Widya Paramitha. Bapak empat anak ini ketua Walaka, penasehat dari lembaga Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Jombang selama 11 tahun terakhir.

Terbiasa dengan Perbedaan

MENJADI salah seorang pengajar Agama Hindu di Kabupaten Jombang yang mayoritas penduduknya muslim, menurut Sukirno bukanlah tantangan. Dia menyebut perbedaaan itu hal wajar lantaran perbedaan agama telah dirasakannya sejak kecil.

Sukirno memang dilahirkan dan besar dalam kultur keluarga  majemuk. Ayah dan ibunya seorang mantan pejuang 45 yang menganut aliran kepercayaan. “Ayah dan ibu saya kejawen yang menuliskan agama Islam di KTP memang,” terangnya saat ditemui Jawa Pos Radar Jombang.

Terlebih, anak ketiga dari 16 bersaudara ini juga telah merasakan bagaimana menjadi pemeluk agama berbeda di keluarganya. Meski ayahnya menganut kepercayaan, 14 keluarganya menganut Islam.

“Hanya saya yang beragama Hindu, serta kakak saya nomor 2 beragama Kristen, yang lain semua muslim. Jadi memang perbedaan seperti itu sudah terbiasa di rumah,” lanjut dia.

Bahkan, ayahnya mengajarkan untuk bisa menghadapai perbedaan dengan baik. Hal ini dilakukan dengan membuat tiga tempat ibadah di sekitar rumahnya.

“Ayah saya dulu begitu, langsung memberi contoh, ada masjid besar, sebuah gereja dan pura dibangun di dekat rumah, dan diabdikan untuk warga setempat. Ini pelajaran penting menurut saya dari orang tua kepada anaknya bagaimana cara menghadapi perbedaan,” rincinya.

Karena itulah saat menginjak Jombang pertama kali dengan kultur yang berbeda, Sukirno mengaku tak merasa kesulitan. Bahkan dia membuktikan bahwa keberagaman agama adalah rahmad bagi manusia untuk bisa saling menghargai.

Di Dusun Ngepeh, Desa Rejoagung, memang menjadi salah satu daerah dengan keragaman agama. Di satu dusun terdapat  tiga tempat ibadah yakni pura, masjid dan gereja yang lokasinya berdekatan. Namun suasana tetap dingin dengan terbentuknya forum kerukunan antar agama yang diinisiasinya bersama dengan sejumlah pemuka agama lain.

“Ini dibuktikan kita di Dusun Ngepeh yang bisa merintis forum kerukunan umat beragama yang diberi nama FKU dulu, jauh sebelum FKUB di Indonesia hadir. Kita sejak tahun 1990 sudah ada, dan terbukti sampai sekarang terus berjalan. Perbedaan memang tidak seharusnya menjadikan kita berselisih,” pungkasnya.

(jo/ang/mar/JPR)

 TOP
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia