alexametrics
Senin, 21 Sep 2020
radarjombang
Home > Tokoh
icon featured
Tokoh

Mujiono, Pelatih SSB SKB Gudo, Tokoh Sepak Bola Senior di Jombang

07 September 2020, 18: 33: 25 WIB | editor : Mardiansyah Triraharjo

KERJA KERAS: Mujiono, pelatih SSB SKB Gudo saat menunjukkan berbagai macam piala yang pernah disabetnya.

KERJA KERAS: Mujiono, pelatih SSB SKB Gudo saat menunjukkan berbagai macam piala yang pernah disabetnya. (ANGGI FRIDIANTO/JAWA POS RADAR JOMBANG)

Share this      

JOMBANG - Hampir semua pegiat sepak bola di Jombang, tak asing mendengar nama Mujiono. Ia adalah pelatih senior yang sering mengharumkan nama Jombang di kancah regional Jawa Timur maupun tingkat nasional. Hingga kini ia masih aktif melatih sepakbola di Sekolah Sepak Bola (SSB) SKB Gudo.

Mujiono lahir di Jombang, 5 Januari 1960 silam. Anak kedua dari lima saudara pasangan Suprapto dan Marpiah ini memang getol dengan sepak bola sejak dini. Meski ke empat saudaranya tak begitu menyukai sepak bola, namun ia justru yang paling gemar.

Sejak kecil, Mujiono sering menghabiskan waktu bermain sepak bola dengan teman sebayanya. Bahkan, dia sering dipercaya mewakili desa-nya di berbagai kejuaraan.

Awal kirprahnya di dunia sepak bola saat ditunjuk mendirikan sekolah sepak bolah (SSB) sekaligus menjadi pelatih SSB SKB Gudo, 9 September 1994 yang kala itu masih dikepalai Sukamto. Sehingga pada tanggal itu pula dijadikan momen sebagai lahirnya tim kesebelasan SSB SKB Gudo. Sebelumnya, ia juga pernah menjadi pelatih klub SSB di Jombang.

Perjalanan karir Mujiono berlika-liku. Semasa menjadi pelatih tempat latihan tim kesebelasan SSB SKB Gudo, ia seringkali berpindah tempat. Pada mulanya, SSB SKB Gudo berlatih di lapangan Desa Blimbing, lalu pindah ke Desa Sukoiber. Namun karena terjadi beberapa kendala, akhirnya sampai sekarang menetapkan lapangan Desa Kedungturi sebagai tempat latihan.

Seiring berjalannya waktu, tim terus berkembang. Berbagai macam kejuaraaan berhasil diraih baik di tingkat kabupaten, regional Jawa Timur maupun tingkat nasional yang bergengsi. Bahkan, dengan pembinaan yang berjenjang itu, banyak sekali pemain pemain SSB SKB Gudo yang kini sudah mengembangkan sayap bermain di berbagai klub besar.

Sebut saja, diantararanya Dodi Alfayed pemain Borneo FC, Andre Agustian Prakosa yang sekarang bermain di Mitra Kutai Kartanegara, Bima Ragil yang pernah menjadi andalan Timnas Indonesia, Agus Pudjiono mantan pemain Persebaya. Belum lagi, sejumlah pemain PSID Jombang yang banyak ditelurkan oleh SSB SKB Gudo.

Kuncinya Disiplin Latihan dan Waktu

DI usia yang semakin tua, Mujiono masih tetap semangat laiknya masih muda. Jiwa mudanya masih terlihat saat dia turun di lapangan Kedungturi untuk melatih kesebelasan SSB SKB Gudo, kemarin. Bagia dia, kunci dalam mencetak pemain berbakat hanya dua, yakni disiplin latihan dan disiplin waktu.

Mujiono melatih antara 70-100 anak usia 9-15 hampir setiap sore di lapangan Desa Kedungturi. Sebelum digembleng latihan taktik dan fisik dalam permainan sepakbola, ia selalu memberikan arahan yang bersifat positif kepada anak anak. ”Karakter setiap anak berbeda beda. Kita butuh pendekatan agar mereka giat berlatih,” ucapnya.

Setelah mengerti tiap karakter anak, barulah ia menerapkan dua hal tersebut. Yakni disiplin dalam berlatih dan disiplin dalam waktu. Sebagai bentuk penerapannya, ia meminta anak anak hadir di lapangan tepat pukul 15.00 WIB. Tidak boleh telat kecuali sakit.

Saat berada di lapangan, Mujiono meminta anak anak untuk serius, disiplin dan tidak bergurau saat berlatih. Sebab, keseriusan mereka bakal menentukan kesuksesan di lapangan. ”Kadang kita butuh tegas dan keras dalam melatih anak untuk membentuk karakter mereka. Karena kalau kita melatih dengan lemah lembut, justru mereka tidak bisa jadi pemain profesional,” ujar dia.

Bapak dua anak ini mengaku, sejak mulai melatih tim SSB SKB Gudo 1994 sampai sekarang, tim kesebelasannya itu seringkali menjadi langganan juara. Saking banyaknya  kejuaraan yang berhasil diraih, sampai-sampai ia bingung menghitung saat ditanya kejuaraan apa saja yang pernah disabet. Banyak deretan piala dan piagam penghargaan yang tertata rapi di rumah.

”Kalau kejuaraan tingkat kabupaten seperti porkab atau piala bupati memang sering juara, khususnya event usia dini. selain itu, tingkat nasional saat Piala Rektor UNY di Jogjakarta juga pernah berhasil menjadi juara, itu karena disiplin dalam berlatih,” tandasnya.

Saat ini, dia mempersiapkan tim kesebelasannya untuk mengikuti beberapa kejuaraan. ”Memang jadwal kita masih padat, terus berlatih untuk mempersiapkan kejuaraan yang akan datang,” pungkas dia.

Berharap Sepak Bola Jombang Maju

SEBAGAI pegiat sepak bola senior, Mujiono paham apa yang dibutuhkan sepak bola di Jombang agar lebih maju. Salah satunya, sentuhan halus dari Pemkab Jombang. Selama ini, kedudukan sepak bola di Jombang belum terangkat karena kontribusi yang diberikan pemerintah belum maksimal.

”Sebagai pegiat sepak bola tentu saya berharap sejak dulu agar sepak bola di Jombang lebih baik,” ujar dia. Menurut dia, potensi sepak bola di Jombang cukup bagus. Ini dilihat dari banyaknya pemain Jombang yang bergabung dengan klub nasional di luar. Tentu, jika itu tidak dimanfaatkan maka sepak bola di Jombang tidak akan bisa maju sampai kapanpun.

”Paling tidak pemain pemain kita tidak banyak yang keluar dari Jombang, dan mereka tentu akan lebih bangga mengharumkan tanah kelahiran. Cuma sampai sekarang tidak tahu kenapa yang membuat kebijakan ini belum begitu peduli,” tambahnya. 

Dijelaskan, sepak bola butuh anggaran yang cukup besar. Bayangkan saja, untuk dapat bermain di tingkat provinsi satu tim kesebelasan paling tidak butuh anggaran puluhan juta. Baik untuk keperluan akomodasi menginap di hotel, konsumsi, ataupun hal lainnya.

Sedangkan, jika tidak ada perhatian pemerintah dalam menyupport anggaran tentu tidak ada terwujud. ”Ini yang saya katakan kita butuh support dari pemerintah,” papar dia.

Selain menjadi pelatik sepak bola, Mujiono juga aktif menjadi wasit sepak bola. Dirinya juga tergabung dalam Asosiasi Sepak Bola Kabupaten (Askab) PSSI Jombang dan Provinsi Jawa Timur. Dia sering diminta menjadi wasit di beberapa pertandingan di era 2000-an. ”Dulu juga pernah menjadi wasit saat Persebaya dan Persema bermain di Stadion Jombang,” kenangnya.

(jo/ang/mar/JPR)

 TOP
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia