alexametrics
Minggu, 25 Oct 2020
radarjombang
Home > Tokoh
icon featured
Tokoh

Widjono Soeparno, Wabup Jombang 2008-2013

07 September 2020, 13: 42: 40 WIB | editor : Mardiansyah Triraharjo

Widjono Soeparno, Wabup Jombang 2008-2013

Widjono Soeparno, Wabup Jombang 2008-2013 (AZMY ENDIYANA Z/JAWA POS RADAR JOMBANG)

Share this      

JOMBANG - Widjono Soeparno, adalah Wakil Bupati Jombang periode 2008-2013. Sebagai tokoh pemerintahan, ia ternyata baru belajar dan mendalami  politik setelah mencalonkan diri menjadi wakil bupati, berpasangan dengan Bupati Suyanto saat itu.

Widjono kecil lahir di Mojoagung 20 Juli 1952. Merupakan anak kelima dari delapan saudara pasangan Soeparno dan Siti Rohayat. Dulu dirinya sama sekali tidak berfikiran untuk masuk ke dunia politik, meski ayahnya seorang politikus dari PDI, dan pernah menjadi Wakil Ketua DPRD Jombang. ”Dulu memang bapak berkegiatan di PDI,” ujarnya kemarin.

Sebagai anak politikus, Widjono tak cukup puas setelah lulus dari STPDN tahun 1980. Ia kemudian melanjutkan pendidikan di Universitas Darul Ulum menggambil jurusan Ilmu Pemerintahan. Serta program pendidikan Magister (S-2) Ilmu Administrasi di Universitas Brawijaya.

”Saya dulu juga pernah menjadi tenaga honorer pada 1975,” imbuhnya. Pada 1976, dirinya sudah diangkat menjadi PNS dan berdinas di kantor kecamatan. Berjalannya waktu dan terus mengenyam pendidikan, karir Widjono di birokasi terus bertambah. Pada 1990, dirinya dipromosikan menjadi Camat Megaluh selama empat tahun.

”Setelah itu saya menjadi Camat Jombang,” katanya. Sebelum menjadi sekda pada jabatan terakhir dan kemudian mencalonkan diri menjadi wakil bupati, dirinya juga sempat menjadi Kepala Dinas Pendapatan Jombang.

“Waktu itu pak Yanto kebetulan incumben saat saya di Sekda, tahu-tahu diajak untuk menjadi pasangannya,” ungkap kakek lima cucu ini. Tak hanya sekedar ajakan dari Suyanto, dia maju menjadi wakil bupati juga didorong dari masyarakat yang menginginkan dirinya maju.

”Karena ada dorongan dari masyarakat itulah akhirnya saya memutuskan untuk maju. Dari situlah saya belajar politik,” ceritanya. Lantaran kembali mendapat dorongan dari masyarakat, setelah jabatan wakil bupati selesai, dia kembali maju mencalonkan menjadi bupati berpasangan dengan Sumrambah.

”Memang dulu survei tinggi, tapi mungkin karena sudah bukan waktunya lagi saya menyadari, dan saat itu saya juga memilih pensiun untuk berkumpul bersama keluarga,” pungkas Widjono

Prioritaskan Kumpul Keluarga

SETELAH memilih pensiun dari dunia politik, Widjono Soeparno lebih memilih berkumpul bersama keluarga. Kini, Widjono yang menikah dengan Sri Susilo Eko Fajarwati, Februari 1982 itu dikaruniai lima cucu dari dua putri tercinta. Meski begitu, anak dan cucunya tinggal di Surabaya, sementara ia dengan istri berada di Jombang.

”Jadi setiap Sabtu dan Minggu saya ke Surabaya, berkumpul sama anak-anak dan momong cucu,” ujarnya. Tidak hanya berkumpul dengan keluarga, keseharian Widjono juga tetap aktif berolahraga. Setiap Selasa dan Jumat, dia mengundang teman-temannya untuk bermain tenis meja bersama di rumahnya. Sedangkan setiap Kamis agenda rutin bersepeda.

”Untuk olahraga tetap rutin karena saya suka olahraga. Bahkan kalau tenis meja, sampai ada 25 orang bermain bersama di rumah,” ungkapnya. Selain itu, untuk menghilangkan penat dirinya juga hobi memelihara burung. Karena menurutnya ada hiburan tersendiri saat merawat burung.

Hanya saja, terkadang dirinya juga kangen dengan kegiatan-kegiatan saat menjadi wakil bupati. Hal paling berkesan saat menjadi wakil bupati, saat dirinya berkumpul bersama dengan pejabat di lingkup dinas.

”Kangennya itu pas kumpul-kumpul bersama dan bercanda seperti keluarga sendiri. Hingga saat ini masih menjalin komunikasi dengan baik,” tambahnya. Ia mengaku banyak pengalaman baru yang didapatkan selama menjabat wakil bupati Jombang.

Diantaranya bisa dekat dengan masyarakat karena sering ke desa-desa. Selain itu, akrab dengan para kiai lantaran sering mengikuti kegiatan di pondok pesantren. ”Sampai saat ini juga saya sering mengikuti beberapa kegiatan di pondok,” pungkas Widjono.

Bapak Karate Jombang

TIDAK hanya menjadi pemimpin masyarakat, di dunia olahraga Widjono Soeparno juga didapuk sebagai ketua umum Federasi Olahraga Karate Indonesia (Forki) Jombang. Bahkan, ia dijuluki sebagai bapak karate Jombang karena dipercaya menjadi ketua umum Forki selama 20 tahun.

Kwat Prayitno, Ketua harian Forki Jombang mengatakan, Widjono merupakan pemimpin yang hebat, sangat semangat dan gigih untuk memajukan olahraga karate di Jombang. ”Beliau mempunyai semangat yang bagus untuk maju bersama. Bisa disebut bapak karate Jombang,” imbuhnya.

Ia mengakui, bila Widjono sendiri bukan karateka. Hanya saja, dia menyukai olahraga karate sejak lama karena menurutnya karate sangat bagus untuk melatih anak disiplin dan bisa hidup sederhana.

”Anak-anak karate itu mempunyai disiplin tinggi. Kalau ada event di luar kota, meski tidak tidur di hotel mewah, mereka mau,” sahut Widjono. Dia lantas menceritakan, awal dirinya menjadi ketua umum Forki saat masih menjabat Sekda dan melakukan kunjungan, dirinya menjalin komunikasi dengan pelatih. 

“Sampai sekarang saat rapat pengurus pak Kwat selalu bilang sampai kapanpun Pak Widjono yang menjadi ketua umum. Saya tidak tahu kenapa,” ceritanya sambil tersenyum.

Lebih dari itu, dirinya juga sangat bangga dengan keberadaan pengurus karate yang lain. Karena untuk memajukan olahraga para pengurus sangat kompak.

Sehingga menghasilkan atlet berprestasi dan setiap tahun menggelar kejuaraan tingkat nasional. ”Alhamdullilah dengan kekompakan semua pengurus sekarang membuahkan hasil,” ungkap dia.

Terlebih lagi, untuk memajukan olahraga karate di Jombang. Dia pun ingin memasyarakatkan karate, sehingga di sekolah-sekolah sekarang sudah ada dojo atau sasana untuk berlatih, yang bisa melahirkan bibit atlet berprestasi.

”Saat di Sekda dulu saya ingin di sekolah ada latihan karate. Alhamdullilah sekarang sudah banyak sekolah-sekolah yang membuka ekstra karate,” pungkas Widjono. (yan)

(jo/yan/mar/JPR)

 TOP