alexametrics
Minggu, 20 Sep 2020
radarjombang
Home > Kota Santri
icon featured
Kota Santri

Mayoritas Sekolah di Jombang Tak Siap Pembelajaran Tatap Muka Terbatas

06 September 2020, 10: 02: 37 WIB | editor : Mardiansyah Triraharjo

ILUSTRASI: uji coba pembelajaran tatap muka terbatas.

ILUSTRASI: uji coba pembelajaran tatap muka terbatas. (ANGGI FRIDIANTO/JAWA POS RADAR JOMBANG)

Share this      

JOMBANG – Hari pertama pembelajaran tatap muka terbatas jenjang SMA/SMK di Kabupaten Jombang kemarin (4/9), masih banyak sekolah yang belum siap. Utamanya dalam  menyiapkan pelayanan pendidikan sesuai standar yang ditentukan.

”Memang mayoritas baru siap memulai hari Senin (7/9), karena masih menyiapkan sarana prasarana sesuai protokol kesehatan Covid-19,” ujar Kepala Cabang Dinas Pendidikan Jawa Timur Wilayah Kabupaten Jombang Trisilo Budi Prasetyo kepada Jawa Pos Radar Jombang.

Kendati pembelajaran praktik tatap muka di SMK sudah diperbolehkan sebagaimana SKB Empat Menteri, ternyata masih banyak sekolah yang belum siap. Khususnya SMK swasta. ”Informasi yang kami terima SMK yang sudah memulai SMKN 3 Jombang dan SMK PGRI 1 Jombang. Lainnya, rata-rata belum,” tambahnya.

Selain itu, berdasarkan pemantauan dan survei yang dilakukan, dari total 45 SMA baik negeri dan swasta di Jombang. Hanya 14 yang memenuhi kriteria dilakukannya pembelajaran tatap muka. Namun seluruhnya belum memulai uji coba tatap muka terbatas. ”Sisanya belum siap. Kalau belum siap maka belum kami izinkan,” papar dia.

Dijelaskan, ada 10 SMAN yang dinilai layak untuk memulai pembelajaran tatap muka terbatas. Diantaranya, SMAN 1, 2 dan 3 Jombang, SMAN Bareng, SMAN Ngoro, SMAN Plandaan, SMAN Bandarkedungmulyo, SMAN Kabuh, SMAN Mojoagung dan SMAN Jogoroto. Sisalnya masih perlu evaluasi. ”Sarana protokol kesehatan di 10 SMA itu sudah sesuai. Jadi punya juknis tentang protokol Covid-19 sendiri dan ada Satgas sendiri,” jelasnya.

Sementara untuk SMK, dari total 61 lembaga baik swasta maupun negeri, hanya 14 yang dinilai siap menyelanggarakan pembelajaran tatap muka praktik maupun materi dengan jumlah terbatas. ”Sedangkan 47 SMK lainnya belum siap. Beberapa diantaranya mau melakukan evaluasi, jadi kita tunggu sampai Senin,” tegas Trisilo.

Sebelumnya, Cabdin Jatim Wilayah Jombang mengajukan 18 sekolah untuk memulai pembelajaran tatap muka terbatas. Namun setelah dievaluasi, empat SMA tidak memenuhi persyaratan. Ini setelah empat sekolah itu tidak memenuhi protokol kesehatan pencegahan Covid-19. Meliputi SMA YPM 3 Sumobito, SMA Islam Sunan Ampel Diwek, SMA Miftahul Ulum Kesamben dan SMA Muhamadiyah 1 Jombang.

Disampaikan, syarat sekolah boleh membuka kegiatan pembelajaran tatap muka terbatas itu wajib menerapkan protokol kesehatan. Diantaranya, memiliki peralatan untuk perika suhu tubuh siswa ketika memasuki area sekolah, menyiapkan bilik disinfektan, memiliki petunjuk teknis sendiri mengenai protokol kesehatan serta ada tim gugus tugas Covid-19 sekolah yang standby di UKS.

”Kalau salah satu syarat itu tidak terpenuhi ya tidak bisa dilaksanakan,” pungkas dia. Trisilo memastikan tak semua dari 18 sekolah yang diajukan bisa melaksanakan pembelajaran tatap muka. Karena juga dipertimbangkan faktor kesehatan semua warga sekolah.

Zona Orange, Protokol Covid-19 Harus Ketat

SEMENTARA itu, Koordinator Bidang Pencegahan Gugas PP Agus Purnomo meminta sekolah baik SMA maupun SMK memperketat protokol kesehatan pencegahan Covid-19. Menyusul Kabupaten Jombang masih wilayah dengan zona orange.

Ia menyampaikan, usulan Cabang Dinas Pendidikan Jawa Timur Wilayah Jombang terkait uji coba pembelajaran tatap muka terbatas sudah diberi persetujuan dengan beberapa catatan. ”Jadi ibu bupati melalui surat sudah menyampaikan hasil usulan itu,” ujarnya kemarin malam.

Pertama, untuk jenjang SMK sesuai SKB Empat Menteri, kegiatan tatap muka praktik memang diperbolehkan. Bahkan, untuk zona merah atau orange tidak masalah. Asalkan, memerhatikan protokol kesehatan sesuai rekomendasi Kementerian Kesehatan. ”Untuk jenjang SMK memang diizinkan tanpa mengenal zona, namun dari Cabdin Jombang harus memastikan sekolah benar-benar siap melaksanakan tatap muka praktik,” tambahnya.

Sementara untuk jenjang SMA, lanjut Agus, disarankan menunggu perubahan zona daerah kuning. Hanya saja, jika Cabdin Wilayah Jombang tetap melaksanakan pembelajaran tatap muka terbatas, maka diwajibkan memperketat protokol kesehatan. ”Protokol kesehatan yang dimaksud mulai siswa masuk lingkungan sekolah, mengikuti pembelajaran hingga pulang, harus benar-benar diperhatikan. Yang paling utama pakai masker dan jaga jarak,” papar dia.

Disinggung mengenai tatap muka praktik jenjang SMK yang dimulai di beberapa sekolah kemarin, Agus mengaku belum memantau. Dia hanya menyebut, sesuai rekomendasi memang SMK diizinkan. ”Kita baru akan memantau Senin (7/9) bersama jajaran IDI dan Dinkes. Kita pantau mana-mana sekolah, khususnya jenjang SMA yang melaksanakan pembelajaran tatap muka,” tegasnya.

Terpisah, dr Sjarifudhin Ketua Satgas Penanganan Covid-19 IDI Jombang meminta Cabdin Pendidikan Jawa Timur Wilayah Jombang memberlakukan protokol kesehatan dengan ketat, khususnya jenjang SMK yang sudah memulai tatap muka praktik. “Memang ada revisi dari Kemendikbud yang membolehkan pembelajaran tatap muka praktik untuk SMK. Maka kami diskusi teknis tentang protokol kesehatan,” jelas dia.

Namun untuk jenjang SMA, pihaknya menyarankan agar mematuhi status zona sesuai SKB Empat Menteri dimana zona orange dan merah tetap melakukan pembelajaran di rumah. ”Bila Jombang sudah zona kuning atau hijau, uji coba pembelajaran tatap muka dapat diberlakukan dengan disiplin menerapkan protokol kesehatan,” pungkasnya.

(jo/ang/mar/JPR)

 TOP
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia