alexametrics
Minggu, 20 Sep 2020
radarjombang
Home > Hukum
icon featured
Hukum

Pil Koplo Kiriman Vina untuk Dijual Lagi ke Napi Lapas Jombang

02 September 2020, 14: 32: 03 WIB | editor : Mardiansyah Triraharjo

Barang bukti pil koplo dimasukkan buah salak yang akan di kirim ke lapas kelas IIB Jombang.

Barang bukti pil koplo dimasukkan buah salak yang akan di kirim ke lapas kelas IIB Jombang. (ACHMAD RW/JAWA POS RADAR JOMBANG)

Share this      

JOMBANG – Terbongkarnya jaringan peredaran pil koplo di lapas kelas IIB Jombang terus didalami polisi.  Kepada petugas, Vina, 33, dan Hermanto, 35, mengaku ribuan butir yang diselundupkan dalam buah salak sedianya akan diedarkan di dalam lapas.

”Dari pemeriksaan lanjutan yang kita lakukan kemarin, bahwa suaminya mengakui di dalam itu dijual lagi. Dijual ke para napi per 10 butir seharga Rp 30-50 ribu. Jadi keuntungannya itu memang agak menggiurkan, dari belinya seharga Rp 1 juta bisa dijual lagi hingga Rp 3 juta,” terang Kasatresbarkoba Polres Jombang AKP Moch Mukid.

Dia menambahkan, dari keterangan wanita asal Desa Kedungmlati, Kecamatan Kesamben, dia sudah dua kali menyelundupkan pil koplo. ”Caranya sama, mengelabui petugas dengan memasukkan pil koplo dalam buah salak,” bebernya.

Aksi pertama dilakukan  pada bulan Juli lalu sebanyak 900 butir. Ibu tiga anak ini mengirimkan barang haram itu ke suaminya, yang sudah dua tahun mendekam di penjara karena kasus sabu-sabu.

”Jumat kemarin kami konfrontir keduanya. Pasutri ini sudah mengakui bahwa sudah dua kali mengirim ke sana (Lapas Jombang, Red). Yang pertama lolos, mengirim sebanyak hampir 900 butir,” ungkap Kasatreskoba Polres Jombang AKP Moch Mukid kemarin.

Pengiriman ke dua dilakukan Vina pada Senin (24/8) gagal. Paket salak berisi pil koplo itu terendus petugas Lapas saat menggeledah barang bawaannya. ”Aksi kedua sebanyak 1.815 butir pil koplo gagal,” imbuhnya.

Dari keterangan pelaku dan suaminya, lanjut Mukid, ribuan pil koplo itu akan diedarkan di dalam Lapas. ”Begitu juga dengan kiriman yang pertama, juga diedarkan di dalam Lapas,” beber Mukid.

Tak tanggung-tanggung, di dalam lapas, Hermanto menjual pil koplo itu ke dalam Lapas dengan harga tinggi. Harga pil koplo yang biasanya seharga Rp 20 ribu setiap 10 butir, di dalam Lapas dijual hingga Rp 30-50 ribu setiap 10 butirnya.

”Artinya, harga pil koplo ketika dijual di dalam lapas naik hingga dua kali lipat. Pengakuannya dijual ke sesama napi,” bebernya.

Selain mendalami kasus, polisi masih berupaya mengejar pemasok pil koplo ke lapas yang dikirim melalui Vina. ”Kami terus mendalami kasus ini. Kebetulan kita sudah mengantongi nomor telepon yang saat ini masih nonaktif. Selanjutnya kita akan melakukan pelacakan terkait nomor tersebut,” pungkasnya.

Terpisah Kepala Lapas kelas IIB Jombang Mahendra Sulaksana belum bisa memberikan tanggapan terkait pengakuan salah satu napi menjalankan transaksi jual beli pil koplo di lapas. ”Mohon maaf saya masih ada rapat di Surabaya,” singkatnya kepada Jawa Pos Radar Jombang.

(jo/riz/mar/JPR)

 TOP
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia