alexametrics
Jumat, 25 Sep 2020
radarjombang
Home > Olahraga
icon featured
Olahraga

Saifudin, Arek Gudo Jombang, Kiper Terbaik Copa Indonesia 2009

01 September 2020, 12: 51: 24 WIB | editor : Mardiansyah Triraharjo

Saifudin dengan piala kiper terbaik Copa Indonesia Dji Sam Soe 2009 yang diraih bersama Deltras Sidoarjo.

Saifudin dengan piala kiper terbaik Copa Indonesia Dji Sam Soe 2009 yang diraih bersama Deltras Sidoarjo. (ACHMAD RW/JAWA POS RADAR JOMBANG)

Share this      

JOMBANG – Syaifudin, kelahiran Jombang 10 Juli 1978 ini adalah pemain sepakbola hebat yang pernah dimiliki Jombang. Prestasinya sebagai penjaga gawang cukup mentereng. Deretan klub di Indonesia pernah ia bela.

Prestasi tertingginya adalah gelar kiper terbaik Copa Indonesia Dji Sam Soe 2009 bersama Deltras Sidoarjo, yang saat itu menyabet posisi ketiga.

Perjalanan hidup Saifudin dimulai ketika berkenalan dengan sepakbola. Saat itu dirinya berusia 12 tahun. Masa kecilnya ia jalani di Desa Kademangan, Kecamatan Gudo, dalam pengasuhan sang nenek. Ketertarikannya pada sepakbola mulai timbul, karena sering melihat pertandingan.

“Kebetulan rumah nenek saya di Gudo itu dekat sama lapangan bola. Setiap sore ada yang latihan dan tiap tahun ada agenda kompetisi antar desa bulan Agustus. Saya itu kagum lihat penjaga gawang PS Gudo dulu, mainnya luar biasa,” ucapnya.

Ia lantas ikut sejumlah latihan di desanya sendiri. Bakatnya semakin terasah sebagai kiper, ketika dirinya masuk ke sebuah klub di Blimbing Gudo. “Saya masih ingat sekali, saat itu kelas 1 MTs,” kenangnya.

Di klub bernama PS Kijang Kencana Blimbing tersebut, dirinya bertemu dengan mantan pemain klub internal Persebaya yang kemudian melatihnya dasar-dasar posisi kiper.

“Saya dua tahun di klub itu sampai akhirnya masuk line up utama. Dalam waktu bersamaan, saya juga ikut seleksi masuk ke PSID Jombang dan diterima. Waktu itu saya sudah di akhir MTs dan mulai masuk sekolah STM,” lanjutnya.

Hingga 1999 membela PSID, dia sempat mendapat panggilan masuk tim PON Jatim meski berakhir dengan hasil kurang mulus. Di masa-masa ini, Saifudin masih harus keluar masuk sejumlah tim kasta rendah Divisi 1 (sekarang setara Liga 2), salah satunya Persedikab Kabupaten Kediri.

Semusim penuh dirinya masuk ke tim ini, meski tak sekalipun dimainkan. Hingga akhirnya ia harus keluar di akhir musim dan kembali dirumahkan.

“Tiga orang waktu itu dari Jombang, dan semua masuk dulu main di Divisi I. Tapi dari tiga orang itu cuma saya yang tidak merasakan main. Saya dicadangkan hampir semusim penuh, pakai kostum saja tidak pernah. Bahkan kalau sedang tour saya pulang,” kenang Saifudin diiringi tawa.

Nasibnya mulai berbalik usai dia dipanggil salah satu agen untuk mengikuti tes masuk Persibo Bojonegoro 2007 silam. Sempat menjalani serangkaian tes yang memakan waktu, Saifudin berhasil masuk ke squad utama dan menjalani musim pertamanya dengan mulus.

Tahun itu adalah era emas Persibo karena berhasil menjuarai Divisi 1, sekaligus berhak promosi Liga Indonesia Divisi Utama. Ikut membawa tim juara liga, Saifudin akhirnya merasakan nikmatnya jadi pemain bintang.

Tawaran datang silih berganti dari sejumlah klub. Dirinya lalu memutuskan bergabung dengan klub Deltras Sidoarjo. “Sejak ikut Persibo dan juara, bingung milih tawaran klub. Karena untuk masuk tidak perlu seleksi lagi,” lanjutnya.

Pilihannya ke Deltras tak meleset. Di musim pertama ia menyabet gelar kiper terbaik dalam Copa Indonesia 2009, meski klubnya hanya menempati juara tiga.

“Tentu itu sangat membanggakan, prestasi yang tidak akan pernah saya lupakan seumur hidup. Nama saya bisa sejajar dengan pemain nasional, bersama pelatih-pelatih besar. Kebanggaan yang tak ternilai harganya,” lontarnya bangga.

Usai menapaki puncak karier, di tahun-tahun berikutnya, Saifudin menyinggahi beberapa klub di Liga Indonesia lainnya. Sebut saja Persebaya di musim 2009, lalu 2011 kembali ke Persibo, dan 2012 ke Persiwa Wamena. Hingga pada 2013 ia masuk ke Arema Malang.

“Sampai 2014 itu saya mulai mengurangi jam bermain. Selain cedera lutut yang sering kambuh, saya juga merasa sudah saatnya gantung sepatu. Akhirnya benar-benar pensiun di tahun 2015,” ungkapnya.

Kini, bersama istri dan anaknya, Saifudin lebih memilih menjalani aktivitas kepelatihan beberapa klub di Jombang dan Mojokerto. “Setelah pensiun ini saya sempat membuka kolam ikan, jadi petani, dan sekarang buka toko. Intinya menikmati hasil kerja keras selama jadi pemain,” pungkasnya.

(jo/riz/mar/JPR)

 TOP