alexametrics
Senin, 21 Sep 2020
radarjombang
Home > Peristiwa
icon featured
Peristiwa

DLH Jombang Pasang Plang Larangan di Lokasi Galian Pasir Megaluh

29 Agustus 2020, 17: 09: 00 WIB | editor : Mardiansyah Triraharjo

Kegiatan penambangan pasir di bantaran sungai Brantas Megaluh yang dibubarkan warga.

Kegiatan penambangan pasir di bantaran sungai Brantas Megaluh yang dibubarkan warga. (ACHMAD RW/JAWA POS RADAR JOMBANG)

Share this      

JOMBANG – Sempat batal, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Jombang akhirnya mamasang plang larangan kegiatan penambangan pasir di bantaran sungai Brantas, Megaluh.

“Sudah kami pasang plang larangan di sekitar lokasi,” terang Kabid Konservasi Lingkungan DLH Jombang M Amin Kurniawan kepada Jawa Pos Radar Jombang.

Amin mengakui pihaknya sempat mengurungkan niat memasang plang larangan. Sebab perlu dipastikan kembali peta wilayah administrasi titik lokasi kegiatan galian. “Sudah kami sampaikan titik koordinatnya sekaligus lapor ke ibu bupati,” imbuhnya.

Selain dilakukan secara ilegal, jika aktivitas penambangan terus dibiarkan bisa mengancam tanggul. Karena material yang diambil masih di area Sungai Brantas yang merupakan lahan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS).

“Kami tidak hanya bicara tentang wilayah atau administrasi apakah Jombang atau Nganjuk. Yang jelas ini berpotensi terjadinya kerusakan lingkungan,” pungkas Amin.

Terpisah, Kades Megaluh M Zainudin Arif mengakui pemkab sudah memasang plang larangan aktivitas penambangan di lokasi tambang pasir yang sebelumnya didemo warga. “Jadi di situ sudah dipasang plang larangan dari lingkungan hidup (DLH, Red),” katanya.

Sebelumnya juga ada rencana pertemuan untuk membahas masalah ini. Namun batal dilaksanaan. “Sebenarnya Senin (24/8) itu mau ada pertemuan di kantor Bappeda. Bahas tentang klaim wilayah kemarin, tetapi kabar terakhir tadi ditunda. Karena apa, saya kurang tahu,” kata Zainudin.

Tidak hanya problem tambang pasir ilegal, dalam perjalanannya juga ada pihak yang mengklaim wilayah setempat masuk Kabupaten Nganjuk.

“Peta lama ini sudah benar, sudah sesuai sosialisasi dulu. Batas sungai itu jelas ada di tengah. Yang barat itu jelas ikut Nganjuk, sementara timur wilayah Jombang. Tetapi diklaim di timur ikut sana (Nganjuk, Red),” pungkas Zainudin.

Setengah Hektare Lahan Rusak

HASIL pendataan awal yang dilakukan DLH Jombang, luas lahan yang sudah digali mencapai sekitar setengah hektare. “Sudah diambil sekira setengah hektare atau 5.000 meter persegi,” terang Kabid Konservasi Lingkungan M Amin Kurniawan.

Karena pasirnya dikeruk, saat ini kondisi permukaan lahan sekitar sungai Brantas membentuk kubangan cukup dalam.

“Kalau secara terus menerus dikeruk, longsoran ini bisa cepat dan akan menggerus tanggul. Artinya dampaknya ini bisa ke dua desa yang berbeda. Jadi tidak hanya di Nganjuk, Jombang juga terdampak,” ungkap Amin.

Selain memasang plang larang menambang, pihaknya juga sudah melayangkan surat ke BBWS. “Tadi juga berkirim surat ke BBWS, nanti menunggu tindak lanjut dari BBWS seperti apa,” tegasnya.

(jo/riz/mar/JPR)

 TOP
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia