alexametrics
Jumat, 25 Sep 2020
radarjombang
Home > Olahraga
icon featured
Olahraga

Arifin, Arek Jombang yang Dua Tahun Membela Persebaya di Era Galatama

28 Agustus 2020, 16: 05: 16 WIB | editor : Mardiansyah Triraharjo

Arifin, arek Jombang yang pernah membela Persebaya Surabaya dan Petrokimia Gresik.

Arifin, arek Jombang yang pernah membela Persebaya Surabaya dan Petrokimia Gresik. (ACHMAD RIZA W/JAWA POS RADAR JOMBANG)

Share this      

JOMBANG – Ia adalah seorang pemain bola dan malang melintang di tim-tim besar. Arifin namanya. Lahir di Jombang 1972 silam. Persebaya Surabaya dan Petrokimia Gresik, adalah dua klub besar yang pernah dibela Arifin.

Rumahnya di Desa Banjarsari, Kecamatan Bandarkedungmulyo, Kabupaten Jombang. Ipin, sapaan akrabnya, bercerita banyak mengenai kegemarannya bermain bola sejak SD. “Dari kecil memang sudah suka olahraga. Tidak hanya sepak bola, sepak takraw, voli dan lainnya, juga suka dari dulu,” ucapnya kepada Jawa Pos Radar Jombang beberapa waktu lalu.

Meski menyukai hampir semua cabang olahraga, Ipin menyebut mulai SD dirinya fokus pada satu cabang olahraga saja. Hingga akhirnya mengerucut pada sepak bola. “Mulai SMP fokus penuh ke sepak bola,” sambungnya.

Selain bergabung di PSID Jombang, Ipin juga sering melakoni pertandingan antar kampung. Dibarengi menimba ilmu di bangku sekolah, Ipin mengakui pada masa itu kesibukannya bermain bola cukup menyita waktu. “Sering juga sekolah seminggu satu kali saja. Tapi selalu dapat izin, karena membawa nama baik sekolah juga,” lanjut bapak lima anak ini.

Bertahun-tahun menjadi punggawa PSID, lulus SMA ia memberanikan diri merantau ke Surabaya. Di sana, Ipin bertekad masuk Persebaya. Dua bulan ia berlatih penuh untuk bisa masuk klub idolanya itu. Setelah menjalani serangkaian seleksi, Ipin akhirnya bisa masuk skuad utama.

“Waktu itu saya seleksi bersama 200 orang. Saat itu saya satu-satunya dari Jombang. Di Persebaya saya dapat nomor punggung 7,” tambah Ipin. Ipin masuk skuad utama dengan menempati posisi bek. “Di persebaya saya masuk 1992 dan keluar 1994. Sempat sebelum keluar ikut tim Jatim Selection, waktu itu lawan AC Milan pas ke Indonesia,” lanjutnya.

Namanya juga pernah tercatat sebagai salah satu punggawa Timnas Indonesia dalam Piala Kemerdekaan VII 1994 lalu. “Waktu itu tim dibagi dua, tim garuda sama tim harimau. Saya di tim Harimau dan final melawan Thailand. Namun kalah di adu penalti,” kenangnya.

Lepas dari Persebaya, Ipin melanjutkan perjalanannya ke Petrokimia Gresik. Masuk dengan cukup mudah karena sudah dinilai pengalaman di Persebaya. “Delapan tahun saya di petro,” ucapnya.

Hingga awal 2000, Ipin yang saat itu mencoba wirausaha akhirnya memilih hengkang ke PSMP Mojokerto. “Cuma semusim di Mojokerto, setelah itu saya berhenti jadi pemain profesional dan akhirnya memulai kehidupan baru,” kenangnya lagi.

Jalan Hidupnya Berliku

IPIN memang sempat mencicipi manisnya popularitas sebagai pemain bola di klub besar. Namun di balik itu semua, terselip cerita sedih dari Ipin sewaktu kecil.

Ia lahir di keluarga ekonomi menengah ke bawah. Anak kelima dari tujuh bersaudara. Cobaan hidup yang besar ia alami saat remaja. Sang ayah meninggal dunia. Ibunya harus berusaha sendiri menafkahi anaknya.

“Rumah saya dulu atapnya daduk, temboknya juga masih gedeg (anyaman bambu),” kenangnya. Hal ini diakuinya berdampak langsung selama latihan hingga keberangkatan menuju Surabaya.

Sejak kecil ia mengaku mencari uang dari pertandingan tarkam. Meski sudah masuk squad PSID, saat itu tak ada gaji rutin yang ia terima.

“Uangnya ya dari tarkam itu. Kalau di PSID cuma ada uang transport saja setelah pertandingan. Waktu ke Surabaya dulu, juga ada yang menyumbang uang saku,” lanjutnya.

Saat pertama kali menginjakkan kaki di Surabaya, Ipin menyebut telah berjanji kepada dirinya sendiri. “Saya janji waktu itu, tidak akan pulang sebelum sukses dan mengangkat ekonomian keluarga,” sambungnya.

Gaji pun mulai ia terima ketika di Persebaya. Meski tak besar, gajinya perlahan mampu mengangkat ekonomi keluarga. “Awal di Persebaya dapat 300 ribu. Kalau tidak salah sama beras, mulai saat itu hidup saya bergerak,” lanjutnya.

Namun saat membela Petrokimia, Arifin sempat mengalami penurunan ekonomi cukup parah. Saat itu ia membuka home industri sepatu kulit di Mojokerto. Bisnisnya gagal, hingga terpaksa ia menjual beberapa barang berharga.

“Sawah dan mobil terjual gara-gara usaha sepatu. Kemudian saya berhenti dan memulai hidup kembali,” pungkasnya.

(jo/riz/mar/JPR)

 TOP