alexametrics
Jumat, 23 Apr 2021
radarjombang
Home > Tokoh
icon featured
Tokoh

Dhamarwulan dan Ceritanya Kalahkan Raja Blambangan Minak Jingga

25 Agustus 2020, 14: 57: 39 WIB | editor : Mardiansyah Triraharjo

Petilasan Dhamarwulan di Desa Sudimoro, Kecamatan Megaluh.

Petilasan Dhamarwulan di Desa Sudimoro, Kecamatan Megaluh. (ACHMAD RW/JAWA POS RADAR JOMBANG)

Share this      

JOMBANG – Cerita rakyat ini berkembang secara turun temurun di tengah kehidupan masyarakat Jombang. Dhamarwulan, seorang yang awalnya punya keterbatasan di awal hidup. Hingga akhirnya dengan kesaktian yang dimiliki, ia mampu mengalahkan salah satu raja tak terkalahkan dari kerajaan Blambangan bernama Minak Jingga.

Diyakini, Dhamarwulan sebenarnya dilahirkan di salah satu desa yang kini masuk di Kecamatan Plandaan. Desa tersebut  awalnya merupakan tempat bersemedi ayahanda Dhamarwulan yakni Maha Resi Maudoro.

“Dari cerita buyut-buyut saya dulu, Dhamarwulan lahirnya di Desa Mojogulung, yang sekarang jadi Desa Karangmojo, Kecamatan Plandaan,” ujar Ponijan, juru kunci situs Petilasan Dhamarwulan di Desa Sudimoro, Kecamatan Megaluh.

Baca juga: Mbah Pagon, Tokoh Cerita Rakyat yang Dipercaya Pembabat Alas Jombang

Resi Maudoro sendiri disebut salah satu patih di Kerajaan Majapahit ketika itu, namun terusir karena konflik dengan resi lain hingga harus bertapa. “Maudoro itu ayahnya, dulu dipercaya patih Raden Wijaya yang kemudian lengser dari tahta dan akhirnya melakukan pertapaan,” lanjutnya.

Karena beberapa hal, ketika beranjak anak-anak, Dhamarwulan beserta keluarga diboyong ayah dan ibunya yakni Maha Resi Maudoro dan Palupi. “Setelah berumur cukup diajak dan menetap di desa ini, lokasinya ya yang sekarang jadi petilasan itu. Disini diterima sama Ki Paluombo, petapa lain yang juga mendidiknya hingga beranjak remaja, rumahnya ya di padepokan yang ada kolamnya itu,” sambungnya.

Dalam pendidikan Paluombo, Dhamarwulan dibekali berbagai macam keterampilan baik bercocok tanam, tata krama kerajaan hingga ilmu kanuragan, untuk dipersiapkan kembali ke Kerajaan Majapahit.

Bahkan menurut Mbah Jan, sapaan akrabnya, bukti salah satu lokasi latihan keterampilan Dhamarwulan, masih bisa disaksikan hingga kini. Yakni di Dusun bernama Paritan yang terletak di sebelah barat petilasan tersebut.

“Paritan itu kan berasal dari kata arit, atau ngarit. Artinya dulu disitulah diyakini jadi tempat Dhamarwulan ngarit( Mencari Rumput, Red) untuk kuda yang ia punya,” sambungnya.

Hingga dirasa cukup umur dan kesaktian mencukupi, Paluombo akhirnya memperbolehkan Dhamarwulan untuk kembali ke Kerajaan Majapahit. Di waktu bersamaan, tengah ada sayembara dari Ratu Kencanawungu kala iu yang merasa terusik ulah Raja Blambangan Minak Jinggo.

Meskipun dalam beberapa cerita lain, disebutkan pula jika sebelum mengikuti sayembara sang Ratu. Dhamarwulan harus menghadapi berbagai rintangan dari kedua anak patih Logender. Pamannya sendiri yang saat itu menjabat di Majapahit dan tempatnya dititipkan. “Tapi yang jelas, bisanya Dhamarwulan menjadi raju adalah setelah mengalahkan Minak Jingga Raja Blambangan itu,” lanjutnnya.

Hingga kini situs yang diyakini merupakan salah satu peninggalan Dhamarwulan, bisa disaksikan di Jombang. Situs ini terletak di Desa Sudimoro, Kecamatan Megaluh, Kabupaten Jombang. Dalam situs yang berada di tengah sawah ini, terdapat dua kolam serta dua pohon besar beserta satu pendapa yang diyakini bekas peninggalan Dhamarwulan.

“Jadi  ada dua lokasi petilasan itu. Itu semua bukan makam, karena saat itu agama yang dianut masih agama Hindu dan dalam kepercayaan biasa dibakar dan dilarung, bukan dikubur,” paparnya.

Meski di banyak tempat diyakini ada makam hingga petilasan yang berhubungan dengan nama Dhamarwulan, dirinya mengaku tak heran. “Bisa saja ada dimana-mana, tapi yang jelas itu pasti bukan makam, ada peninggalan bekas Majapahit di setiap bangunan yang diyakini petilasan, dan harusnya dilindungi,” pungkasnya.

Akibat Minim Perhatian 

BERBEDA dengan beberapa prasasti dan situs cagar budaya lain di Jombang yang masih terawat. Nasib situs petilasan Dhamarwulan ini termasuk yang sempat rusak, meski beruntung tertolong. Namun, tetap saja bangunan dan beberapa barang kuno hilang karena dikeruk pemdes setempat dengan tujuan tak jelas tahun 2016 lalu.

Masuk ke situs ini, pengunjung akan melihat dua buah gapura besar ala kerajaan berwarna merah terang. Didalmnya, terdapat dua kolam dengan ukuran berbeda. Kolam di sebelah barat berukuran lebih besar, sedangkan sebelah timur lebih kecil. Terdapat pula dua pendapa dan dua petilasan yang lokasinya terpisah.

Suasana sekitar cukup panas. Tak ada pohon besar yang tumbuh di lokasi ini. Dua pohon yang berada di kolam besar dan petilasan Dhamarwulan nampak tak tumbuh maksimal. “Iya sekarang memang panas sekali, pohonnya hilang semua ditebang waktu dikeruk dulu, padahal dulunya enak sekali suasanya untuk berteduh,” ucap Lina, 24 salah satu pengunjung situs ini.

Warga asli Desa Sudimoro ini menyebut, semasa ia kecil lokasi petilasan sangat nyaman. Pohon yang tumbuh rindang, kolam yang selalu terisi air seringkali jadi pilihan tempat anak sekitar bermain. “Dulu itu sejuk, banyak pohonnya, yang unik kolam biasanya berwarna biru, jadi asyik kalau main dulu,” lanjutnya.

Selain itu, banyak kegiatan diselenggarakan. Seperti wayang kulit setiap tahun. “Wayangnya di selatan situ, dulu pendopo yang besar ini bentuknya rumah, tempat bermain karawitan. Setiap tahun ada, tapi sekarang kayaknya sudah tidak pernah lagi,” imbuhnya.

Ponijan, juru kunci situs ini pun mengakui hal tersebut. Meski kini revitalisasi sudah mulai dilaksanakan, bangunan seperti pendapa hingga petilasan dan kolam sudah diperbarui. Namun suasana rindang dan teduh yang dulu terasa, sudah hilang.

“Masih proses dibangun memang, beruntung ada orang dari luar kota yang malah peduli terhadap peninggalan budaya.  Tapi pohon-pohon yang dulu rindang tidak bisa kembali lagi,” ucapnya.

Dirinya menyebut, sejak dulu situs ini memang selalu luput dari perhatian pemerintah. Sejak dirinya menjadi juru kunci 17 tahun lalu, tak satupun bangunan dari pemkab. Seluruh bangunan yang ada merupakan sumbangan donatur dan semua berasal dari luar kota.

“Untuk yang sekarang ini dari Malang, yang dua petilasan itu yang bangun orang Bali, sementara yang dari Jombang mengeruk saja dulu membantua, itu pun makin rusak jadinya,” sindir dia.

Meski sudah ditetahui banyak ditemukan barang kuno yang berafiliasi dengan kerajaan Majapahit, namun hingga kini tak  ada perubahan berarti. Bahkan, beberapa kali petugas BPCB datang ke lokasi disebutnya juga tak membawa pengaruh signifikan.

“Ada yang datang dari pelestarian (BPCB, Red) beberapa kali, tapi ya masih menunggu sampai sekarang belum ada apa-apa lagi,” pungkas Ponijan.

Sejarah atau Cerita Rakyat?

MESKIPUN banyak orang meyakini betul sejarah kehidupan Dhamarwulan tersebut. Namun hingga kini statusnya juga masih simpang siur. Mengingat hasil penelitian sementara BPCB menyebutkan, tidak ada teks sejarah yang menyebutkan kisah hidup Raja Majapahit yang bernama Dhamarwulan.

Widodo, salah satu staf BPCB Mojokerto yang ikut dalam penelitian menyebutkan, keberadaan bukti sejarah berupa peninggalan Majapahit banyak ditemukan di lokasi. Ini bisa dilihat dari beberapa indikasi temuan di lapangan.

“Mulai dari struktur bata merah khas zaman Majapahit, keramik sampai patung terakota, ada memang di lokasi. Jadi kalau disebut sebagai peninggalan Majapahit kemungkinan besar iya,” jelasnya kepada Jawa Pos Radar Jombang.

Bahkan, pokja pemeliharaan BPCB lainnya menyebut status situs yang sempat dikeruk memang disebutnya sebagai objek diduga cagar cudaya. Meski demikian, sampai saat ini belum ada tahapan untuk situs tersebut menjadi salah satu objek cagar budaya.

“Memang belum jadi cagar budaya, masih memerlukan penelitian dan penetapan dari tim ahli, sehingga perlakuannya memang agak berbeda dengan yang sudah resmi jadi cagar budaya,” ucap Aris Sumarno, ketua pokja.

Meski demikian, status Dhamarwulan sendiri kemungkinan besar merupakan cerita rakyat biasa. “Tidak ada dalam catatan sejarah nama Dhamarwulan di struktur Kerajaan Majapahit, kalaupun dia benar raja, kan harusnya ada tulisan dalam beberapa prasasti, ini juga belum ditemukan sampai sekarang. Jadi, kemungkinan besar tokoh tersebut memang legenda saja untuk Minak Jinggo,” kembali Widodo menjelaskan.

Meski dalam petilasan tertulis jelas Dhamarwulan sebagai Prabu Brawijaya I, ia menyebut klaim tersebut wajar saja dilakukan masyarakat. Meski dalam sejarah resmi tidak tertulis. “Seperti yang kita tahu Prabu Brawijaya I itu Raden Wijaya, dan beberapa Bhre-Bhre yang lain juga tidak ada yang merujuk pada nama Dhamarwulan,” lanjutnya.

Terlebih, kasus klaim seperti ini tidak saja terjadi di Jombang. Di banyak tempat cerita tentang sosok Dhamarwulan hingga Minak Jingga memang banyak disebut. Sebagai cerita rakyat, dirinya menyebut sebagai hal yang wajar dan bahkan baik jika dilihat sebagai kearifan lokal yang terus diwariskan.

“Jangankan Dhamarwulan, seperti juga Gajahmada banyak yang klaim makamnya ada disini dan disana, tapi juga belum ada bukti. Karena jika kembali merunut sejarah, di jaman itu harusnya semua yang mati dikremasi dan abunya dilarung, karena Hindu. Artinya boleh saja masyarakat mengklaim, tapi tetap jika patokannya sejarah tertulis, nama Dhamarwulan belum tercatat,” pungkasnya.

(jo/riz/mar/JPR)

 TOP