alexametrics
Kamis, 01 Oct 2020
radarjombang
Home > Tokoh
icon featured
Tokoh

Mbah Sayid Sulaiman, Tokoh Penyebar Agama Islam di Pulau Jawa

25 Agustus 2020, 14: 54: 00 WIB | editor : Mardiansyah Triraharjo

Makam Mbah Sayid Sulaiman di Desa Betek, Kecamatan Mojoagung.

Makam Mbah Sayid Sulaiman di Desa Betek, Kecamatan Mojoagung. (DOK/JAWA POS RADAR JOMBANG)

Share this      

JOMBANG - Sayid Sulaiman bin Abdurrahman Ba Syaiban merupakan salah satu tokoh penyebar agama Islam di Jawa Timur. Sayid Sulaiman sendiri mewarisi keturunan leluhurnya dalam berdakwah.

Ayahnya merupakan seorang ulama dari Yaman dan Ibunya adalah putri dari Sunan Gunung Jati, Syarif Hidayatullah. Sayid Sulaiman sendiri lahir dan dibesarkan di Cirebon Jawa Barat.

”Mbah Sayid Sulaiman ini anak pertama dari tiga bersaudara. Adik Mbah Sayid Sulaiman yaitu Sayid Abdurrahim dan Sayid Abdul Karim,” ujar Mas Faqihuddin bin Muhajir Dresmo, keturunan ke-9 Sayid Sulaiman, yang tinggal di Dusun Rejoslamet, Desa Mancilan, Kecamatan Mojoagung, Kabupaten Jombang.

Kala itu, ketekunan dan pengaruhnya dalam berdakwah membuat penjajah Belanda cemas. Oleh karena itu, saat beranjak dewasa ia dibuang Belanda ke wilayah timur. Dia pun tinggal di Krapyak Pekalongan Jawa Tengah. Dari Pekalongan, dia melanjutkan dakwah hingga ke kota Solo.

Di Kota ini, dia dikenal sebagai orang yang sakti mandraguna. Sehingga mengundang rasa iri dari Sultan Mataram saat itu. Sang Sultan pun ingin membuktikan kesaktian Sayid Sulaiman.

”Mbah Sayid Sulaiman diminta untuk memeragakan pertunjukan yang tidak pernah diperagakan oleh siapa pun,” tuturnya. Sayid Sulaiman meminta kepada Sultan untuk meletakkan bambu di atas meja. Sedangkan Sayid Sulaiman, pergi berlalu ke arah timur.

Masyarakat sekitar keraton dan Sultan Mataram pun menunggu kedatangan Sayid Sulaiman cukup lama. Hilang kesabaran, Sang Sultan pun membanting bambu di atas meja hingga hancur berkeping-keping.

”Kepingan-kepingan tersebut kemudian berubah menjadi hewan berbagai jenis,” sambungnya. Sultan pun kaget dan akhirnya mengakui kesaktian Sayyid Sulaiman. Ia pun memerintahkan prajuritnya mencari Mbah Sayid Sulaiman.

Sedangkan hewan-hewan tersebut ditampung di dalam kebun binatang yang dinamakan Sriwedari. Hingga tahun1978, Sriwedari masih menjadi kebun binatang. Namun kemudian binatang-binatang ini akhirnya dipindahkan ke Kebun Binatang Satwataru.

Meninggalkan Solo, Mbah Sayid Sulaiman menuju Surabaya untuk mondok di Ampel. Saat nyantri di Ampel inilah dia akhirnya bertemu adiknya Sayid Abdurrahim. Selepas menimba ilmu di Surabaya, mereka pun menuju Pasuruan dan berguru kepada Mbah Sholeh Semendhi.

Hingga akhirnya mereka berdua dinikahkan dengan kedua putri gurunya sendiri. Dari pernikahan ini, lahirlah putra Mbah Sayyid Sulaiman bernama Ali Akbar.

Sayid Ali Akbar ini yang kemudian membuka lembaran emas keluarga besar Dresmo. Selain beristri putri Mbah Sholeh Semendhi, Sayid Sulaiman juga memiliki isteri dari Malang. Dari isteri keduanya, dia dikaruniai putra bernama Hazam.

Wafat di Desa Mancilan

SETELAH menikah, Sayid Sulaiman sempat kembali ke Cirebon tempat kelahirannya. Namun situasi di sana saat itu sedang ricuh lantaran pertikaian antara Sultan Ageng Tirtayasa dan putranya sendiri, Sultan Abdul Qohar. Hal ini terjadi lantaran putranya memihak Belanda.

Mengetahui situasi tersebut, Sayid Sulaiman memutuskan kembali ke Pasuruan dan menetap di Desa Gambiran. Dia pun mendirikan dua buah masjid unik dan masih bisa disaksikan hingga kini. ”Selain itu beliau juga membabat tanah Sidogiri yang masih berupa hutan belantara,” sambung Gus Faqih, sapaan akrabnya.

Konon, pembabatan hutan itu dilakukan selama 40 hari. Saat itu Sayid Sulaiman ditemani santrinya dari Pulau Bawean, Kiai Aminullah. Disana Sayid Sulaiman mendirikan pesantren yang kini dikenal dengan nama Pondok Pesantren Sidogiri.

Kabar ini kemudian terdengar hingga ke Keraton Solo (Mataram). Sayid Sulaiman pun diundang Sultan untuk hadir di keraton. Dia hendak diangkat menjadi hakim.

Atas undangan itu, Sayid Sulaiman meminta pertimbangan terlebih dahulu kepada isteri dan masyarakat Pasuruan. Namun akhirnya permintaan Sultan ditolak. Sebab, masyarakat Pasuruan tidak ingin kehilangan tokoh yang diseganinya tersebut.

Sekembalinya dari Solo, Mbah Sayid Sulaiman pamit kepada istrinya yang sedang hamil tua untuk pergi ke Ampel Surabaya. Kemudian dia melanjutkan perjalanan ke Jombang. Namun di tengah perjalanan, Sayid Sulaiman jatuh sakit hingga akhirnya wafat dan dimakamkan di Desa Mancilan, Kecamatan Mojoagung.

”Selama di Mojoagung Mbah Sulaiman berdoa kalau pertemuannya dengan Sultan Solo dianggap baik dan bermanfaat, maka beliau minta agar dipertemukan,” ucapnya.

Namun  jika tidak, beliau berdoa lebih baik wafat saat itu juga. Akhirnya Sayid Sulaiman tidak bertemu dengan Sultan Solo. Dia wafat dan dimakamkan di Dusun Rejoslamet, Desa Mancilan, Kecamatan Mojoagung, Kabupaten Jombang pada 17 Rabiul Awal 1193 H atau 24 Maret 1780 M. Meski berada di Desa Mancilan, masyarakat kerap menyebut kawasan ini makam Betek.

”Orang-orang sudah terbiasa menyebut Betek. Padahal Desa Betek berada di sisi utara. Kalau makam Mbah Sayid Sulaiman ada di Desa Mancilan,” tandasnya.

Ada CCTV Pengawas

MESKI telah meninggal ratusan tahun silam, keberadaan makam Mbah Sayid Sulaiman di Dusun Rejoslamet, Desa Mancilan, Kecamatan Mojoagung ini baru ditemukan sekitar satu abad lalu. Hal tersebut disampaikan Mas Faqihuddin bin Muhajir Dresmo, keturunan ke-9 Sayid Sulaiman.

”Keturunan Mbah Sayid Sulaiman tidak hanya di Indonesia tapi juga ada yang di Malaysia sampai Brunei. Ada silsilah keluarga dari atas sampai bawah,” ungkap Gus Faqih kepada Jawa Pos Radar Jombang. Keberadaan makam leluhur mereka ada semua, kecuali Mbah Sayid Sulaiman. Setelah seluruh keluarga dikumpulkan, mereka menelusuri jejak dan akhirnya menemukan fakta jika Mbah Sayid Sulaiman bin Abdurrahman Ba Syaiban dimakamkan di Dusun Rejoslamet, Desa Mancilan, Kecamatan Mojoagung.

”Makamnya memang jadi satu dengan pemakaman umum, ada pembangunan musala, lorong menuju makam dan sebagainya itu bangunan baru,” lontarnya. Selain itu, ada pula makam Mbah Alif yang hbiasanya dikunjungi lebih dulu, sebelum ke makam Mbah Sayid Sulaiman.

”Tata kramanya memang begitu, Mbah Alief ini kan tuan rumah. Itu sudah adat para peziarah,” sahut Kusnan, salah satu penjaga komplek makam.

Sayid Sulaiman memang telah mengenal ayah dan Mbah Raden Alief sendiri sehingga hubungan mereka sangat dekat. Bahkan saat sakit, Mbah Raden Alief inilah yang merawat Mbah Sayid Sulaiman. Kini Makam Mbah Sayid Sulaiman menjadi salah satu jujugan para peziarah yang berwisata religi.

Tak hanya dari Jombang, banyak rombongan peziarah yang berasal dari luar kota hingga luar negeri yang berkunjung. Selain mengaji, para peziarah juga datang silih berganti untuk istigosah dan tahlil bersama.

”Jumlah pengunjung ada ratusan bahkan ribuan setiap hari, jumlah ini akan melonjak pada waktu tertentu seperti jelang ujian nasional maupun bulan suci Ramadan,” tambahnya. Mereka dari berbagai kalangan, mulai anak-anak, remaja, dewasa hingga lansia baik laki-laki maupun perempuan.

”Pengunjung yang datang memang berbagai profesi mulai dari pelajar hingga pejabat. Bahkan ada juga orang luar negeri,” tuturnya.

Tak hanya pelajar madrasah, kini pelajar dari sekolah umum pun banyak yang berziarah. Mereka datang dengan hajat dan tujuan masing-masing seperti berharap lulus ujian, pekerjaan, kelancaran usaha, jodoh dan sebagainya. ”Setiap orang niatnya kan berbeda, namanya juga ikhtiar. Tapi memintanya tetap kepada Allah SWT,” tegasnya.

Untuk lebih memudahkan pengawasan, kini telah dipasang kamera CCTV di sekitar areal makam agar semuanya aman. Hal ini dilakukan sebab banyak peziarah yang kurang berhati-hati meletakkan barang bawaannya. Sehingga banyak laporan kehilangan, terutama saat ramai pengunjung hari Kamis, Jumat, Sabtu dan Minggu.

”Alhamdulillah kehilangan sudah berkurang baik sandal, tas, hp hingga dompet. Biasanya peziarah meletakkan sembarangan, harusnya dititipkan ke teman yang juga berziarah, tidak ditinggal begitu saja,” tandasnya.

Terkait mitos terkabulnya hajat, Mas Faqihuddin menegaskan jika hal itu kehendak Allah. Sebab Allah memberikan sesuatu itu bukan hanya karena meminta tapi juga keyakinan seseorang itu sendiri kepada Allah. ”Ziarah itu tidak apa-apa untuk menghormati leluhur yang sudah berjasa menyebarkan dan memperjuangkan agama Islam. Tapi kalau berlebihan bisa bahaya juga,” jelasnya.

Menurutnya, banyak peziarah yang lupa bahwa mendoakan orang tua masing-masing yang sudah meninggal juga utama. Sehingga berziarah itu tidak cuma ke makam para penyebar agama Islam, tapi harus didahului ke makam orang tua dan keluarga.

(jo/mar/mar/JPR)

 TOP