alexametrics
Rabu, 23 Jun 2021
radarjombang
Home > Tokoh
icon featured
Tokoh

KH Abdul Wahab Hasbullah, 20 Tahun Nyantri dari Pondok ke Pondok

24 Agustus 2020, 15: 17: 15 WIB | editor : Mardiansyah Triraharjo

KH Abdul Wahab Hasbullah

KH Abdul Wahab Hasbullah (ACHMAD RIZA W/JAWA POS RADAR JOMBANG)

Share this      

JOMBANG - Nama KH Abdul Wahab Hasbullah tentu sudah tak asing lagi untuk masyarakat pesantren di seluruh Indonesia, terlebih untuk masyarakat Jombang. Kiai yang juga dikenal sebagai penggerak sekaligus pendiri Nahdlatul Ulama (NU) bersama KH Hasyim Asy’ari ini adalah satu dari banyak sosok Pahlawan Nasional sekaligus kiai besar asli Jombang dengan pemikiran yang moderat.

Jiwanya yang haus ilmu membuatnya berkelana menimba ilmu ke banyak pondok pesantren di Indonesia, meski dirinya telah dianugerahi status sosial yang cukup tinggi sejak lahir.  

Dilahirkan di Desa Tambakrejo, Jombang pada Maret 1888 dan wafat pada 29 Desember 1971, Mbah Wahab begitu akrab disapa di kalangan santri Ponpes Bahrul Ulum, Tambak Beras bernama asli Abdul Wahab Hasbullah.

Baca juga: KH Bisri Syansuri, Ulama yang Haus Ilmu dan Teguh Pendirian

Makam KH Abdul Wahab Hasbullah di Tambak Beras, Jombang.

Makam KH Abdul Wahab Hasbullah di Tambak Beras, Jombang. (ACHMAD RIZA W/JAWA POS RADAR JOMBANG)

Terlahir dari pasangan Hasbullah dan Nyai Lathifah yang merupakan anak  Kiai Said yang juga seorang menantu dari KH Abdussalam atau yang kebih dikenal dengan Mbah Shoichah. Salah seorang Kiai besar pendiri Pondok Pesantren Gedang atau biasa dikenal dengan Pondok Selawe atau juga Pondok Telu.

Berdasarkan garis keturunannya, kakek Kiai Wahab Hasbullah yaitu Kiai Said adalah seorang kiai yang masih keturunan Sunan Pandan Arang Semarang yang jika diturut garis keturunannya akan bersambung kepada Siti Fatimah Binti Muhammad. Dan neneknya yang merupakan keturunan dari mbah Shoichah yang merupakan keturunan dari Jaka Tingkir (Mas Karebet) yang juga keturunan Prabu Brawijaya IV.

Sedangkan dari garis ibunya, Nyai Lathifah adalah salah satu keturunan Sunan Ampel. “Dengan itu maka darah ningrat memang mengalir deras di Mbah Wahab dari banyak jalur. Oleh karena itulah seringkali disematkan nama Raden di depan nama KH Abdul Wahab Hasbullah,” tulis Jamal Ghofir di bukunya Biografi Singkat Ulama Ahlussunnah Wal Jamaah pendiri dan penggerak NU.

Lahir dan besar di lingkungan pesantren membuat Mbah Wahab memang tumbuh dengan nilai dan karakter pesantren yang kuat. Bahkan di usianya yang masih 13 tahun, telah memulai pengembaraannya dari pesantren satu ke pesantren lainnya.

Selama 20 tahun lamanya, Mbah Wahab singgah dan belajar berbagai ilmu dari beberapa pondok pesantren antara lain Pesantren Langitan Tuban, Pesantren Mojosari Nganjuk, Pesantren Cepoko, Pesantren Tawangsari Sepanjang, Pondok Pesantren Kademangan Bangkalan, Pesantren Bangahan Kediri dan Pondok Pesantren Tebuireng Jombang.

Bahkan setelah puas menimba ilmu di Indonesia, beliau bermukim di Makkah untuk belajar ilmu kepada berbagai kiai ternama. Selama lima tahun bermukim, beliau belajar kepada KH Mahfudz at-Tarmisy Termas, KH Mukhtarom Banyumas, Syaikh Ahmad Khatib Minangkabau, Kiai Baqir Jogjakarta, Kiai Asy’ari Bawean, dan Syaikh Abdul Hamid Kudus.

Bahkan ada cerita unik tatkala beliau sedang menimba ilmu kepada Syaikhona Kholil Bangkalan. Sesampainya di Pondok Kademangan, beliau ditolak ketika mengutarakan keinginannya menimba ilmu kepad Kiai Kholil. Namun bukannya pulang, beliau malah tidur di bawah bedug masjid pondok tersebut. Mengetahui itu Kiai Kholil menyampaikan ada seekor macan yang sedang berdiam di pesantrennya.

Kontan saja santri Mbah Kholil kemudian berjaga dengan senjata dan siaga penuh. Namun belakangan diketahui bahwa yang dimaksud macan tersebut adalah KH A Wahab Hasbullah itu sendiri sehingga dirinya sempat dikepung oleh santri-santri Mbah Kholil.

Mbah Wahab juga sempat diusir KH Kholil tanpa alasan yang jelas, namun itu tentunya dalah cara atau pendidikan yang diberikan KH Kholil terhadap Mbah Wahab. Namun berkat keteguhan hatinya tersebut pun KH Kholil akhirnya menerimanya sebagai santri hingga kemudian menyuruhnya berguru ke Tebuireng kepada KH Hasyim Asy’ari.

Kisah-kisah tersebut menunjukkan meskipun derajat sosial KH Wahab Hasbullah sangat tinggi, namun tidak membuat  cepat berpuas diri. Terlahir di keturunan orang berada dan juga cendekiawan dan ulama membuatnya kian getol untuk menimba ilmu-ilmu lain di luar lingkungannya.

Ilmu-ilmu inilah nanti yang membuat beliau mampu menjadi orang yang arif dalam menganggapi berbagai isu di masyarakat. Mengingat beliau semanjak muda juga terkenal sebagai orang yang menyukai kelompok-kelompok diskusi dan mendiskusikan berbagai hal dengan kaca mata yang luas.

Pelajaran Besar Perlakuan Terhadap Keluarga

MESKI tergolong tokoh dengan banyak  jabatan di pundak dan super sibuk, sebut saja sebagai anggota DPR, Rais Aam NU dan DPA zaman orde lama dan lain sebagainya, namun Mbah Wahab dikenal keluarganya sebagai seorang ayah dan pemimpin keluarga tegas namun tetap hangat.

Pribadinya yang humoris serta moderat juga berpengaruh terhadap pendidikan dan pengajaran yang diberikan kepada anak-anaknya.

Seperti penuturan Hj Mundjidah Wahab, Bupati Jombang yang juga merupakan anak kandung dari KH Wahab Hasbullah ini. Bahwa seperti pemikiran Mbah Wahab yang moderat, membuat pengasuhan terhadap anak-anaknya juga menerapkan sistem yang tidak otoriter.

“Artinya semua anaknya diberikan keleluasaan untuk memilih mau jadi apa dan kepingin belajar apa. Pengajaran beliau memang sangat modern,” jelasnya mengenang sosok ayahanda tercintanya.

Meski Kiai Wahab Hasbullah lebih sering  tinggal di Jakarta semasa dirinya kecil, namun ia mengaku setiap bulan Ramadan, ayahandanya tak ragu untuk pulang dan mengajar kitab langsung kepada anak-anaknya juga santri di pondok pesntren yang ia pimpin.

“Kalau untuk anak-anaknya ya biasanya kitab Fathul Qarib (salah satu kitab fikih, Red), lha kalau khataman untuk santri ya kitab tafsir, biasanya setelah salat taraweh,” lanjutnya.

Dalam kesibukannya di Jakarta, Mbah Wahab seringkali juga mengajak anak-anaknya untuk datang ke rumah di Jakarta untuk diajak liburan bersama dan terkadang mengikuti beberapa kegiatan. “Waktu tujuh belasan zaman Pak Karno dulu  pernah diajak ke istana. Pernah juga saya diajak menyambut Presiden Yugoslavia, tentu waktu itu kita sangat senang,” sambung pengasuh PP Wahabiyyah 1 dan Ponpes putri Lathifiyah 2  Jombang ini.

Seringkali pula di waktu senggangnya, Mbah Wahab tak segan untuk bercanda lepas dengan anak-anaknya. “Kadang-kadang memang abah itu usil, jadi beliau tiba-tiba praktek pencaknya itu di depan saya dan saudara jelas saja kami lari-lari kemudian dikejar-kejar juga sama abah sambil tertawa-tawa,” kenangnya.

Namun pelajaran berharga yang diakui Bu Mun begitu dirinya disapa akrab adalah pelajaran tentang menghargai keluarga. “Sebelum hari raya biasanya abah bawa kain satu koper besar untuk dibagikan ke adik-adiknya  dan ponakannya, masing-masing dapat sesuai jumlah anggota keluarganya, itu kan menunjukkan kalau beliau tidak acuh sama keluarga besarnya,” sambungnya.

Mengingat waktu itu memang hampir seluruh saudara KH Wahab Hasbullah telah tiada dan meninggalkan anak dan istri. “Jadi buat beliau anak dan istri bisa belakangan, yang penting keluarga adik dan kakaknya aman dulu,”  lanjutnya.

Bu Mun juga menjelaskan bagimana pelajaran mengenai perlunya meletakkan kepentingan orang lain di atas kepentingan pribadi yang diajarkan Almaghfurllah KH Wahab Hasbullah. “Abah itu, kalau ada orang yang matur ingin anaknya dijadikan fungsional atau pejabat di lingkungan NU misalnya biasanya beliau akan mudah meng-iya-kan, tapi kalau untuk anak-anaknya dan keluarga sendiri beliau pasti katakan opo jare wong akeh mengko (apa kata orang banyak nantinya)”.

Dirinya mengaku sangat merekam memori tersebut dan dijadikan pedoman dalam hidupnya. “Yang pasti itu ajaran abah yang sangat saya ingat, untuk masalah jabatan, orang lain akan kita usahakan bantu. Tapi kalau keluarga sendiri ya nanti tunggu keputusan bersama,” lanjutnya.

Sikap-sikap seperti inilah yang diharapkan Hj. Mundjidah Wahab mampu diteladani semua pemimpin di negeri ini. Karena dengan nilai moral dan karakter seperti ini, maka nepotisme akan cenderung berkurang. “Ya walaupun kyai pejabat juga, beliau tak berubah jadi orang lain,pedoman hidup beliau tetap harus bisa bermanfaat untuk orang lain,” harapnya.

(jo/riz/mar/JPR)

 TOP