alexametrics
Jumat, 23 Apr 2021
radarjombang
Home > Tokoh
icon featured
Tokoh

KH Romly Tamim, Pengasuh ke-2 PP Darul Ulum Jombang yang Ahli Tasawuf

24 Agustus 2020, 14: 51: 58 WIB | editor : Mardiansyah Triraharjo

KH Romly Tamim

KH Romly Tamim (ACHMAD RIZA W/JAWA POS RADAR JOMBANG)

Share this      

JOMBANG – Satu lagi nama kiai besar yang juga lahir di Kabupaten Jombang. Ia adalah KH Romly Tamim, pengasuh ke-2 PP Darul Ulum Peterongan Jombang. Seorang ahli tasawuf yang juga al mursyid Thariqah Qodiriyah wa Nawsabandiyah hingga ahir hayatnya.

Lahir di Rejoso pada 1988 M, dan wafat 16 April tahun 1958 di usia 70 tahun. Sejak kecil putra ketiga dari KH Tamim Irsyad ini memang telah akrab dengan dunia pesantren. Ayahandanya yang ulama besar yang juga pendiri pondok pesantren Darul Ulum Jombang meski berasal dari Madura.

Praktis semenjak kecil hingga remaja, pendidikan agama diperolehnya langsung dari ayah serta dari kakak iparnya KH Cholil yang juga seorang ulama tasawuf dan merupakan al-mursyid dari thariqoh yang sama sebelum dijabat olehnya pasca KH Cholil wafat.

Baca juga: Verifikasi Penerima BSU Dilakukan Pusat, Pemkab Jombang Tak Terlibat

Makam KH Romly Tamim, di kompleks PP Darul Ulum Peterongan Jombang.

Makam KH Romly Tamim, di kompleks PP Darul Ulum Peterongan Jombang. (ACHMAD RIZA W/JAWA POS RADAR JOMBANG)

Besar di lingkungan pesantren, kiai Romly tetap belajar ke beberapa pesantren lain di Indonesia laiknya kiai besar lainnya. Seperti belajar kepada Syaikhona Kholil Bangkalan untuk kemudian belajar langsung dengan bimbingan Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari.

Lama berguru kepada Hadratussyaikh, KH Romly Tamim mendapat tempat spesial di mata sang guru. Pengabdiannya juga turut membantu Mbah Hasyim megajar di pesantren Tebuirang. Hadratussyaikh pun tak ragu untuk mengangkatnya menjadi bagian keluarga.

Hal ini dibuktikan dengan dinikahkannya beliau dengan putri KH Hasyim Asy’ari, yang bernama Nyai Azizah. Meski hingga ahir pernikahannya berujung perceraian dan kiai Romly kembali pulang ke Darul Ulum untuk meneruskan perjuangan sang ayah. Dengan keahlian khusus di bidang ilmu tasawuf.

Hal ini juga diakui oleh salah satu cucunya, KH M Afifudin Dimyati yang kini menjadi salah satu pengasuh pondok pesantren Darul Ulum. Gus Awis, begitu dirinya biasa disapa menggambarkan bagaimana kakeknya ini menjadi ulama tasawuf yang cukup berpengaruh dan disegani.

“Dari cerita abah (KH Dimyati Romly, Red) dulu kalau ada murid yang akan berguru kepada mbah hasyim pasti ditanyai mau belajar apa. Kalau mau belajar hadits pasti tetap di Tebuirang, kalau mau mendalami fiqh biasanya akan diarahkan kepada Mbah Bisri di Denanyar, kalau mau belajar Tasawuf diarahkan ke Mbah Romly,” jelasnya menirukan perkataan sang abah.

Selain dikenal sebagai kiai yang ahli dalam ilmu tasawuf, KH Romly Tamim juga dikenal sebagai orang yang dermawan juga rendah hati. Banyak cerita yang menggambarkan bagaimana beliau gemar memberikan santunan kepada warga di sekitar pesantren.

“Beliau itu orang yang sangat istiqomah dalam ibadah, misalnya setiap hasib salat subuh beliau tidak akan keluar dari masjid sampai nanti selesai salat duha, namun ketika hari jum’at beliau punya rutinitas untuk keluar setelah salat subuh untuk berjalan keliling kampung dan membagikan sedekah langsung kepada warga sekitar. Padahal kalau umpama mau beliau bisa menyuruh orang,” ceritanya.

Hal ini menunjukkan nilai bagaimana seorang kiai memang seharusnya tetap membumi. Setinggi apapun derajat seseorang, KH Romly Tamim menunjukkan bagaimana dirinya tetap mau menyapa dan turun langsung ke masyarakat untuk menengok langsung kondisi masyarakat.

Sikap rendah hati seperti ini yang seharusnya bisa dijadikan teladan untuk semua, bahwa status maupun derajat sosial seharusnya tidak membatasi seseorang untuk tetap mau membumi dan peduli terhadap sesama, kecuali ridha Allah semata.

Pelajaran Menghargai Tamu

MESKI status KH Romly Tamim adalah seorang Al-Mursyid dari Jamiyah Thariqat Qodiriyyah wa Naqsabandiyah, namun perilakunya mencerminkan seorang ulama sejati yang tak membeda-bedakan status sosial tamu yang berkunjung ke rumahnya.

Lagi, sebuah cerita yang disampaikan salah satu cucunya menggambarkan bahwa kiai Romyl mampu tetap memberikan hak yang sama sebagai tamu dirumahnya, apapun status sosialnya. “Beliau pernah menerima tamu seorang bupati dan seorang peternak sapi dalam satu waktu dan satu tempat dengan sajian yang sama,” terang Gus Awis.

Akhlak semacam ini tentu sulit ditemukan pada saat ini. “Ajaran itu juga yang terus kami jaga dan berusaha kami wujudkan hingga saat ini, namun tentunya sangat sulit,” imbuhnya. Dia juga menceritakan akhlak semacam itu berusaha diturunkan kepada semua keturunan dengan caranya sendiri.

“Seperti kalau ada tamu ulama, beliau akan selalu mengumpulkan pula anak-anaknya,” paparnya.

Setelah semua anak-anak beliau berkumpul maka dimulailah prosesi salaman dan sungkem kepada kiai tersebut. “Bahkan nantinya air minum kiai yang datang itu tidak boleh dihabiskan karena untuk diminum anaknya nanti, ini wujud ngalap berkah kiai,” jelasnya.

Hal tersebut dipandangnya sebagai upaya mengajari anak-anaknya untuk tetap bersikap santun kepada orang lain. Khususnya ulama karena tawadhu dan tidak su’ul adab kepada ulama. 

Banyak juga cerita lain yang menggambarkan bagaimana kiai Romly Tamim sebagai ulama lawas yang juga sarat ilmu karomah dan kesaktian tersendiri.

“Misalnya ketika ada tamu dari anggota Thariqat, biasanya akan dijamu beliau sendiri di pendopo, untuk menjamu ribuan tamu itu beliau hanya perlu satu teko kecil untuk mengisi semua minuman hadirin dan kayaknya airnya nggak habis-habis,” jelasnya.

Karomah lain ditunjukkannya ketika perjuangan melawan penjajah Belanda. “Biasanya santri yang mau turun berjuang melawan penjajah diberi tanah yang sudah dibacakan doa, itu kalau dilemparkan ke arah musuh bisa jadi kayak bom,” sebutnya.

Bahkan di suatu kisah kiai Romly dikatakan mampu berada di dua tempat sekaligus. Saat dirinya ditahan tentara Belanda, namun disaat yang sama, manakala jamaah salat dilakukan di masjid, kiai Romly Tamim tetap bertindak sebagai imam.

Hal tersebut di era sekarang terlihat diluar nalar. Tapi kenyataan itulah yang terjadi pada banyak ulama kuno yang benar-benar mampu menjadi ulama dan juga pemimpin bagi banyak masyarakat. Tak hanya sebagai pimpinan agama, mereka juga seringkali dibekali dengan kemampuan dan kesaktian untuk menjaga keamanan umat dan santri.

Mursyid Thariqat, Penggagas Istigosah

KH Romly Tamim adalah satu dari rentetan generasi penerus Pondok Pesantren Darul Ulum yang mendapat gelar Al-Mursyid Thariqah Qadiriyah wa Naqsabandiyah. Tentu hal itu bukan hal yang mudah.

Ia tetap menunjukkan ketekunannya dan mampu mengembangkan dengan baik jamiyah ini hingga sekarang.

Di masa itu jumlah pengikut thariqat terus meningkat bahkan hingganasional. Tak hanya Jatim, pengikutnya telah merambah hingga penjuru nusantara, baik dari Jawa, Sumatera, Kalimantan bahkan Sulawesi.

“Kegiatan thariqatnya sendiri masih berlangsung hingga kini yaitu setiap malam 11 Muharam, malam 11 Rabi’ul Akhir dan malam 15 Syakban dalam penanggalan bulan Hijriyah,” jelas Gus Awis.

Kegiatan ini tetap berlangsung tiga kali setiap tahun dan pengikutnya juga berasal dari berbagai penjuru di Indonesia. Hingga kini tampuk kepemimpinan thariqat masih terjaga dengan baik dengan putranya yang telah menjadi Al Mursyid, seperti putra terakhir yaitu Al Mursyid KH Tamim Romly.

Ia pun menyadari bahwa tak semua masyarakat, bisa menjalankan Thariqat dan amalannya yang cenderung berat. Kiai Romly meninggalkan sebuah warisan yang cukup dikenal hingga kini yaitu bacaan istigosah. Ya, bacaan yang kerap dibaca di kalangan jamiyah Islam tradisional itu buah karya otentik dari KH Romly Tamim berdasarkan tirakatnya.

“Karena sebenarnya bacaan istigosah itu memang buat umu, bukan di thariqat,”  terang KH Afifudin Dimyati. Ia menambahkan, banyak cerita terkait lahirnya bacaan istigosah ini.

Hanya saja, cerita yang paling bisa dipertanggung jawabkan adalah cerita saat KH Romly sedang tirakat dan dalam kondisi telah masuh sepenuhnya ke dalam ketenangan, beliau berucap dan memerintahkan muridnya untuk menulis.

“Ceritanya adalah ketika Mbah Romly sedang tirakat dan sedang dalam kondisi telah masuk sepenuhnya, beliau biasanya akan berdzikir dan muridnya yaitu KH Usman Al-Ishaqi dari surabaya,” lanjutnya.

Meski telah ditulis dan diamalkan sejak lama bacaan ini memang mulai menasional saat dibacakan oleh KH Imron Hamzah, yang notabene adalah murid langsung KH Romly Tamim dan alumni santri PP Darul Ulum. “Dari dulu hingga kini, amalan istigosah ini tetap dijalankan di PPDU setiap selesai salat subuh,” imbuhnya. Bahkan dalam beberapa keterangan yang ia dengar, bacaan istigosah ini memang bermanfaat dalam bacaan.

Meski yang lebih menonjol adalah nada pada pengucapan. “Memang banyak lagunya, tapi kalau yang masih asli ya itu yang dipertahankan hingga kini di Darul Ulum, katanya memang dari nada pengucapannya juga berpengaruh pada khasiatnya sendiri,tapi bukan berarti kalau lagunya beda jadi tidak berkhasiat ya tentu tidak,” tutupnya.

Sebagaimana peribahasa ’Harimau mati meninggalkan belang, gajah mati meninggalkan gading’ menunjukkan bahwa ajaran dan peninggalan KH Romly Tamim, baik thariqat maupun bacaan istigosah hingga kini masih tetap ada. Memang diakui sebagai sebuah kebudayaan yang arif. Dengan kata lain, hal ini sebuah bukti bahwa sesuatu yang dilakukan dengan ikhlas dan tanpa pamrih akan tetap bisa bertahan.

(jo/riz/mar/JPR)

 TOP