alexametrics
Minggu, 20 Sep 2020
radarjombang
Home > Jombang Banget
icon featured
Jombang Banget

Bulan Suro, Jasa Cuci Pusaka di Mojoagung Kebanjiran Order

23 Agustus 2020, 07: 18: 18 WIB | editor : Mardiansyah Triraharjo

Sudahri, 51, pemilik usaha jasa waringi (cuci pusaka, Red) di pasar PDS (belakang Terminal Mojoagung) misalnya, mengaku cukup banyak pesanan benda pusaka yang dicuci. Tidak hanya keris dan tombak, sejumlah benda pusaka lain juga turut dibersihkan.

Sudahri, 51, pemilik usaha jasa waringi (cuci pusaka, Red) di pasar PDS (belakang Terminal Mojoagung) misalnya, mengaku cukup banyak pesanan benda pusaka yang dicuci. Tidak hanya keris dan tombak, sejumlah benda pusaka lain juga turut dibersihkan. (ACHMAD RW/JAWA POS RADAR JOMBANG)

Share this      

JOMBANG – Memasuki tahun baru Islam atau biasa disebut bulan suro, jasa pencucian pusaka di Jombang ramai permintaan. Dalam sehari, berkah dari jasa pencucian pusaka ini mendapat keuntungan cukup banyak hingga jutaan rupiah. 

Sudahri, 51, pemilik usaha jasa waringi (cuci pusaka, Red) di pasar PDS (belakang Terminal Mojoagung) misalnya, mengaku cukup banyak pesanan benda pusaka yang dicuci. Tidak hanya keris dan tombak, sejumlah benda pusaka lain juga turut dibersihkan.

“Kalau suro memang permintaan membersihkan pusaka melonjak, kalau hari biasa 10, sekarang bisa sampai 50,” ucapnya saat ditemui di lapaknya di Terminal Mojoagung, kemarin.

Bulan suro disebut memang membawa berkah tersendiri baginya. Banyak kolektor benda antik sengaja datang ke lapaknya untuk menyucikan pusaka.

“Kalau di pasar ini tinggal saya yang kerja begini,” lontarnya. Untuk pesanan pusaka yang datang, tak hanya dari Jombang. Puluhan keris dan tombak juga datang dari banyak daerah seperti Surabaya, Mojokerto dan beberapa tempat lain.

Ia menjelaskan, proses pencuciannya dimulai dengan pembersihan pusaka dengan air bersih. Kemudian, pusaka digosok dengan larutan dari sari jeruk nipis dengan dicampur sabun colek. Kemudian berlanjut pada perendaman pusaka dengan air kelapa. Barulah pusaka dijemur untuk dikeringkan.

Proses akhir, keris baru akan di-waringi­ dengan perendaman larutan khusus racikannya sendiri. Racikan ini disebutnya turun-temurun di keluarganya. “Tujuannya agar pamor (gambar) dan slorok (warna meteor) yang terdapat pada bilah pusaka muncul kontras dengan warna bilahnya, biar tidak mudah berkarat juga," ungkap Sudahri.

Dalam sehari, ia bisa mencuci hingga 50 pusaka. Sementara untuk harganya berkisar antara Rp 50 ribu sampai Rp 150 ribu  setiap pusaka.

“Kalau harganya bergantung besar kecilnya pusaka,” pungkas pria yang bertempat tinggal di Desa Miagan, Kecamatan Mojoagung ini.

(jo/riz/mar/JPR)

 TOP
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia