alexametrics
Selasa, 22 Jun 2021
radarjombang
Home > Tokoh
icon featured
Tokoh
Edisi Khusus Hari Kemerdekaan

Tiga Pahlawan Nasional dari Jombang (1); KHM Hasyim Asy’ari

17 Agustus 2020, 08: 02: 07 WIB | editor : Mardiansyah Triraharjo

Arsip foto yang memperlihatkan KHM Hasyim Asy’ari sedang berbicara dengan perwira tinggi militer Jepang.

Arsip foto yang memperlihatkan KHM Hasyim Asy’ari sedang berbicara dengan perwira tinggi militer Jepang. (Istimewa)

Share this      

HUT Kemerdekaan Indonesia dimeriahkan Jawa Pos Radar Jombang dengan menyajikan edisi khusus, berisi tentang kilas balik perjuangan tiga tokoh besar asal Jombang yang menyandang gelar pahlawan nasional, masing-masing KH M Hasyim Asy’ari, dan KH A Wahid Hasyim dan KHA Wahab Chasbullah.

Selain itu, KH Bisri Syansuri saat ini juga tengah dalam proses pengusulan gelar pahlawan nasional.

Di Jawa Timur sendiri, sampai dengan 2019 terdapat 26 nama Pahlawan Nasional. Terbanyak kedua setelah Jawa Tengah. Sedangkan Jombang menjadi salah satu di antara sedikit daerah yang mempunyai tiga Pahlawan Nasional sekaligus.

Baca juga: Agustus Tambah 105 Positif Baru, Jombang Belum Merdeka dari Covid-19

Penetapan KH A Wahid Hasyim sebagai Pahlawan Nasional, dilakukan 24 Agustus 1964 berdasar Keppres Nomor 206 Tahun 1964. Kemudian KHM Hasyim Asy’ari ditetapkan Pahlawan Nasional pada 17 November 1964, berdasar Keppres Nomor 294 Tahun 1964. Terakhir, KHA Wahab Chasbullah ditetapkan Pahlawan Nasional pada 6 November 2014, berdasar Keppres Nomor 115/TK/2014.

KHM Hasyim Asy’ari; Ulama Besar, Pendiri Nahdlatul Ulama

JOMBANG - Salah satu ulama sekaligus tokoh besar yang dimiliki Jombang adalah KHM Hasyim Asy’ari. Ia adalah pendiri Pesantren Tebuireng, serta pendiri organisasi  Nahdlatul Ulama (NU). Sebagai seorang ulama, pemimpin, juga Pahlawan Nasional, kiprahnya di dunia agama, kepesantrenan serta pembangunan negara tidak diragukan lagi. Sumbangsihnya untuk kepentingan bangsa dan umat begitu luar biasa.  

Kiai kelahiran Jombang ini semenjak muda adalah seorang pencari ilmu yang sangat giat. Puluhan pesantren didatanginya untuk mencari ilmu baik di dalam maupun luar negeri. Antara lain Pesantren Wonokoyo Probolinggo, Pesantren Langitan Tuban, Pesantren Tenggilis, Pesantren Kademangan Bangkalan, Pesantren Siwalan Panji.

Almarhum KH Salahudin Wahid (Gus Sholah) semasa hidup pernah bercerita, Mbah Hasyim belajar langsung ke Makkah selama 7 tahun di bawah asuhan Syekh Makhfudz Tremas, Syekh Nawawi Banten, Syekh Ahmad Khatib Minangkabau. Tak heran jika Mbah Hasyim berhasil mendidik dan mencetak ulama besar dan tokoh yang berpengaruh lain.

“Banyak tokoh nasional yang juga murid beliau, seperti KH Wahab Chasbullah, KH Bisri Syansuri, juga banyak kiai besar yang lain, selain juga murid-murid tidak langsung beliau yang kini menjadi tokoh nasional dan ikut membangun bangsa,” tutur Gus Sholah, saat itu. Dengan banyaknya kiai serta tokoh besar yang lahir dari tangan dinginnya, beliau diberi gelar Hadratus-Syekh yang berarti maha guru.

Dalam kiprahnya mewujudkan kemerdekaan Indonesia, peran Mbah Hasyim bisa dikatakan sangat penting. Berkobarnya semangat santri dan pemuda Islam Indonesia maju berjuang melawan penjajah Belanda melalui seruan jihadnya, telah membuktikan kepeduliannya terhadap Indonesia yang harus merdeka agar Islam bisa tetap tegak di bumi Nusantara. 

Tentu risiko dianggap sebagai pembangkang negara bahkan risiko dipenjara jadi bumbu dalam perjalanan seruan jihadnya. Beliau bahkan sempat di penjara selama tiga tahun di masa pendudukan Jepang karena menolak melakukan Seikerei (menunduk menghadap Jepang tiap pagi untuk menghormati Kaisar jepang dan Dewa Matahari).

Kiprah KH Wahid Hasyim menjadi menteri agama pertama Indonesia, juga tak lepas dari pengaruh Mbah Hasyim. Gus Sholah bercerita, KH Wahid Hasyim sebenarnya adalah pengganti posisi Mbah Hasyim di pemerintahan. Sebab Mbah Hasyim tidak bisa meninggalkan Tebuireng, dan tidak bisa berlama-lama menetap di Jakarta.

Proses Mbah Hasyim mengembangkan Tebuireng juga tak mudah. Gus Sholah dalam bukunya “Mengenal Lebih Dekat KHM Hasyim Asy’ari” menggambarkan, pendirian Pesantren Tebuireng memerlukan proses panjang dan berliku. Kawasan Tebuireng yang dulunya dalah sarang maksiat karena lokasinya yang dekat dengan Pabrik Gula Tjoekir sehingga biasa dijadikan para pekerja berfoya-foya oleh pekerja pabrik setelah menerima gaji merupakan tantangan tersendiri.

“Hadratussyekh harus mendatangkan pendekar dari Cirebon untuk mengajari santri ilmu kanuragan untuk bertahan menghadapi preman-preman kala itu,” tulis Sus Sholah di bukunya.

Mbah Hasyim tercatat memiliki beberapa kali pernikahan yang kesemuanya dengan putri ulama ternama. Istri pertama belau Nyai Hj Khadijah putri Kyai Ya’qub pengasuh Pesantren Siwalan Sidoarjo adalah istri yang mendampinginya hingga meninggal saat menemani Hadratussyekh belajar di Makkah, dari pernikahan pertamanya ini beliau dikaruniai putra yang juga meninggal di Makkah. 

Setelah pulang ke Indonesia pasca meninggalnya Nyai Hj Khadijah, Mbah Hasyim kembali menikah dengan Nyai Nafiqoh, yaitu putri dari Kiai Ilyas, pengasuh Pesantren Sewulan Madiun. Dari pernikahan ini beliau dikaruniai 10 orang anak, namun Nyai Nafiqah yang meninggal dunia di akhir dekade 1920-an.

“Kepada anak dan santrinya, Mbah Hasyim sudah menanamkan nilai-nilai kebangsaan. Bahkan jauh sebelum kemerdekaan, beliau sudah mewajibkan santri menyanyikan lagu Indonesia Raya,” ungkap KH Muhammad Irfan Yusuf, cicit Mbah Hasyim, kemarin (16/8).

Selepas itu, Mbah Hasyim kembali menikah Nyai Masruroh, putri Kiai Hasan, pengasuh Pondok Pesantren Kapurejo, Pagu, Kediri, Jawa Timur. Dari pernikahan ini, Kiai Hasyim Asy’ari dikaruniai empat orang  anak. Mbah Hasyim ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional lewat Keputusan Presiden RI Nomor 294 Tahun 1964 tanggal 17 November 1964. Tak sembarang orang mampu memperoleh gelar tersebut.

(jo/riz/mar/mar/JPR)

 TOP