alexametrics
Jumat, 25 Sep 2020
radarjombang
Home > Kota Santri
icon featured
Kota Santri

Uji Coba Pembelajaran Tatap Muka di Jombang Hanya Dua Sekolah

14 Agustus 2020, 08: 17: 00 WIB | editor : Mardiansyah Triraharjo

ILUSTRASI: siswa SMAN 3 Jombang di cek suhu tubuhnya sebelum masuk sekolah.

ILUSTRASI: siswa SMAN 3 Jombang di cek suhu tubuhnya sebelum masuk sekolah. (Dok Jawa Pos Radar Jombang)

Share this      

JOMBANG - Uji coba pembelajaran tatap muka diizinkan Bupati Mundjidah Wahab. Hanya saja, tahap pertama uji coba ini akan dilakukan di dua sekolah saja. Yaitu SMAN 3 Jombang dan SMKN Kudu. Pertimbangannya, karena masih ada temuan kasus positif di Jombang. 

“Hari ini kita menerima presentasi terkait uji coba pembelajaran tatap muka,” ungkapnya. Ia mengizinkan uji coba pembelajaran tatap muka tersebut mengingat Jombang sudah bergeser ke zona orange. Dengan catatan menerapkan protokol kesehatan secara ketat agar tidak memunculkan klaster sekolah.

“Tadi saya lihat gambaran melalui video semua sudah dilakukan sangat ketat, mudah-mudahan tidak sampai ada kasus baru lagi terutama di lingkungan sekolah,” tambah Mundjidah.

Ia menilai, aturan yang disampaikan sangat ketat. Mulai dari kewajiban siswa membawa bekal sendiri karena memang tidak diperbolehkan jajan di luar. Setelah pembelajaran selesai, siswa harus segera pulang atau tidak boleh mampir. Tidak ada jam istirahat. “Tadi simulainya sangat jelas, mulai dari siswa di rumah datang ke sekolah sampai pulang lagi,” ungkap bupati.

Adapun tahap awal uji coba ini hanya dua sekolah yang ditunjuk, yaitu SMAN 3 Jombang dan SMKN Kudu. Mekanisme yang diterapkan dua minggu setelah masuk, akan dilakukan evaluasi. Selama uji coba di dua sekolah itu aman, bukan tidak mungkin nanti pembelajaran tatap muka akan ditambah sekolah lain.

Sementara, Trisilo Budi Prasetyo Kepala Cabang Dinas Pendidikan Jawa Timur Wilayah Kabupaten Jombang menjelaskan, Jombang yang statusnya zona orange diperbolehkan melakukan uji coba pembelajaran tatap muka hanya dengan kuota 25 persen. Dalam satu kelas diperkirakan hanya 9-10 siswa. “Berbeda di zona kuning dan hijau diperbolehkan 50 persen masuk sekolah,” tambahnya.

Sisanya, siswa belajar di rumah menggunakan proyektor yang terpasang di masing-masing kelas. Sehingga siswa lain yang tidak didatangkan ke sekolah, juga bisa ikut pembelajaran di rumah masing-masing. Ia menyebut, tahap awal uji coba memang hanya dua sekolah yang ditunjuk, yaitu SMAN 3 Jombang dan SMKN Kudu.

“Dua minggu setelah masuk, akan dilakukan evaluasi. Jika hasilnya bagus, dan ketua Gugas PP Covid-19 Jombang mengizinkan, maka jumlah sekolah yang melakukan uji coba akan ditambah,” pungkas dia. Untuk diketahui, saat ini terdapat 12 SMA negeri dan 8 SMK negeri yang tersebar di Kabupaten Jombang. Jumlah siswa per kelas rata-rata 35 siswa, baik siswa kelas X, XI dan kelas XII.

Dihubungi terpisah, Kepala SMAN 3 Jombang Singgih Susanto mengaku siap laksanakan pembelajaran tatap muka yang dimulai 18 Agustus. Sejumlah persiapan sudah dilakukan jauh hari, sejak sebelum tahun ajaran baru 2020/2021 dimulai.  Sesuai petunjuk, sekolah yang berada di zona orange seperti Jombang, hanya menghadirkan 25 persen siswa.

“Nanti sistemnya giliran. Antara 8-10 siswa per kelas dalam satu waktu kegiatan belajar. Sebab per kelas ada 38 siswa,” lanjutnya. Dia juga sudah menjadwal sebanyak empat mata pelajaran setiap hari. Durasinya hanya 45 menit setiap mata pelajaran. Sehingga lama pembelajaran tatap muka selama uji coba ini hanya empat jam per hari. “Tanpa jam istirahat,” lanjutnya.

Jika peserta didik masuk sekolah pukul 07.00 WIB, kata Singgih, maka pukul 10.00 WIB sudah meninggalkan sekolah. “Kami berharap zonasi untuk Kabupaten Jombang terus membaik, kalau bisa naik dari orange ke kuning lalu hijau. Sebab jika ada perubahan zonasi dari orange ke merah, pembelajaran tatap muka harus dihentikan,” ujar dia.

Singgih memastikan keamanan dan perlindungan kesehatan peserta didik dan guru diutamakan. “Kami sediakan tandon air di setiap ruang kelas, lengkap dengan sabun. Guru yang mengajar memakai face shield, begitu juga siswa. Bangku diatur jaraknya. Masuk ruang kelas harus dicek suhu badan dan protokol lainnya,” tambah dia.

Selama uji coba pembelajaran tatap muka ini, pihaknya akan menerapkan Blended Learning. Memadukan metode pembelajaran jarak jauh dengan pembelajaran tatap muka secara terbatas di sekolah baik daring maupun luring.

Hal sama disampaikan Kepala SMKN Kudu Khasanudin yang menyebut sudah menyiapkan semua aspek pembelajaran tatap muka. “Sejak pertengahan Juni karena sudah ada wacana pembelajaran tatap muka,” katanya.

Di SMKN Kudu sendiri ada 906 siswa. Siswa yang datang nanti 25 persen. “Tapi belum tentu semua datang, jika orangtua tidak setuju, bisa jadi yang datang lebih sedikit,” pungkas dia.

(jo/wen/mar/mar/JPR)

 TOP