alexametrics
Minggu, 25 Oct 2020
radarjombang
Home > Kota Santri
icon featured
Kota Santri

Bantuan Seragam SMA/SMK dari Pemprov Jatim Masih Gelap

13 Agustus 2020, 12: 34: 48 WIB | editor : Mardiansyah Triraharjo

ILUSTRASI: siswa SMA di Jombang.

ILUSTRASI: siswa SMA di Jombang. (ANGGI FRIDIANTO/JAWA POS RADAR JOMBANG)

Share this      

JOMBANG - Bantuan seragam siswa baru jenjang SMA/SMK dari Pemprov Jatim masih gelap. Hingga kini, belum jelas apakah tahun ini menerima bantuan seragam atau tidak yang gagal dilaksanakan.

“Hingga sekarang belum ada tanda-tanda provinsi melakukan pengadaan seragam. Harapan kami kalau bisa jadi, sebab di tahun lalu sudah batal. Apakah tahun ini harus batal lagi, kasihan anak-anak,” kata Kepala SMAN 3 Jombang Singgih Susanto, kemarin (12/8).

Namun jika memang pemprov tak ada rencana melakukan pengadaan lagi tahun ini, Singgih berharap ada kebijakan yang jelas terkait seragam siswa baru. “Memang anak-anak masih belajar dari rumah. Tapi seragam tetap dibutuhkan sebagai almamater siswa. Seandainya kami diberi kewenangan melakukan pengadaan mandiri, kami akan senang,” lanjutnya.

Atau bisa jadi, lanjut Singgih, pemprov tak perlu melakukan proses lelang pengadaan seragam. Caranya, alokasi anggaran untuk pembelian seragam diberikan ke sekolah. Nantinya, sekolah yang akan melakukan belanja kain seragam. Menurut dia, alokasi anggaran itu bisa dijadikan satu dengan dana bantuan operasional yang selama ini sudah berjalan seperti program TISTAS.

“Tapi sepertinya itu mustahil. Sebab dana BPOPP dari program TISTAS juga dipotong 50 persen akibat refocusing anggaran,” imbuhnya. Singgih menambahkan, sekolah enggan melakukan pengadaan seragam secara mandiri, meskipun seandainya bantuan seragam dari pemprov batal.

“Kami tak melakukan pengadaan karena belum ada petunjuk dari atas, kami tidak berani memutuskan sendiri,” imbuhnya. Karena seragam bantuan pemprov belum jelas ada atau tidak, saat ini siswa baru dipersilahkan menggunakan seragam bekas atau seragam baru yang dibeli di pasar. “Anak-anak kami bebaskan, mau pakai seragam bekas silakan. Beli di pasar juga tidak masalah,” pungkasnya.

Untuk diketahui, lelang pengadaan seragam gratis siswa SMA/SMK negeri swasta di Jatim tahun lalu gagal. Dalam perjalanannya, penetapan pemenang tidak bisa dilakukan karena peserta dinyatakan tidak memenuhi syarat. Setelah ditelaah, CV Majujaya yang menjadi calon pemenang tidak mencukupi nilai sisa kemampuan nyata (SKN) karena hanya memiliki Rp 3,38 miliar.

Sementara ketentuan SKN dihitung berdasarkan rumus kekayaan bersih dikalikan 4,2 hasilnya harus sama dengan 50 persen harga perkiraan sendiri (HPS). Misalnya untuk paket seragam SMA negeri swasta, dengan HPS Rp 52,5 miliar nilai ekuitas minimal adalah Rp 6,2 miliar. Sedangkan untuk SMK negeri swasta, dengan HPS Rp 78 miliar maka nilai ekuitasnya minimal Rp 9,29 miliar.

(jo/mar/mar/JPR)

 TOP