alexametrics
Selasa, 29 Sep 2020
radarjombang
Home > Berita Daerah
icon featured
Berita Daerah

Jeruk Lemon Asal Catak Gayam Mojowarno Laris saat Pandemi Covid-19

12 Agustus 2020, 06: 42: 37 WIB | editor : Mardiansyah Triraharjo

Santoso, warga Desa Catak Gayam, Kecamatan Mojowarno, Kabupaten Jombang yang mengembangkan tanaman jeruk lemon di sawah.

Santoso, warga Desa Catak Gayam, Kecamatan Mojowarno, Kabupaten Jombang yang mengembangkan tanaman jeruk lemon di sawah. (AZMY ENDIYANA Z/JAWA POS RADAR JOMBANG)

Share this      

Masih jarang petani yang mengembangkan tanaman jeruk lemon. Saat ditekuni, budidaya jeruk lemon ini mampu meraup pundi-pundi rupiah. Terlebih di masa pandemi seperti sekarang, jeruk yang mempunyai rasa asam ini paling banyak dicari.

JOMBANG - Siang yang sangat cerah itu terlihat seorang petani asik memetik buah jeruk lemon segar. Satu persatu buah jeruk yang sudah dipilih itu dikumpulkan di timba. Selain memetik jeruk, ia menyalakan mesin diesel miliknya untuk mengairi tanaman jeruk. Terlihat tanah di kebunnya sudah mengering dan muncul sejumlah retakan.

Ia adalah Santoso, warga Desa Catak Gayam, Kecamatan Mojowarno, Kabupaten Jombang yang mengembangkan tanaman jeruk lemon di sawah. Sejak 2018 lalu, ia mulai menanam jeruk lemon. Melihat hasilnya sangat menggembirakan, ia akan terus kembangkan jeruk lemon ke petak yang lain. “Memang baru dua tahun, tapi hasilnya sangat baik dan saya akan terus kembangkan,” ujarnya sembari melihat buah jeruk yang akan dipetik.

Dikatakan, awal mula dirinya mengembangkan jeruk lemon setelah ia berjalan-jalan di supermarket. Ia melihat harga jeruk lemon yang cukup tinggi. Sehingga dirinya berfikir untuk mencoba menanam sendiri. “Kalau di Jombang saya melihat jeruk nipis sudah banyak, kemudian saya coba menanam jeruk lemon,” ungkapnya.

Setelah membeli bibit jeruk lemon di Tulungagung, dalam satu tahun jeruk lemon sudah berbuah. Bahkan, buahnya tidak mengenal musim. Hampir setiap hari panen. “Ini saya punya 400 pohon, hampir setiap hari panen,” beber Santoso.

Pria berusia 60 tahun ini menyebut, perawatan jeruk lemon  sangat mudah. Hanya membutuhkan air dan pupuk yang cukup. Maka buah akan bisa tumbuh banyak. Sedangkan hama yang paling dikhawatirkan hanya hama ulat. “Tapi kalau kita rajin menyemprot, ulat akan hilang,” terang bapak tiga anak ini.

Semenjak pandemi Covid-19 awal Maret lalu, ia mengaku  permintaan jeruk lemon semakin tinggi. Saking banyaknya permintaan, dia sampai tidak bisa memenuhi kebutuhan konsumen. Karena kebun miliknya hanya mampu menghasilkan 3 kuintal jeruk setiap minggu. “Dulu di awal penjualan memang agak lambat, tapi sekarang kuwalahan karena lemon juga dipercaya bisa meningkatkan imun,” katanya.

Tanpa harus repot memasarkan keluar, hasil jeruk lemon miliknya sudah ada yang mengambil langsung ke kebun setiap minggu. Dia menjual dengan harga Rp 10 ribu perkilogram. “Kalau satu bulan bisa menghasilkan kurang lebih Rp 12 juta. Untungnya cukup besar,” pungkasnya bangga.

(jo/yan/mar/JPR)

 TOP