alexametrics
Jumat, 02 Oct 2020
radarjombang
Home > Berita Daerah
icon featured
Berita Daerah

Belasan Dusun di Jombang Tanpa Sinyal, Belajar Daring Tak Maksimal

10 Agustus 2020, 13: 04: 13 WIB | editor : Mardiansyah Triraharjo

Sejumlah warga utara Brantas harus rela naik bukit untuk bisa mendapatkan sinyal internet.

Sejumlah warga utara Brantas harus rela naik bukit untuk bisa mendapatkan sinyal internet. (MARDIANSYAH TRIRAHARJO/JAWA POS RADAR JOMBANG)

Share this      

JOMBANG – Sulitnya sinyal seluler untuk belajar daring tak hanya dialami siswa di Dusun Ngapus, Desa Sumberaji, Kecamatan Kabuh. Siswa lain di wilayah utara Brantas juga menghadapi kondisi yang sama. Sinyal di beberapa dusun dari tujuh desa di tiga kecamatan tak ada alias blank spot.

Di Kecamatan Ngusikan misalnya, mulai dari Desa Cupak, Desa Kromong, dan Desa Asem Gede. Kemudian di Kecamatan Kabuh, terdapat Desa Sumberaji dan Desa Marmoyo. Terakhir di Kecamatan Plandaan, Desa Klitih dan Desa Jipurapah.

Seluruh dusun yang ada di empat desa di antaranya, bahkan tidak terjangkau sinyal sama sekali. Sedangkan tiga desa sisanya, sebagian dusun sudah bisa terjangkau sinyal karena wilayahnya dekat dengan tower BTS (Base Transceiver Station).

Seperti yang terjadi di Desa Klitih, Kecamatan Plandaan, hanya warga Dusun Pojok dan Dusun Klitih yang bisa berkomunikasi dengan HP. Sementara warga Dusun Nampu dan Dusun Rapahombo, masih belum menggunakan HP karena tidak terjangkau sinyal. ”Ada dua dusun belum ada sinyalnya sama sekali. Dusun lainnya sudah, karena ada tower yang didirikan salah satu perusahaan,” kata Endro, salah satu warga.

Dusun Rapahombo dan Dusun Nampu, berada di balik gunung. Jarak dari Balai Desa Klitih cukup jauh. Untuk Dusun Rapahombo jaraknya lebih dari 15 kilometer, sedangkan Dusun Nampu jaraknya 4 kilometer.

Meski ada tower yang berdiri di Dusun Klitih, namun sinyal yang masuk ke Rapahombo masih kurang maksimal. Pihaknya menyebut, kebutuhan sinyal seluler yang memadai bagi warga dua dusun tersebut sangat mendesak. ”Belajar daring jadi kurang maksimal, karena tidak ada sinyal,” lanjutnya.

Kondisi sama juga terjadi di Desa Asem Gede, Kecamatan Ngusikan. Warga desa dengan satu dusun ini tak bisa berkomunikasi maksimal karena tak ada sinyal. Hanya warga ekonomi menengah ke atas yang bisa berkomunikasi lancar. Itu pun menggunakan wifi dengan tiang penangkap sinyal setinggi 6 meter.

”Kalau punya wifi, masih bisa. Tapi kalau tidak, ya harus keluar desa. Biasanya cari sinyal di gunung Modo, karena datarannya lebih tinggi,” ungkap Bayu, salah satu warga.

(jo/mar/mar/JPR)

 TOP