alexametrics
Jumat, 02 Oct 2020
radarjombang
Home > Berita Daerah
icon featured
Berita Daerah

Tak Dilayani SPBU, Petani di Catakgayam Mojowarno Bingung Cari Solar

10 Agustus 2020, 13: 01: 13 WIB | editor : Mardiansyah Triraharjo

Sejumlah petani di Desa Catakgayam, Kecamatan Mojowarno mengeluhkan sikap pengelola SPBU Desa Selorejo, Kecamatan Mojowarno.

Sejumlah petani di Desa Catakgayam, Kecamatan Mojowarno mengeluhkan sikap pengelola SPBU Desa Selorejo, Kecamatan Mojowarno. (AZMY ENDIYANA Z/JAWA POS RADAR JOMBANG)

Share this      

JOMBANG – Sejumlah petani di Desa Catakgayam, Kecamatan Mojowarno mengeluhkan sikap pengelola SPBU Desa Selorejo, Kecamatan Mojowarno. Menyusul pengelola tidak melayani pembelian solar bersubsidi oleh petani sekitar. Padahal petani sudah mengantongi surat rekomendasi dari desa setempat.

Seperti yang diungkapkan, Santoso salah satu petani mengatakan, sejak dua bulan ini dirinya tidak bisa membeli solar bersubsidi. Padahal, dirinya sangat membutuhkan BBM untuk pengairan sawahnya. ”Kurang lebih dua bulan lalu kami tidak boleh membeli solar bersubsidi,” ujarnya saat dikonfirmasi kemarin.

Padahal, semua persyaratan sudah dilengkapinya. Seperti surat rekomendasi dari desa dan menggunakan jurigen berbahan dari besi. ”Kami malah justru disarankan beli BBM Dexlite, pastinya kan keberatan,” bebernya.

Dikarenakan, kebutuhan untuk pengaiarannya jauh lebih penting, dirinya terpaksa membeli BBM jenis Dexlite. Alhasil, ongkos untuk biaya tanam sawahnya menjadi tinggi. ”Harga solar Rp 5.150 per liter sedangkan Dexlite Rp 10.200 per liter, ya jadi ongkos untuk pengairan naik 50 persen,” ungkapnya.

Dirinya juga heran, kenapa SPBU tersebut tidak melayani untuk petani. Akan tetapi, lebih mementingkan melayani kendaraan roda empat dan truk. ”Ini yang saya heran, padahal petani juga diperbolehkan untuk membeli solar bersubsidi,” tegasnya.

Hal senada juga disampaikan Muhamad Bukin petani lainnya. Dirinya mengungkapkan untuk mencari solar, dirinya harus mencari di SPBU lain. Bahkan, terkadang dirinya harus mengecer di perorangan. ”Ini yang saya heran kenapa untuk eceran dilayani kita tidak,” bebernya.

Padahal pengairan ini sangat penting sekali terlebih lagi musim kemarau. Sehingga pengairannya harus dibantu dengan mesin desel. ”Kalau tidak tanaman menjadi layu dan tidak sehat,” ungkapnya.

Kalau menggunakan Dexlite, lanjut Bukin, dirinya tidak mampu untuk membeli. Ini dikarenakan, dalam satu hari dirinya membutuhkan kurang lebih 10 liter BBM. ”Kalau setiap hari Rp 100 ribu itu hanya untuk BBM pasti petani merugi,” pungkas Bukin.

Sementara itu, Sugeng Kepala Desa Cataggayam tak menampik apabila petani di desanya tidak dilayani membeli BBM Solar bersubsidi. Padahal, pihaknya juga sudah memberi surat keterangan untuk petani. ”Ini yang saya juga tidak tahu, kenapa tidak dilayani,” katanya.

Dirinya juga mengungkapkan, untuk SPBU juga beruliskan BBM jenis premium. Akan tetapi, tidak pernah ada. Sehingga, hal ini patut dicurigai. ”Yang jelas kami berharap ada perhatian dari pihak terkait, agar tetap melayani petani di wilayah sekiar,” pungkas Sugeng.

Akui Tak Layani Pembelian Dalam Jerigen

SEMENTARA itu, pihak SPBU Selorejo, Kecamatan Mojowarno mengakui, tak melayani pembelian bahan bakar minyak (BBM) jenis subsidi. Pihaknya menyebut, ini lantaran disalahgunakan oknum yang tidak bertanggung jawab.

”Memang sejak satu setengah bulan lalu kami sudah tidak melayani pembelian BBM subsidi jenis solar,” ujar Yusuf, salah satu operator SPBU Mojowarno saat dikonfirmasi kemarin.

Kebijakan itu lanjut Yusuf, salah satunya dikarenakan ada dugaan penyalahgunaan penggunaan BBM bersubsidi. ”Dulu pernah ada yang membeli BBM jenis solar juga warga Catak Gayam setiap harinya 40 liter. Kan operator juga tidak tahu yang dilayani untuk apa nantinya. Sehingga kami masih melayani itu,” katanya.

Sambung Yusuf, awal-awal tidak ada masalah dalam pembelian oknum tersebut. Kemudian muncul masalah dan harus melalui jalur hukum. ”Ternyata pembelian BBM Solar tersebut digunakan untuk salah satu penggilingan batu. Dan itu sudah diincar sama pihak berwajib. Karena pengembangan dari kepolisian. Salah satu operator juga dibawa,” tegasnya.

Sehingga, saat ini pelayanan dengan membawa jerigen tidak dilayani terlebih dahulu. ”Kami tidak ingin mengulangi hal itu lagi, jadi sementara kami tidak melayani pembelian menggunakan jerigen,” ungkapnya.

Hanya saja, dirinya juga tidak mengetahui pasti kedepannya apakah, pembelian menggunakan jerigen ini dilayani kembali atau selamanya akan tidak dilayani. ”Itu nanti menunggu kebijakan dari pimpinan nantinya, saya tidak tahu,” pungkasnya.

(jo/yan/mar/JPR)

 TOP