alexametrics
Selasa, 29 Sep 2020
radarjombang
Home > Peristiwa
icon featured
Peristiwa

Tolak Aktivitas Galian, Warga Rejoagung Ngoro Geruduk Lokasi Tambang

10 Agustus 2020, 07: 47: 31 WIB | editor : Mardiansyah Triraharjo

Puluhan warga Dusun Payaksantren dan Dusun Ngrembang, Desa Rejoagung, Kecamatan Ngoro melakukan aksi demo Sabtu (8/8) pagi. Mereka menolak rencana aktivitas galian C baru di desanya.

Puluhan warga Dusun Payaksantren dan Dusun Ngrembang, Desa Rejoagung, Kecamatan Ngoro melakukan aksi demo Sabtu (8/8) pagi. Mereka menolak rencana aktivitas galian C baru di desanya. (AZMY ENDIYANA Z/JAWA POS RADAR JOMBANG)

Share this      

JOMBANG - Puluhan warga Dusun Payaksantren dan Dusun Ngrembang, Desa Rejoagung, Kecamatan Ngoro melakukan aksi demo Sabtu (8/8) pagi. Mereka menolak rencana aktivitas galian C baru di desanya. Pasalnya, kegiatan pengerukan merusak sumber daya air di lingkungan warga.

Pantuan koran ini di lokasi, sekitar pukul 10.30 puluhan warga yang terdiri dari ibu-ibu mulai memadati lokasi galian yang ada di Dusun Payaksantren, dengan membawa poster salah satu bertuliskan “Kami Butuh Air Bersih, Minta Pemkab dan APH Bertindak”. Sembari berteriak untuk memindahkan alat berat. Sebagian warga juga menaiki alat berat dan memasang poster pada alat berat.

Nikmaturohmah, 50, salah satu Warga Dusun Payaksantren mengungkapkan, aktivitas galian ini baru akan dimulai. Bahkan, alat berat baru diletakkan di lokasi Minggu (7/8) dini hari. “Ini baru mulai, alat beratnya saja tidak ada yang tahu menaruhnya,” ujarnya saat dikonfirmasi kemarin.

Dirinya menyebut, sejak awal warga sudah menolak rencana kegiatan pertambangan di wilayahnya. Sebab, dampaknya sangat merusak lingkungan sekitar.

Meski menui penolakan warga, pemilik galian seolah tidak menggubris keberatan warga. “Kami sudah pernah protes tapi pemilik tidak mendengar dan tetap meneruskan,” terangnya.

Penolakan ini bukan tanpa alasan, saat  sebagian sumber air di lingkungan permukiman warga diduga sudah terdampak kegiatan pengerukan. Selain mulai sulit mencari air saat musim kemarau. Kualitas air yang ada tidak layak konsumsi. “Airnya sudah keruh, sulit lagi, jadi kami menolak adanya galian ini,” tegasnya.

Hal senada disampaikan Misdiono warga Dusun Payaksantren mengatakan, hampir semua rumah di dusun Payaksantren sudah kesulitan air. Bahkan, warga harus mengebor kembali sumur untuk mendapat sumber mata air yang layak konsumsi. “Ini sudah dua kali ngebor sumur,” tegasnya.

Apabila aktivitas galian ini diteruskan, dikhawatirkan sumber air di wilayahnya semakin rusak. Sehingga warga semakin kesulitan mencari air. “Ya kalau diteruskan semakin sulit air nanti,” imbuhnya.

Untuk itu, dirinya dan juga warga mendesak aktivitas galian tambang berhenti dan segera memindahkan alat beratnya. “Kami ingin semua berhenti dan alat berat segera dipindahkan,” tegas Misdiono.

Sementara itu, Ahmad Kasani Kepala Desa Rejoagung mengatakan, adanya aksi ini karena warga menolak adanya aktivitas galian C. “Hampir rata-rata di desa memang sumber airnya sudah rusak,” terangnya.

Dikatakannya, adanya aktivitas tambang tersebut tidak izin ke pemerintah desa. Sehingga, dirinya tidak mengetahui secara pasti tambang tersebut sudah mempunyai izin atau sebaliknya. “Kalau sudah berizin atau tidak kami belum tahu,” bebernya.

Karena menimbulkan gejolak protes warga, pihaknya pun berharap aktivitas galian dihentikan dan alat berat segera dipindahkan. “Saya ingin apa yang menjadi tuntutan warga ini segera dijalankan,” pungkas Kasani.

DLH Segera Panggil Pemilik Tambang

SEMENTARA itu, aksi warga Dusun Payaksantren dan Dusun Ngerembang, Desa Rejoagung, Kecamaran Ngoro menolak adanya aktivitas galian C baru tak luput dari perhatian Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Jombang. Selain segera meninjau lokasi, dinas segera melakukan upaya pemanggilan pemilik tambang.

“Tadi saya juga mendapat laporan adanya aksi warga Desa Rejoagung menolak aktivitas tambang,” ujar Amin Kurniawan, Kabid Konservasi DLH Jombang kemarin.

Amin menambahkan, sebagai tindak lanjut, pihaknya akan segera meninjau lokasi tambang untuk mendalami protes warga. “Saya belum cek lokasi yang didemo. Ada dikoordinat yang berizin atau tidak,” imbuhnya.

Ini dikarenakan, lanjut Amin, di Desa Rejoagung, Kecamatan Ngoro ada dua titik galian yang sudah berizin. Untuk itu, pihaknya akan melakukan kroscek titik koordinatnya terlebih dahulu. Pihaknya juga berencana mencari informasi pemilik lahan maupun galian. “Karena kami juga belum mengetahui siapa pemiliknya. Apabila memang sudah diketahui pemiliknya akan kami panggil untuk melakukan klarifikasi,” tegasnya.

Sementara itu, Wikko F Diaz, Kabid Penegakan Perda Satpol PP Kabupaten Jombang mengatakan, pihaknya akan berkoordinasi dengan DLH untuk langkah penindakannya. “Tentu kita akan koordinasi dengan DLH terkait masalah ini,” ungkapnya.

Dikatakannya, apabila memang nanti harus diberi plang larangan untuk aktivitas galian. Pihaknya juga siap untuk memasang plang tersebut. “Nanti kita juga menunggu hasil tinjauan di lokasi nantinya bersama DLH apabila memang diperlukan pemasangan plang larangan galian, maka akan dipasang,” pungkas Wikko.

(jo/yan/mar/JPR)

 TOP