alexametrics
Jumat, 25 Sep 2020
radarjombang
Home > Jombang Banget
icon featured
Jombang Banget

Budidaya Jamur Tiram di Pulorejo Gunakan Botol Bekas untuk Pembibitan

05 Agustus 2020, 06: 52: 18 WIB | editor : Mardiansyah Triraharjo

Jamur tiram menjadi pangan alternatif di masyarakat. Selain mudah dibudidayakan, harganya juga cukup terjangkau. Seperti yang dilakukan Abdul Rosyad, salah satu pembudidaya jamur tiram di Dusun Katerban, Desa Pulorejo, Kecamatan Ngoro.

Jamur tiram menjadi pangan alternatif di masyarakat. Selain mudah dibudidayakan, harganya juga cukup terjangkau. Seperti yang dilakukan Abdul Rosyad, salah satu pembudidaya jamur tiram di Dusun Katerban, Desa Pulorejo, Kecamatan Ngoro. (MARDIANSYAH TRIRAHARJO/JAWA POS RADAR JOMBANG)

Share this      

Jamur tiram menjadi pangan alternatif di masyarakat. Selain mudah dibudidayakan, harganya juga cukup terjangkau. Seperti yang dilakukan Abdul Rosyad, salah satu pembudidaya jamur tiram di Dusun Katerban, Desa Pulorejo, Kecamatan Ngoro.

JOMBANG - Bau serbuk kayu yang khas tercium sejak dari pelataran rumah. Di ruang tamu, berderet puluhan botol berisi F0, istilah yang biasa dipakai kalangan pembudidaya untuk embrio jamur yang ditumbuhkan. Proses ini memang menggunakan botol dan beberapa bahan lainnya.

Rosyad memulai kegiatan pembibitan jamur tiram sejak 2016 lalu. Sebelumnya, ia adalah pedagang jamur mentah hasil budidaya orang lain. “Saya lalu produksi sendiri,” ujar dia saat ditemui di rumahnya kemarin (4/8). Ia menjelaskan, butuh beberapa bahan untuk membuat F0. Terutama agar-agar dan kentang.

Sedangkan perlengkapannya seperti kompor dan panci. “Kentang rebusan diambil sarinya saja. Lalu dicampur dengan agar-agar dan aquades,” lanjutnya. Setelah selesai dibuat, proses pembibitan F0 bisa dimulai. “Campuran cairan itu dimasukkan ke dalam botol yang sudah disterilkan beserta potongan jamur,” lanjutnya.

Rosyad lalu menunggu miselium atau bagian vegetatif dari jamur, keluar dari potongan jamur dan memenuhi seluruh permukanan botol. “Jika miselium sudah keluar, maka bibit F0 sudah siap dilanjutkan ke bibit F1,” imbuhnya. Ia menyebut, pembuatan bibit jamur F1 membutuhkan sejumlah peralatan. Seperti autoclave, kompor, ruang inokulasi, dan lampu bunsen.

Bahannya, mulai dari sebuk gergaji sengon, tepung jagung, bekatul, air, botol saus bekas, dan alkohol. “Campuran bahan dimasukkan ke botol dengan ditekan agar padat. Botol ditutup dengan kertas koran dan karet,” ujarnya. Satu tabung F0, kata Rosyad bisa untuk 20 botol F1. “Botol diletakkan pada ruang inkubasi dan dibiarkan sampai miselium tumbuh penuh, biasanya 30 hari,” tambahnya.

Bibit F1 menurut dia, juga dapat diturunkan menjadi bibit F2, dan terakhir menuju ke baglog produksi atau kantong plastik pembesaran. “Kalau sudah ke baglog, bisa dijual. Harganya biasanya 2.200 per baglog, nanti jamur akan tumbuh dalam waktu kurang lebih 14 hari,” ujarnya.

Ia menyebut, kemarau adalah musim tersulit bagi para pembubidaya jamur. Sebab pertumbuhan jamur tidak maksimal karena hawa panas. “Semakin lembab udara, jamur semakin baik,” katanya. Jika pada musim penghujan ia mampu menghasilkan 50 kilogram per hari. Saat kemarau ia hanya bisa menghasilkan 10 kilogram. “Harga tetap, masih Rp 12 ribu per kilo,” ungkapnya.

Karena itu yang harus dilakukan untuk menjaga kualitas pertumbuhan jamur di musim kemarau adalah rutin menyiramkan air ke baglog. ”Jamur harus sering diberi air, kalau jarang bisa mati terkena penyakit, terutama hama ulat dan kutu. Bisa ditangani dengan pestisida, tapi itu tidak harus,” pungkas dia.

(jo/mar/mar/JPR)

 TOP