alexametrics
Jumat, 25 Sep 2020
radarjombang
Home > Jombang Banget
icon featured
Jombang Banget

Melihat Proses Pembibitan Buah dan Sayur di Desa Karangdagangan

04 Agustus 2020, 09: 30: 59 WIB | editor : Mardiansyah Triraharjo

Usaha pembibitan buah dan sayur yang dilakukan warga Desa Karangdagangan, Kecamatan Bandarkedungmulyo.

Usaha pembibitan buah dan sayur yang dilakukan warga Desa Karangdagangan, Kecamatan Bandarkedungmulyo. (WENNY ROSALINA/JAWA POS RADAR JOMBANG)

Share this      

Musim tanam buah kini sudah mulai dilakukan sejumlah petani di wilayah Bandarkedungmulyo. Bibit yang banyak dipilih adalah bibit yang sudah sedikit tumbuh. Meskipun sedikit ribet, namun bibit ini lebih aman dari serangan hama tikus.

JOMBANG - Mustakim, warga Desa Karangdagangan, Kecamatan Bandarkedungmulyo tetap eksis di tengah pandemi. Salah satunya berkat keuletannya merintis usaha pembibitan buah dan sayur.

Dia memanfaatkan halaman rumahnya untuk menyemai beragam bibit. ”Sekarang sedang banyak yang cari bibit buah, karena banyak tikus. Sebab, kalau nanem (menanam) di sawah mulai dari biji, kadang habis dimakan tikus,” ungkapnya kepada Jawa Pos Radar Jombang.

Menurutnya, bibit yang sudah mulai tumbuh daun dirasa lebih aman dari potensi serangan hama tikus. ”Sebab setahu saya, tikus itu makan biji, bukan makan daun,” imbuhnya.

Diakui Mustakim, tanam menggunakan bibit memang biayanya lebih besar, bahkan bisa dua kali lipat jika tanam dengan biji. Sebab, harga biji lebih murah dibandingkan dengan bibit yang sudah tumbuh. ”Biaya dua kali lipat lebih mahal di awal, tapi bagus, tidak risiko dimakan tikus,” imbuhnya.

Ribuan bibit yang sudah mulai muncul daun siap diambil pembeli. Pembibitan dilakukan di ruangan semi terbuka. Atau hanya ditutup menggunakan jaring dengan atap transparan.

Di dalamnya, ada ribuan bibit. Sebagian ada juga yang sudah besar dan tumbuh. ”Kalau ini buat contoh, biar pembeli semakin mantap jika bibit saya ketika sudah tumbuh hasilnya bagus, dan buahnya banyak,” ungkapnya, sembari menunjukkan bibit sayuran yang ia besarkan di sisi kandang bibit.

Berbagai macam bibit milik Mustakim, di antaranya bibit tanaman terong, tomat, cabai besar dan rawit, semangka, melon, brokoli, hingga papaya. Harganya cukup murah, mulai dari Rp 75 sampai Rp 500 saja. ”Yang bibit buah itu murah seperti semangka melon, belewah itu cuma Rp 75 per pot. Kalau yang pepaya Rp 500 per bibit,” ungkapnya.

Untuk perawatan bibit disebutnya tergolong mudah. Hanya memang dibutuhkan keuletan. Pasalnya sebelum bibit ditanam, Mustakim harus mengisi plastik panjang dengan tanah sawah.

Tanah diisi hingga padat, yang kemudian dipotong beberapa sentimeter untuk pot bibit.

Baru kemudian dilubangi menggunakan jari, bibit ditanam, baru kemudian ditutup kembali menggunakan tanah. Untuk perawatan ia hanya perlu menyiram air ke bibit setiap hari. ”Saya siram sehari sekali,” imbuhnya.

Bibit yang ditanam Mustakim juga cocok bagi petani yang ingin menanam buah organik tanpa pupuk kimia. Pasalnya, di tangan mustakim, ia sama sekali tidak memberi formula apapun. ”Kalau sudah di sawah terserah petani mau organik tanpa pupuk kimia atau ditambah pupuk juga tidak masalah. Dari sini masih alami,” tambahnya.

Untuk bibit buah, dia hanya menunggu sekitar sepekan sudah muncul daun. Berbeda bibit cabai memang sedikit lama. ”Bibit cabai kurang lebih satu bulan,” imbuhnya.

Di tengah pandemi Covid-19, menurut Mustakim sama sekali tidak berperpengaruh pada pembibitan dan pertanian. ”Tidak ada pengaruhnya, korona tidak korona tetap saja pertanian tetap jalan,” pungkasnya.

(jo/wen/mar/JPR)

 TOP