alexametrics
Jumat, 25 Sep 2020
radarjombang
Home > Berita Daerah
icon featured
Berita Daerah

Tahanan Positif Korona di Jombang Tambah Dua, Sidang Terpaksa Ditunda

04 Agustus 2020, 06: 50: 04 WIB | editor : Mardiansyah Triraharjo

TUTUP: Lapas kelas II B Jombang tampak terkunci rapat dari luar. Sejak pandemi Covid-19 memang pembesuk tak diperbolehkan masuk.

TUTUP: Lapas kelas II B Jombang tampak terkunci rapat dari luar. Sejak pandemi Covid-19 memang pembesuk tak diperbolehkan masuk. (ANGGI FRIDIANTO/JAWA POS RADAR JOMBANG)

Share this      

JOMBANG - Jumlah tahanan kejaksaan negeri (Kejari) Jombang yang terjangkit Covid-19 bertambah menjadi enam orang. Ini setelah ada dua tambahan lagi yang sebelumnya masih menghuni sel isolasi RSUD Jombang. Dua tambahan itu dari tujuh tahanan yang reaktif rapid test.

“Jadi kemarin kan tujuh orang reaktif, diuji swab empat positif. Kemudian ada swab ulang, ternyata dua juga positif, untuk yang satu masih kita pantau perkembangannya,” terang Kajari Jombang Yulius Sigit Kristanto kepada wartawan koran ini kemarin (3/8).

Dia menyebut dua tambahan pasien itu sekarang ikut menghuni ruang isolasi RSUD Jombang bersama empat tahanan lainnya. Meski dalam penanganan tim medis, penjagaan ketat juga dilakukan ke semua tahanan. “Kita taruh di rumah sakit dengan penjagaan dan standar operasional terbaik, agar tidak menimbulkan gejolak dan kekhawatiran di masyarakat,” lanjutnya.

Sigit menjelaskan enam tahanan yang positif ini merupakan tahanan usai menjalani pelimpahan tahap dua. Dalam rapid test pertama, seluruhnya dinyatakan nonreaktif. Namun saat rapid test kedua, saat mereka berada di sel isolasi Lapas Klas IIb Jombang, mereka dinyatakan reaktif.

“Mereka ini berasal dari tiga kasus berbeda. Ada yang narkotika, ada juga pencurian dan penadahan. Ada juga yang limpahan dari Polda Jatim. Kalau alamatnya saya tidak hafal pasti,” tegas Kajari.

Sementara itu, Anry Widyo Laksono Kepala Pengadilan Negeri Jombang menjelaskan enam tahanan yang terkonfirmasi Covid-19 itu agenda persidangan ditunda hingga mereka dinyatakan sembuh. Sementara status penahanan untuk keenamnya kini dibantarkan. “Benar, kalau status penahanan istilahnya kita membantarkan penahanan, dimulai sejak yang bersangkutan dinyatakan positif Covid-19,” terangnya.

Dengan status pembantaran itu, lanjut dia, enam tahanan itu  tidak dihitung sebagai tahanan kendati perlakuannya tetap sama  laiknya seorang tahanan. “Jadi selama isolasi itu tidak dihitung tahanan, mereka seolah-olah tidak ditahan. Tapi kita tetap berlakukan penjagaan ketat dan perawatan,” lanjutnya.

Karena status itu pula, persidangan yang harusnya sudah dimulai pekan ini juga tak bisa dilakukan. “Tiga sebenarnya sudah masuk sidang, namun waktu mau dimulai ternyata terkonfirmasi positif. Kalau memang sakit kan tidak mungkin diadili,” tambahnya.

Sayang, Anry tidak bisa menyebut waktu kapan keenam orang tahanan tersebut akan dibantarkan. Hanya disampaikan bila semua bergantung dari lamanya waktu kesembuhan selama masa perawatan.”Kalau ditanya sampai kapan ya tentu sampai mereka sembuh. Karena ini tindakan penyelamatan bagi kami, baik untuk masyarakat umum, juga bagi tahanan lain di lapas,” pungkasnya.

Sempat di Ruang Isolasi Lapas, Kini Dirawat di Ruang Jiwa

SEMENTARA itu, enam tahanan Kejari Jombang yang dinyatakan terkonfirmasi Covid-19, empat diantaranya sempat masuk ruang isolasi Lapas kelas IIb Jombang. Hari ini seluruh pegawai di lapas bakal dilakukan rapid test.

”Sempat masuk ruang isolasi namun belum masuk sel tahanan,” ujar Pamuji, Kasubag TU Lapas Jombang kemarin (3/8). Dijelaskan, semua tahanan yang akan masuk Lapas harus dimasukkan ruang isolasi di Blok D. ”Sesuai protokol, mereka wajib menjalani isolasi selama 14 hari,” tambahnya.

Ia menceritakan, empat tahanan tersebut sempat berada di ruang isolasi Lapas semalam. Setelah ada kabar dari kejaksaan dan RSUD jika empat tahanan itu positif Covid-19, kemudian langsung dilakukan penjemputan dan dibawa ke RSUD Jombang. ”Kita sudah lakukan rapid test ke tahanan yang tinggal di ruang isolasi itu dan hasilnya nonreaktif,” jelas dia.

Kemudian hari ini (4/8), direncanakan akan melakukan rapid test masal kepada seluruh pegawai. ”Ini kita sudah komunikasi dengan dinas kesehatan. Ya sebagai bentuk antisipasi untuk mencegah penularan,” jelasnya serius. Meski demikian, ia memastikan sebanyak 624 warga binaan yang menghuni sel umum tidak tertular.

Karena menurutnya mereka masih berada di ruang isolasi dan belum masuk sel tahanan. ”Mereka tidak kontak sama sekali, Insya Allah tidak sampai tertular,” tegas dia. Selama pandemi Covid-19, lanjutnya, jadwal mbesuk anggota keluarga warga binaan juga ditiadakan. Namun tetap disediakan telephon agar bisa berkomunikasi dengan anggota keluarga yang berada di rumah. ”Bagi yang ingin komunikasi kita fasilitasi,” jelas Pamuji.

Selain itu, kiriman makanan atau uang ke lapas juga diperketat. Setiba di lapas, barang tersebut disemprot disinfektan kemudian dimasukan ke ruang penampungan barang selama satu malam. ”Besoknya, barang itu kita jemur dulu di halaman lapas kira-kira satu jam sebelum dibagikan,” tegas dia.

Terpisah, dr Pudji Umbaran Direktur RSUD Jombang menyebut tambahan dua tahanan positif itu membuat lokasi isolasi di tempatnya ikut dipindah dari ruang isolasi umum. Seluruh tahanan itu kini menghuni ruang bekas perawatan pasien sakit jiwa.

“Mulai Minggu (2/8) malam akhirnya kita relokasi ruang isolasi pasien dari tahanan ini. Lokasinya tidak lagi menempati ruangan isolasi umum,” terangnya kemarin. Pemindahan pasien ini disebutnya berkaitan dengan kemananan dan kenyamanan pasien lain.

Selama menjalani isolasi di ruangan isolasi umum Pudji menyebut banyak pasien isolasi lain yang merasa khawatir dan resah dengan adanya empat pasien tahanan itu. Kendati kamar yang dihuni mereka sudah dikunci rapat.

“Akhirnya kita sepakat memindahkan mereka ke kamar lain, lokasinya di bekas kamar perawatan pasien sakit jiwa,” tambahnya. Lokasi itu, disebutnya cocok lantaran memiliki banyak fasilitas yang mendukung dan nyaris serupa dengan lapas.

“Di ruangan baru ini sudah ada pagar tralis besi, pintu pengaman juga. Selain itu ruangannya cukup besar sehingga cukup untuk enam orang dan sudah ada kamar mandi di dalam,” tambahnya. ia memastikan dua tambahan pasien baru dari tahanan itu sama-sama berasal dari orang tanpa gejala.

Sehingga perawatannya lebih mudah dan tidak terlalu memakan tenaga kesehatan. “Kondisinya sehat tidak menunjukkan gejala sakit. Sehingga SOP perawatannya dengan uji swab dua kali atau masa isolasi 14 hari bisa dinyatakan sembuh nanti,” tegas Pudji.

(jo/ang/riz/mar/JPR)

 TOP