alexametrics
Jumat, 25 Sep 2020
radarjombang
Home > Jombang Banget
icon featured
Jombang Banget

Bisnis Burung Perkutut di Pagerwojo, Omset Capai Rp 5 Juta Per Bulan

03 Agustus 2020, 12: 42: 09 WIB | editor : Mardiansyah Triraharjo

Wisnu Prasetya, warga Dusun Ngemplak, Desa Pagerwojo, Kecamatan Perak yang membudidayakan burung perkutut.

Wisnu Prasetya, warga Dusun Ngemplak, Desa Pagerwojo, Kecamatan Perak yang membudidayakan burung perkutut. (ACHMAD RW/JAWA POS RADAR JOMBANG)

Share this      

JOMBANG - Di tengah pandemi Covid-19, ekonomi Wisnu Prasetya warga Dusun Ngemplak, Desa Pagerwojo, Kecamatan Perak tetap bertahan. Salah satunya berkat keberhasilannya membudidayakan burung perkutut.

Peternakan ini, berada di belakang sebuah rumah di Dusun Ngemplak. Di lokasi ini, puluhan ekor burung perkutut berbagai jenis dengan berbagai warna. Suara merdu burung juga langsung terdengar ketika masuk ke halaman belakang rumah ini.

Perkutut-perkutut ini disediakan sangkar khusus dibuat berpetak-petak.  Masing-maisng berbeda jenis.

Beberapa burung di dalamnya juga terlihat tengah mengerami telur. ”Di sini banyak jenisnya, ada yang perkutut Bangkok, tapi kebanyakan perkutut warna memang,” ucap Wisnu Prasetya, pemilik peternakan.

Usahanya ini, disebutnya sudah berlangsung sejak 2016. Bermula dari kegemarannya sejak kecil kepada burung bersuara merdu ini. ”Dulu awalnya itu saya punya cuma lima pasang, perkutut Bangkok, kemudian beberapa bulan lancar mulai perkutut warna,” lanjutnya.

Di kandang ini sendiri, Wisnu menyebut ada beberapa jenis perkutut unggulan yang masih terus ia kembang biakkan. Seperti perkutut jenis putih kapas, putih majapahit, udan mas dan silver. ”Selain itu ini juga masih mencoba untuk jenis burung tekukur dan puter,” tambahnya.

Selain sebagai hobi, memelihara perkutut juga bisa menghasilkan pundi-pundi rupiah. Terlebih perawatannya yang tak terlalu ribet dengan hasil yang cukup cepat. ”Kalau indukan itu usianya minimal sudah 7-8 bulan, itu siap dijodohkan, nantinya seminggu setelah itu akan mulai bertelur dan dierami 14 hari,” imbuhnya.

Anak perkutut yang baru menetas, harus diambil untuk dirawat terpisah dari induknya. Tak butuh waktu lama, di usia 1,5 bulan, perkutut ini biasanya sudah bisa dijual. Harganya variatif. ”kalau masih anakan lebih murah. Untuk yang jenis majapahit biasanya mnimal Rp 1 juta per ekor, kalau yang jenis biasa mulai Rp 700 ribuan, tergantung jenis dan motifnya dan manggungnya,” lontar Wisnu.

Dalam sebulan, ia mengaku bisa menghasilkan hingga lebih dari Rp 5 juta rupiah dari bisnis ini. Ia, juga menjual burung ternaknya ini secara online. ”Paling banyak online, tapi ada juga pembeli yang datang langsung,” pungkasnya.

Dipercaya Membawa Hoki

SELAIN menjadi hewan peliharaan yang menghibur dengan suaranya yang merdu. Bagi sebagian orang, memelihara burung perkutut jenis tertentu dipercaya mendatangkan hoki. Karenanya, tak heran jika sebagian kolektor rela mengeluarkan uang dalam jumlah besar demi mendapatkan burung yang dipercaya bisa mendatangkan keberuntungan itu.

”Yang dicari itu, biasanya bulu putih di kepala atau di leher. Bulu di posisi itu, diyakini sebagai simbol pemimpin yang terlindungi, atau bahasanya satrio kinayungan. Jadi diyakini membawa hoki,” terang Wisnu.

Biasanya burung yang dipercaya memiliki keistimewaan bisa mendatangkan hoki bagi si pemilik

Memiliki corak khusus. ”Biasanya untuk perkutut jenis majapahit,” terangnya.

Perkutut jenis ini memang memiliki corak yang indah dengan kombinasi hitam dna putih yang mencolok dari jenis lain. ”Benar, jadi burung perkutut ini masih kental dengan mitos. Beberapa kali juga saya menerima pesanan khusus dari orang yang percaya mitos itu,” ucap Wisnu.

Dan untuk burung-burung dengan corak khusus ini, Wisnu menyebut harganya bisa sangat tinggi. ”Saya pernah itu burung ini, ditukar sama sepeda motor, harganya belasan juta,” pungkasnya.

(jo/riz/mar/JPR)

 TOP