alexametrics
Selasa, 04 Aug 2020
radarjombang
Home > Peristiwa
icon featured
Peristiwa

Blokade Jalan Desa, Warga Rejoagung Ngoro Tolak Aktivitas Galian C

31 Juli 2020, 08: 57: 46 WIB | editor : Mardiansyah Triraharjo

Puluhan warga Desa Rejoagung, Kecamatan Ngoro, Kabupaten Jombang memblokade jalan desa, kemarin malam (29/7). Mereka menolak rencana aksi penambangan galian C baru karena telah merusak lingkungan.

Puluhan warga Desa Rejoagung, Kecamatan Ngoro, Kabupaten Jombang memblokade jalan desa, kemarin malam (29/7). Mereka menolak rencana aksi penambangan galian C baru karena telah merusak lingkungan. (AZMY ENDIYANA Z/JAWA POS RADAR JOMBANG)

Share this      

JOMBANG - Puluhan warga Desa Rejoagung, Kecamatan Ngoro, Kabupaten Jombang memblokade jalan desa, kemarin malam (29/7). Mereka menolak rencana aksi penambangan galian C baru karena telah merusak lingkungan.

Aksi ini dimulai sekitar pukul 20.00 dengan berkumpul di gang jalan desa menuju lokasi penambangan di Dusun Grenggeng. Warga yang berdatangan itu bermaksud menghalau beghoe yang rencana didatangkan ke lokasi penambangan. 

“Tentu kami menolak aktivitas penambangan galian C baru di wilayah kami,” ujar Nadir, salah seorang warga Rejoagung. Dia mengungkapkan sudah banyak aktivitas galian C di desanya dan bahkan beberapa ilegal. Aktivitas penambangan kembali beraktivitas hanya selang beberapa hari setelah Dinas Lingkungan Hidup (DLH) dan Satpol PP Jombang datang ke lokasi.

“Ini malah mau ada lagi, tentu kami menolak,” ungkapnya. Ia menyebut lingkungan sekitar tempat tinggalnya sudah rusak karena banyak titik penambangan galian C ilegal maupun legal yang beraktivitas cukup lama. Lokasi galian baru itu terdapat di Dusun Grenggeng. “Ya lingkungan sudah sangat rusak karena banyak galian,” imbuhnya.

Hal senada dilontarkan Syifa warga lain yang menyebut tidak hanya merusak lingkungan. Sumber air di desanya juga sudah tidak lancar. Semenjak banyak galian C bermunculan, debet air semakin mengecil sehingga kebutuhan air warga sekitar sulit terpenuhi. Apalagi di musim kemarau. “Merusak sumber air, tidak hanya sulit, warna air juga sangat kotor,” terangnya.

Dia menyebut, kerusakan sumber air ini sudah diketahui DLH Jombang. Termasuk sudah mengambil sampel air yang keruh untuk diteliti lebih lanjut. Hanya saja, tindak lanjut yang diharapkan masyarakat sampai sekarang belum ada. “Dulu air sudah diambil sampel, tapi sampai sekarang tidak ada kejelasan,” tegas mantan anggota DPRD Jombang ini.

Ia juga mengungkapkan, aktifitas penambangan galian C di desanya sangat terbuka meski ilegal. Pihak pengusaha bebas melakukan aktivitas tambang. “Setelah berhenti karena ada operasi, tak berselang lama kembali melakukan kegiatan lagi,” ungkap Syifa. Untuk itulah dirinya berharap ada langkah yang konkrit yang dilakukan Pemkab Jombang agar penambangan galian C benar-benar terhenti. “Kami minta ada perhatian dari pemkab,” tegasnya.

Sementara itu, Kepala Desa Rejoagung Ahmad Kasani mengatakan, aksi penolakan warga ini sudah dikoordinasikan dengan pihak keamanan, termasuk DLH Jombang. Di wilayahnya sendiri, ada dua aktivitas penambangan galian yang sudah mengantongi izin. Meski begitu, dirinya juga tak menampik adanya aktifitas galian C baru yang akan beroperasi kembali.

Sebenarnya, penambangan baru itu titik galian C yang cukup lama berhenti. “Ya, yang biasanya dihentikan Satpol PP dan DLH, baru beroperasi kembali,” bebernya. Karena itulah dia berharap, aktivitas galian C yang tidak mempunyai izin segera ditertibkan. Agar kemarahan warga bisa mereda. “Tertibkan aktivitas galian C yang tidak mempunyai izin,” tegas Kasani serius.

Di tempat terpisah, Amin Kurniawan Kabid Konservasi DLH Jombang menyampaikan aktivitas penambangan baru di Desa Rejoagung akan segera dicek ke lokasi. “Kalau lokasi yang ditambang itu sama pasti ilegal,” ungkapnya. Apalagi sejauh ini tidak ada pengajuan aktifitas galian baru, baik di Kecamatan Ngoro maupun di Kabupaten Jombang.

Lebih dari itu, dirinya sudah mengetahui bila lokasi galian yang pernah didatanginya, tak berselang lama melakukan aktivitas lagi. Sehingga pihaknya sudah memberikan laporan ke aparat penegak hukum (APH). “Laporan ke pihak berwajib itu untuk dilakukan penindakan,” tegasnya.

Ia juga menyampaikan hasil pengecekan lokasi penambangan galian C di Desa Genukwatu, Kecamatan Ngoro. Selain memasang plang, di lokasi galian C itu pihaknya juga memberikan surat teguran kepada pemilih lahan. “Kemarin sudah kita datangi dan memberikan surat teguran ke pemilik lahan sekaligus memasang plang,” beber dia.

Sementara itu, Wikko F Diaz Kabid Penegakan Perda Satpol PP Jombang mengaku siap apabila personil anggotanya dibutuhkan untuk melakukan penutupan kegiatan galian ilegal. “Tentu kami akan berkoordinasi dengan DLH,” pungkasnya.

(jo/yan/mar/JPR)

 TOP
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia