alexametrics
Selasa, 04 Aug 2020
radarjombang
Home > Jombang Banget
icon featured
Jombang Banget

Tangan Kreatif Pemuda Cangkringrandu Produksi Dompet Kulit Tato

31 Juli 2020, 08: 53: 03 WIB | editor : Mardiansyah Triraharjo

Aktivitas produksi tato dompet yang dilakukan pemuda Dusun Ngrandu, Desa Cangkringrandu, Perak.

Aktivitas produksi tato dompet yang dilakukan pemuda Dusun Ngrandu, Desa Cangkringrandu, Perak. (ACHMAD RW/JAWA POS RADAR JOMBANG)

Share this      

Tak ingin dompet kulit produksinya tampil biasa, sejumlah pemuda di Dusun Ngrandu, Desa Cangkringrandu, Kecamatan Perak, Kabupaten Jombang berkreasi dengan seni tato. Tinta tato juga diracik sendiri.

JOMBANG - Sebuah warung dan rumah sederhana di Dusun Ngrandu, Desa Cangkringrandu terlihat sangat sibuk siang itu, ketika Jawa Pos Radar Jombang datang. Rumah kecil yang penuh ornamen dan hiasan artistik ini memiliki dua kamar.

Dalam salah satu kamar, terlihat empat pemuda terlihat sibuk. Diantara mereka, masing-masing bergulat dengan lembaran benda berwarna pink. Ada yang terlihat memotong, ada yang terlihat menggambar, hingga beberapa terlihat menjahit lembaran pink yang telah dibentuk persegi. “Ini proses produksi dompet, kita biasanya sebut ini dompet tato karena semuanya dikerjakan tangan, jadi kita bagi tugas,” ucap Santos, 28, pemilik bengkel dompet tato.

Ia menyebut, lembaran berwarna pink itu bahan dasar dompet yang ia buat. Benda itu limbah industri kulit sapi yang didapatkan dari sejumlah industri kulit di Magetan. “Tapi bukan sembarang kulit, ini limbah kulit yang belum terkena bahan pewarna kimia, jadi masih polos,” lanjutnya.

Kulit setengah jadi ini kemudian dibentuk menjadi persegi dengan berbagai ukuran. Santos menyebut, ada dua ukuran dompet yang biasa digunakan. “Jadi ada yang model panjang, ada juga yang pendek kecil. Dari lembaran itu kita mal, kemudian dipotong,” imbuh dia.

Proses kemudian berlanjut pada penggambaran. Dalam proses ini, Santoz menggunakan cara berbeda. Dambar di dompet kulit buatannya, dibuat dengan cara ditato laiknya kulit manusia. “Ya awalnya di gambar pola dulu pakai sket bolpoint, kemudian baru digambar dengan jarum,” tambahnya.

Laiknya tato pada tubuh manusia, tinta yang digunakan untuk tato dompet juga disebutnya sama. Hanya butuh beberapa tambahan bahan lain agar tinta yang dipakai tidak mudah pudar. “Karena proses manual, pengerjaannya juga harus orang khusus yang bisa mengerjakan tatto,” lontar Santos.

Untuk motif, ia menyebut sesuai dengan pesanan yang datang. Mulai dari tokoh musik, tokoh nasional, motor, wajah orang hingga sejumlah gambar etnik lain. “Intinya kita bisa apapun gambarnya kalau pesanan. Paling banyak gambar tokoh dan motor,” ucapnya. Setelah proses tato selesai, kulit setengah jadi akan diwarnai sesuai keinginan dan dijahit hingga membentuk dompet.

Selain mengerjakan pesanan, Santos juga biasa memproduksi dompet untuk dijual di banyak toko seni dan oleh-oleh. Bahkan pasarnya sudah tembus sejumlah daerah di luar Pulau Jawa. “Yang terbesar ada dua, Kalimantan dan Bali, motifnya juga kita buat beda, menyesuaikan adat dan etnik masing-masing,” ungkapnya.

Bersama empat temannya, setiap hari ia mampu merampungkan 10-15 dompet kulit plus ukiran tato. Produk ini, ia jual mulai dari harga Rp 100 ribu hingga Rp 300 ribu menyesuaikan model dompet dan tingkat kesulitan pembuatan. “Harganya memang mahal, karena seluruhnya dikerjakan tangan, tidak pakai mesin sama sekali,” pungkas dia.

(jo/riz/mar/JPR)

 TOP
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia