alexametrics
Rabu, 05 Aug 2020
radarjombang
Home > Kota Santri
icon featured
Kota Santri

Pengalaman Kasmini Guru Tuna Netra di Jombang Hafalkan Al Quran

30 Juli 2020, 06: 20: 59 WIB | editor : Mardiansyah Triraharjo

BRAILE: Kasmimi membaca Alquran braile di rumahnya Jombatan, Jombang, kemarin.

BRAILE: Kasmimi membaca Alquran braile di rumahnya Jombatan, Jombang, kemarin. (ROJIFUL MAMDUH//JAWA POS RADAR JOMBANG)

Share this      

Tidak banyak penyandang tuna netra yang mampu menghafal Alquran. Diantara yang sedikit itu adalah Kasmimi, 60, guru SLB Negeri Jombang.

JOMBANG - Jari jemarinya terlihat lincah meraba Alquran braile. Bacaannya lancar dan terdengar merdu di telinga. Itulah Kasmimi, 60, penyandang tuna netra yang sehari-hari tinggal di Jombatan Jombang. Tepat di belakang gedung SLB Negeri, tempatnya bertugas sebagai PNS.

“Saya mengajar semua pelajaran kelas 1 dan 2 SD. Serta Bahasa Inggris mulai SD, SMP hingga SMA luar biasa,” terangnya. Dia mengaku belajar Bahasa Inggris secara otodidak.

Ibu kelahiran 24 September 1960 ini akan pensiun Oktober nanti. “Setelah pensiun saya ingin menulis novel,” ucapnya lantas tertawa. Mimi, panggilan akrabnya, sudah banyak menulis puisi. Namun sayang tidak terbukukan. “Saya juga sudah menciptakan tiga lagu,” ucap sekretaris 2 Pertuni Jatim ini.

Judul lagu yang dia ciptakan; Anak Soleh, Ya Hafid dan Bersalawatlah. Semuanya ada di channel youtube, Rizal Kurniawan SLBN Jombang. Saat ditemui kemarin, rumah Mimi cukup ramai. Meski di depan rumah tertulis pijat tuna netra Barokah, yang ramai bukan orang yang sedang pijat.

“Mereka anak SLB yang tinggal disini sejak kecil,” kata Mimi. Satu berasal dari Kendal. Satu lagi berasal dari Malang. “Yang mijat suami saya,” ucapnya. Namanya Sudarmaji, 59. Kebetulan kemarin sedang tidak ada yang pijat.

Dari pernikahannya, Mimi dikaruniai tiga anak. ”Alhamdulillah semuanya normal,” ucapnya. Dia juga punya satu anak angkat. Bungsu dari empat bersaudara ini lahir di Surabaya. Ibunya penjual gorengan. Ayahnya tukang reparasi kapal. “Hanya bekerja kalau ada kapal rusak,” kenangnya. Orang tuanya sangat peduli pendidikan. Juga sangat memanjakannya. “Saya hanya disuruh belajar dan sekolah. Membantu di dapur pun tidak boleh,” urainya. Agar bisa memasak, dia belajar ke tetangga tatkala orang tuanya tak berada di rumah.

SD hingga SMP dia tempuh di SLB YPAB Surabaya. Lalu Aliyah Mujahidin Surabaya. Kemudian D2 sekolah pendidikan guru luar biasa (SPGLB) di Surabaya. “Sekarang SPGLB ikut Unesa jurusan pendidikan luar biasa,” ucapnya.

Lulus SPGLB dia sempat menganggur. “Melamar kemana-mana tidak diterima,” katanya. Dia lantas berinisiatif menghafal Alquran. Dengan cara membaca Alquran braille. “Karena tidak punya guru untuk setor hafalan, setiap hafal, saya naik ke loteng kemudian setor ke langit,” terangnya. Di Surabaya, dia tinggal di rumah petak yang sempit. Untuk menambah kamar, dibuat loteng di atas. “Ketika jendela loteng dibuka, rasanya sudah sangat dekat dengan langit,” bebernya.

Dia sering minta sang ayah membacakan arti ayat-ayat Alquran. Ketika ayahnya menjelaskan makna wassamai dzatil buruj, demi langit yang dihiasi bintang, dia pun membayangkan langit sangat indah berhias bintang. “Ketika setor ayat itu ke langit, saya bayangkan keindahan langit dan bintang hingga meneteskan air mata,” paparnya. Dalam waktu tiga bulan, dia sudah hafal juz 30 mulai Annas hingga Al Mutoffifin.

“Setelah hafal Alquran, perjalanan hidup saya menjadi mudah,” urainya. Tiga bulan kemudian dia diterima sebagai guru honorer di SLB Lamongan. Lalu ikut tes CPNS dan diterima. “Tugas pertama saya sebagai PNS ya langsung di Jombang sini,” urainya.

Murid-muridnya di SLB sebenarnya banyak yang memiliki hafalan Alquran. Namun tidak pernah ada lomba baca maupun hafalan Alquran untuk siswa SLB. Sehingga tidak pernah dilatih secara serius. “Mudah-mudahan ke depan ada lomba MTQ untuk anak-anak SLB. Agar mereka semakin semangat menghafal Alquran,” harap Mimi.

(jo/jif/mar/JPR)

 TOP
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia