alexametrics
Kamis, 13 Aug 2020
radarjombang
Home > Berita Daerah
icon featured
Berita Daerah

Penanganan Tikus di Jombang Disebut Kalangan Dewan Masih Belum Optimal

29 Juli 2020, 18: 30: 59 WIB | editor : Mardiansyah Triraharjo

Serangan hama tikus yang terjadi di Jombang.

Serangan hama tikus yang terjadi di Jombang. (Dok Jawa Pos Radar Jombang)

Share this      

JOMBANG – Kalangan DPRD Jombang menilai penanganan hama tikus yang dilakukan pemkab selama ini belum maksimal. Terbukti, penyebaran tikus terjadi setiap tahun dan bahkan merata di semua kecamatan.  

“Memang masih banyak keluhan terkait serangan hama terutama tikus,” ujar Rochmad Abidin, salah satu anggota dewan, kemarin (28/7). Menurutnya, langkah yang dilakukan Dinas Pertanian masih belum otpimal. Sejauh ini hampir rata-rata pemberantasan dilakukan oleh petani sendiri.

Hal ini harus menjadi PR dinas terkait. Mestinya, sejak awal serangan hama tahunan tersebut bisa diantisipasi dengan beberapa langkah pencegahan. ”Dinas harus  turun tangan mengatasi hal-hal rutin. Kenapa ini masih menjadi-jadi,” katanya. Untuk itu, dirinya mendorong agar dinas pertanian bisa segera menentukan langkah konkret penanganan tikus.

Dikonfirmasi terpisah, Priadi Kepala Dinas Pertanian Jombang mengaku sudah melakukan penanganan tikus. ”Untuk penanganan tikus kita melakukan pengadaan rodentisida (racun tikus, Red) dan belerang. Serta melakukan gerakan gropyokan di 200 titik bersama POPT provinsi,” ujarnya kemarin.

Dirinya tak menampik masih adanya kelemahan dalam penanganan tikus. Hal ini dikarenakan tidak ada keseimbangan antara perkembangan tikus dengan predator. Sehingga populasi tikus berkembang pesat. ”Karena antara tikus dan predatornya sangat tidak seimbang,” katanya.

Sehingga serangan hama tikus ini hampir terjadi menyeluruh di semua kecamatan. ”Yang kondisinya paling parah tidak bisa disebut lantaran memang per spot,” beber Priadi. Di masa tanam musim penghujan kemarin, ada sejumlah petani yang gagal panen. Seperti di Kecamatan Sumobito sekitar 32 hektare sawah gagal panen akibat serangan hama tikus. ”Tapi bisa diasuransikan melalui dana APBN. Petani gagal panen mendapat uang Rp 6 juta,” pungkasnya.

(jo/yan/mar/JPR)

 TOP
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia