alexametrics
Rabu, 05 Aug 2020
radarjombang
Home > Kota Santri
icon featured
Kota Santri

MUI Jombang: Jika Tak Memungkinkan, Salat Idul Adha di Rumah Saja

29 Juli 2020, 17: 00: 59 WIB | editor : Mardiansyah Triraharjo

Ketua MUI Jombang KH Cholil Dahlan

Ketua MUI Jombang KH Cholil Dahlan (Dok Jawa Pos Radar Jombang)

Share this      

JOMBANG – H-2 jelang Idul Adha, Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jombang mengimbau agar salat ied sebaiknya memerhatikan zona wilayah. Jika tidak memungkinkan, salat sebaiknya dilakukan di rumah. Salat ied di masjid diperbolehkan asal sesuai protokol pencegahan Covid-19.

Ketua MUI Jombang KH Cholil Dahlan menyampaikan, salat Idul Adha Jumat (31/7) lusa dilaksanakan sesuai protokol pencegahan Covid-19 sebagaimana anjuran pemerintah. ”Jadi sebaiknya memang salat idul adha, kalau terpaksa tidak bisa menyelenggarakan protokol pencegahan, sebaiknya dilakukan di rumah,” ujarnya kemarin (28/7).

Dia mengimbau masyarakat agar memerhatikan wilayah mereka. Jika zona merah, sebaiknya salat ied dilakukan berjamaah dengan keluarga atau paling tidak menerapkan protokol kesehatan, misalnya memakai masker, salat saf berjarak, membawa alas sendiri hingga melakukan pemeriksaan terhadap suhu tubuh jamaah yang akan memasuki masjid. ”Yang terpenting protokol itu harus diperhatikan dengan baik,” jelas dia.

MUI dan Pemkab Jombang sendiri tidak mengeluarkan surat edaran atau petunjuk teknis tentang salat idul adha. Namun disampaikannya, jika surat edaran tentang imbauan salat idul fitri yang diterbitkan dua bulan lalu masih berlaku. ”Artinya petunjuk tetap sama, cukup itu saja,” terang Ketua Majelis Pengasuh Ponpes Daru Ulum (MPPDU) Rejoso ini. 

Lebih dari itu, dia menyarankan kepada masyarakat yang melakukan penyembelihan hewan kurban dilakukan dengan terbatas. Mulai panitia penyembelihan dan panitia pembagian hewan kurban. ”Sebaiknya diselenggarakan panitia inti, yang penting tidak terjadi kerumunan,” jelas dia.

Termasuk, pembagian daging kurban sebaiknya diantar ke warga yang berhak menerima. ”Khawatirnya kalau nanti dibagikan akan terjadi antrean dan kerumunan banyak orang,” tegas kiai Chholil.

Dihubungi terpisah, Wakil Ketua MUI Jombang KH Ahmad Junaidi Hidayat menyampaikan, jika salat idul adha bersifat pilihan alias sunnah muakad. ”Maka masyarakat bisa memilih dengan melakukan salat itu dengan berjamaah atau di rumah,” jelas dia. Menurutnya, masyarakat bisa melakukan salat ied dengan mempertimbangkan kondisi lingkungan sekitar.

Bila tidak memungkinkan karena sebaran Covid-19 masih tinggi, sebaiknya dilakukan berjamaah di rumah. ”Prinsipnya kita mengedepankan sisi kesehatan. Kalau masjid setempat siap dengan protokol kesehatan ya tidak apa-apa, tapi kalau tidak sebaiknya jangan,” tambahnya.

Jika tetap dilaksanakan berjamaah di masjid/tanah lapang, maka ia menyarankan pelaksanaan dilakukan lebih cepat dan tidak terlalu lama. Sehingga potensi resiko penyebaran dapat diminimalisir. Untuk teknis penyembelihan, menurut dia harus dilakukan dengan tim kecil, yang menerapkan protokol kesehatan.

”Begitu juga teknis pembagian harus melakukan penataan yang lebih baik karena kondisi seperti ini. Kita harus memprediksi dulu, sebaiknya dibagikan dengan diantar ke rumah,” pungkas pengasuh Ponpes Al Aqabah ini.

(jo/ang/mar/JPR)

 TOP
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia