alexametrics
Kamis, 06 Aug 2020
radarjombang
Home > Hukum
icon featured
Hukum

Angka Kasus Kekerasan kepada Perempuan di Jombang Masih Tinggi

29 Juli 2020, 11: 25: 33 WIB | editor : Mardiansyah Triraharjo

ILUSTRASI: kekerasan terhadap perempuan

ILUSTRASI: kekerasan terhadap perempuan (Dok Jawa Pos)

Share this      

JOMBANG – Kasus kekerasan pada perempuan di Jombang masih tinggi. Hingga bulan ini tercatat 51 kasus kekerasan  perempuan. Sebagian besar kekerasan dalam rumah tangga, baik kekerasan fisik maupun psikis seperti perselingkuhan.

“Jadi kasus yang kami tangani 51 kasus, mulai Januari sampai Juli. Itu global mulai dari anak-anak hingga dewasa,” ungkap Ana Abdillah, Direktur WCC Jombang. Ia merinci, dari 51 kasus yang ditangani itu 31 di antaranya kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Sisanya 20 kasus kekerasan seksual yang dialami perempuan.

Tingginya kasus kekerasan pada perempuan ini juga terlihat dari akumulasi penambahan kasus setiap bulan. Mulai Januari tercatat sembilan kasus, baik KDRT maupun kekerasan seksual. Bulan Februari bertambah 11 kasus, dengan enam kasus KDRT dan lima kasus kekerasan seksual.

“Bulan maret karena ditetapkan pandemi, kita WFH selama beberapa bulan, penanganan dan pendampingan juga tidak maksimal, kami hanya mencatat kasus KDRT saja,” tambahnya.

Sebanyak 15 kasus KDRT bertambah pada Maret, April dan Mei. “Setiap bulan masuk lima kasus,” tambahnya.

Sementara, Juni Juli mulai aktif pendampingan. Ada sembilan kasus yang ditangani, dengan rincian lima kasus kekerasan seksual dan empat kasus KDRT. Dari kasus kekerasan seksual itu beberapa diantaranya kekerasan seksual terhadap perempuan dewasa. Selebihnya, sebagian besar justru dialami pada anak usia di bawah 18 tahun.

“Kalau kekerasan seksual orang dewasa cukup sulit karena ada kekosongan hukum, jadi kita hanya bisa membantu pendampingan melalui musyawarah keluarga,” jelasnya. Ana juga menjelaskan, kasus KDRT tidak hanya kekerasan fisik, tapi juga psikis seperti perselingkuhan.

“Tahun lalu kasus perselingkuhan lebih dominan berakhir cerai, meski ada yang memaafkan. Untuk tahun ini kita belum mendata,” pungkas dia.

(jo/wen/mar/JPR)

 TOP
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia