alexametrics
Rabu, 05 Aug 2020
radarjombang
Home > Hukum
icon featured
Hukum

Terdakwa Penipuan Mobil Murah Asal Sumobito Dituntut 1,5 Tahun Penjara

29 Juli 2020, 11: 09: 09 WIB | editor : Mardiansyah Triraharjo

Barang bukti kasus penipuan jual beli mobil murah yang dilakukan terdakwa Mutik.

Barang bukti kasus penipuan jual beli mobil murah yang dilakukan terdakwa Mutik. (ACHMAD RIZA W/JAWA POS RADAR JOMBANG)

Share this      

JOMBANG – Mutik, 37, terdakwa kasus dugaan penipuan jual beli mobil murah telah melalui sidang pembacaan tuntutan pekan kemarin. Jaksa Penuntut Umum (JPU) dari Kejari Jombang menuntut perempuan itu hanya dengan hukuman 1,5 tahun penjara.

“Sidang pembacaan tuntutan sudah Kamis (23/7), tuntutan kita hukuman 1 tahun 6 bulan penjara,” terang Tedhy Widodo, Kasipidum Kejari Jombang. Tuntutan itu menurutnya didasarkan pada bukti dalam persidangan yang menyebut Mutik memang telah melakukan upaya penipuan dalam jual beli mobil murah.

Namun jaksa menilai ia cukup kooperatif dengan mengembalikan sejumlah uang kepada beberapa korban. “Ya, diketahui sudah ada yang dikembalikan, totalnya sekitar Rp 49 juta. Hal itulah yang melandasi kami menuntut hukuman tersebut,” tambahnya.

Ia menyebut, sidang yang dilakukan juga masih menggunakan metode virtual. Seluruh pihak yang terlibat mengikuti sidang dari beberapa tempat berbeda. Direncanakan, sidang lanjutan akan digelar Kamis besok (30/7) dengan agenda pembacaan vonis dari majelis hakim. “Terdakwa tidak melakukan pledoi, jadi dilanjut dengan pembacaan putusan,” tegasnya.

Seperti pernah diberitakan sebelumnya, Mutik, 37, ibu rumah tangga asal Desa Brudu, Kecamatan Sumobito, Kabupaten Jombang diamankan Satreskrim Polres Jombang. Ini setelah aksinya melakukan penipuan jual beli kendaraan berhasil terbongkar. Sedikitnya ada 17 kendaraan bermotor yang diamankan.

Modus operandi yang dilakukan, pelaku menawarkan sejumlah unit kendaraan bermotor baru dengan harga miring dengan pembayaran tunai. Misal ada mobil yang harganya Rp 150 juta, dijual pelaku dengan harga Rp 125 juta untuk menarik pembeli.

Kedok itu akhirnya terbongkar setelah mobil yang dibeli para korban secara tunai ternyata dikreditkan Mutik melalui leasing. Bahkan beberapa korban ditagih leasing kredit setelah beberapa bulan kemudian. Padahal korban membeli dan membayar secaracash (tunai).

Total 17 kendaraan bermotor jenis mobil dan sepeda motor disita polisi sebagai barang bukti. Atas perbuatannya, Mutik dijerat Pasal 378 KUHP tentang penipuan dengan ancaman lima tahun penjara. Kepada petugas, Mutik mengaku tidak bekerja sendiri. Polisi menyebut masih memburu nama lain yang disebut Mutik sebagai bos.

Barangbukti Hanya Sepeda Motor

SEMENTARA itu, dari persidangan Mutik, diketahui tak semua barangbukti yang dirilis Polres Jombang 28 Maret lalu, ikut dalam dakwaan. Tercatat, hanya tiga sepeda motor yang dijadikan barang bukti. Ini pula yang memengaruhi tuntutan hukuman hanya 1,5 tahun penjara.

Seperti yang terlihat pada Sipp.pn-jombang.go.id, barangbukti yang dijadikan bahan dakwaan hanya sepeda motor PCX, Scoopy dan Vario. Tiga sepeda motor itu yang dijanjikan Mutik untuk korban Latif Muqtadir, namun tak diberikan. Kerugian materiil hanya Rp 49 juta.

Kondisi ini jauh berbeda dengan saat rilis di Mapolres Jombang (28/3) lalu. Belasan mobil dan sepeda motor berjajar rapi sebagai barangbukti dugaan kejahatan yang dilakukan perempuan asal Brudu Sumobito itu.

Terkait hal ini, Kasipidum Kejari Jombang Tedhy Widodo tak menampik. Pihaknya, mengaku tak ada barangbukti berupa mobil dalam dakwaan. Seluruhnya tiga unit sepeda motor. Namun saat ditanya lebih lanjut, pihaknya mengaku tak tahu pasti. “Yang jelas berkas yang kami terima dan kami proses demikian adanya,” ucapnya.

Dikonfirmasi terpisah, Kanitpidum Satreskrim Polres Jombang Ipda Zico Bintang Yanottama juga menjawab sama. Ia membenarkan barang bukti mobil yang diduga hasil kejahatan Mutik itu tak diikutkan dalam berkas.

Kendati demikian, saat ditanya alasan tak diikutkannya barang bukti mobil ini, pihaknya mengaku tak tahu pasti. Zico menyebut akan terlebih dulu berkoordinasi dengan penyidik. “Saya akan tanyakan dulu ke penyidik karena penyidikannya sudah selesai, dan posisi sekarang baik kanit maupun kasatreskrim baru, dan itu kasus sudah lama,” pungkasnya.

(jo/riz/mar/JPR)

 TOP
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia