alexametrics
Rabu, 05 Aug 2020
radarjombang
Home > Tokoh
icon featured
Tokoh

Mengenal Hj Umy Hasunah, Pengasuh Asrama Putri X Hurun Inn Darul Ulum

26 Juli 2020, 11: 00: 59 WIB | editor : Mardiansyah Triraharjo

RAMAH: Hj Umy Hasunah (tengah), pengasuh Ponpes Darul Ulum Asrama Putri x Hurun Inn.

RAMAH: Hj Umy Hasunah (tengah), pengasuh Ponpes Darul Ulum Asrama Putri x Hurun Inn. (ANGGI FRIDIANTO/JAWA POS RADAR JOMBANG)

Share this      

JOMBANG - Alumni maupun santri Pondok Pesantren Darul Ulum (PPDU) Peterongan pasti tak asing dengan sosok muslimah yang satu ini. Hj Umy Hasunah dikenal ramah dan lembut dalam mendidik sehingga disukai santri. Penghafal Alquran sejak muda ini bisa menempuh pendidikan S1 dan ibadah haji secara gratis.

Umy Hasunah lahir 18 Juni 1965 dari pasangan H Hasan Samsuri asli Gresik dan Hj Atikah asli Lamongan. Anak kedua dari lima bersaudara ini sejak kecil besar di Surabaya. Ia mengawali pendidikannya di SD Plemahan Surabaya. Meski besar di kota Surabaya, namun sang ayah mendidik Alquran dengan disiplin.

Sebab SD, Neng Hasun, sapaan akrabnya, sudah sering mengikuti berbagai lomba baik tingkat sekolah, kecamatan hingga Kota Surabaya. Berbagai macam kejuaraan berhasil ia raih. ”Saya sering mengikuti lomba tilawah sejak usia 8 tahun. Dan Alhamdulilah sering dapat juara di Kotamadya Surabaya,” ujar dia saat ditemui di kediamannya kemarin.

Setiap libur sekolah, ayahnya selalu meminta untuk belajar menghafal Alquran di Pondok Qomarudin Gresik. ”Waktu libur satu minggu hingga dua minggu selalu saya manfaatkan untuk mondok hafalan Alquran,” tambahnya. Setelah lulus SD, ia diminta sang ayah untuk mondok di Ponpes Putri Walisongo milik Kiai Adlan Ali. Di pondok Cukir Diwek ini ia belajar selama enam tahun. ”Di MTsN hingga MA,” tegasnya.

Setelah lulus dari Pondok Putri Walisongo, Neng Hasun kemudian melanjutkan belajar ilmu agama di Ponpes Al Muayyad Solo satu tahun. “Di tempatnya KH Umar,” tambahnya. Selama mondok itulah hafalan Alquran terus terasah. Di usia yang masih muda, dia sudah berhasil menghafal 30 juz. Atas kemampuannya itu, ia mendapat beasiswa kuliah S1 di Institut Ilmu Al-Qur'an (IIQ) Jakarta. ”Saat itu siswa yang hafal Alquran akan mendapatkan beasiswa,” terangnya.

Ia menyadari, sejak awal kuliah hingga lulus tidak pernah mengeluarkan biaya sepeserpun. Segala kebutuhan akomodasi kuliah ditanggung sepenuhnya pihak kampus. Bahkan, setiap bulan ia mendapat uang saku dari yayasan sebesar Rp 20 ribu. ”Alhamdulilah banyak sekali berkah yang saya terima dari menghafal Alquran ini,” tambahnya.

Neng Hasun akhirnya lulus dari IIQ Jakarta 1986. Hanya saja, jadwal wisuda baru bisa diikutinya dua tahun kemudian. ”Saat wisuda 1988, bertepatan saya dipercaya menjadi peserta tahfidz Alquran dalam lomba Musabaqah Hifdzil Quran (MHQ) 30 juz di Sumatera Utara mewakili Kabupaten Langkat,” terang dia.

Berkat istiqomahnya dan tekat yang kuat dalam menghafal Alquran, Neng Hasun berhasil menjadi juara 1 MHQ 1988 tingkat provinsi dan menerima penghargaan ibadah haji. ”Saat itu saya naik haji bersama jajaran provinsi Jawa Timur,” kenangnya.

Sepulang haji, Neng Hasun kemudian menikah dengan KH Zaimuddin Wijaya As’ad putra sulung KH Moh Asad Umar (alm) dan Nyai Hj Azah Abd Rohim, 1990 silam. Sejak saat itu dia dipercaya menjadi salah satu dewan hakim MTQ Provinsi Jawa Timur.

 

Dewan Hakim MTQ Jawa Timur 30 Tahun

PERJALANAN Neng Hasun setelah menikah belum berhenti. Sebagai juara MTQ Nasional ia dipercaya menjadi dewan hakim ajang lomba Musabaqah Tilawatil Qur'an Tingkat Provinsi Jawa Timur sejak 1990.

”Setelah dipercaya menjadi dewan hakim MTQ, saya rutin diminta menjadi dewan hakim di berbagai kabupaten kota di Jawa Timur,” ujar dia. Ajang MTQ sendiri digelar dua tahun sekali. MTQ terakhir yang didatanginya di Tuban dua tahun lalu. ”Ada ribuan peserta yang mengikuti ajang tersebut,” tambahnya.

Tidak hanya dipercaya menjadi dewan hakim tingkat provinsi, Neng Hasun juga sering diminta menjadi dewan hakim MTQ Nasional. ”di Batam 2014 silam saya pernah dipercaya menjadi dewan hakim tingkat nasional,” papar dia.

Menurutnya, menjadi dewan hakim merupakan amanah dan tanggungjawab yang besar. Sebab, tugasnya dalam memberikan penilaian dalam kegiatan MTQ tidak boleh sembarangan. Dewan hakim harus menilai berdasarkan kemampuan peserta sesuai dengan kriteria lomba. ”Ada banyak cabang lomba di ajang MTQ, dan satu daerah biasanya bisa mengirim 20-an peserta,”pungkas ibu tiga anak ini.

Bina Santri Hafalan Alquran

SEHARI-hari, selain aktif sebagai dewan pembina MTQ Jawa Timur, Neng Hasun juga aktif di berbagai macam kegiatan pondok. Salah satunya membina santri Ponpes Darul Ulum Asrama Putri X Hurun Inn yang dijalaninya lebih dari 26 tahun.

”Sebelum Ponpes Darul Ulum Asrama Putri X Hurun Inn berdiri 1994 silam, saya dan suami aktif membina santri di Asrama 3 Nusantara milik orang tua (KH Moh Asad Umar),” ujar dia.

Sembari membina santri membaca Alquran, ia juga banyak belajar dari sosok sang mertua KH Moh Asad Umar. Meski sudah mengasuh pondok putri sendiri, Neng Hasun tetap aktif membina Asrama 3 Nusantara hingga beberapa tahun bersama suami dan KH Moh Asad Umar. ”Di sini masih sepuluh santri dan saya masih tetap membina di sana,” jelasnya.

Saat awal berdiri 1994, Pondok Putri Hurun Inn hanya memiliki beberapa santri. Namun berkat keuletan dan program hafalan Alquran yang dijalaninya, kini ada lebih dari 300 santri putri yang mondok. ”Setiap habis Magrib saya menerima setoran hafalan dari santri Qurun Inn mulai pukul 18.00 sampai pukul 20.00,” jelas dia lagi.

Ya, sejak 2010 Pondok Putri Hurun Inn membuka program baru hafalan Alquran. Dia meyakini, tidak semua santri ingin dan mau menghafal Alquran. Untuk itu, program hafalan hanya ditujukan bagi santri yang memiliki bakat dan tekat kuat untuk bisa menghafal. ”Jadi program ini sifatnya tidak wajib melainkan pilihan,” pungkasnya.

(jo/ang/mar/JPR)

 TOP
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia