alexametrics
Rabu, 05 Aug 2020
radarjombang
Home > Tokoh
icon featured
Tokoh

Anton Hoetomo, Drummer Powerslaves yang Ternyata Arek Jombang

26 Juli 2020, 10: 30: 59 WIB | editor : Mardiansyah Triraharjo

AREK JOMBANG: Anton Hutomo drumer Powerslaves yang merupakan asli arek Jombang tepatnya Wersah.

AREK JOMBANG: Anton Hutomo drumer Powerslaves yang merupakan asli arek Jombang tepatnya Wersah. (ANGGI FRIDIANTO/JAWA POS RADAR JOMBANG)

Share this      

JOMBANG - Anton Hutomo tak pernah menyangka jika cita-citanya menjadi drummer profesional terwujud. Ya, sejak awal 2019, pria kelahiran Jombang 5 April 1982 ini bergabung dengan grup band Powerslaves. Grub band tanah air yang membawakan musik rock and roll dan blues asli Semarang.

Bernama lengkap Antonius Priyo Rosarianto, namun lebih akrab dipanggil Anton Hutomo. Ia putra bungsu pasangan Andreas Soemarto asli Jogjakarta dan Kirstiana Mulayani asli Wersah Jombang. Sejak kecil, Anton memang bakat di dunia musik. Ia mengawali pendidikannya di SD Kristen Widjana angkatan 1988. Kemudian SMPN 1 Jombang 1994 dan SMAN 2 Jombang 2000.

Sejak SD, Anton memang getol bermain musik. Ia seringkali menghabiskan waktu untuk nge-band bersama teman-teman seumurannya. ”Sewaktu masih SMP, aku dulu sering main band di Studio Sarif Family, milik Pak Sarif di Kaliwungu,” ujar dia kemarin (18/7).

Saat masuk di SMPN 1 Jombang, Anton bersama teman-temannya mendirikan band bernama Bad Day. Mereka sering tampil di sekolah misalnya pentas seni, perpisahan dan beberapa acara festival band di Jombang kala itu. ”Itu hanya untuk menyalurkan hobi kami,” tambahnya.

Lulus SMP, masuk ke SMADA, Anton kemudian mendirikan band lagi bernama Violet beranggotakan empat personel yaitu Danar sebagai vokalis, Adi Pralayang (yayak) sebagai gitaris, Ahmad Yulianto sebagai bassis dan Antok sebagai keyboardis. ”Grub kami pernah membuat rekaman musik di tahun 2000-an,” jelas dia.

Ramai-ramainya grub band kala itu, membuat nama Violet kian moncer. Di Jombang sendiri, mereka sering tampil di beberapa event musik. Mulai perpisahan kampus, peringatan pentas seni dan perlombaan musik. Bahkan, Violet pernah rekaman satu album dengan Ari Lasso. ”Kita masuk satu album kompilasi bersama Ari Lasso,” kenangnya. 

Anton juga pernah menjuarai beberapa event nasional. Diantaranya, juara 1 Yamaha Drum se-Indonesia (2004), juara 2 Musik Price se-Indonesia (2002) dan the best drummer 1992 Jawa - Bali. ”Namun 2002 Violet akhirnya bubar karena kesibukan kami kuliah di sejumlah kota,” jelas dia.

Anton sempat kuliah di Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Surabaya jurusan pertanian. Namun, hanya berjalan hingga empat semester, setelah dia diterima di Intitut Teknologi Surabaya (ITS) jurusan Informatika. Setelah lulus ITS, Anton melanjutkan sekolah musik di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogjakarta. ”Lulus dari ISI kemudian saya sempat bekerja manggung di café-café,” pungkasnya.

Dampingi Ari Lasso dan The Virgin

PERJALANAN Anton di dunia musik tanah air, dimulainya ketika ia pindah ke Jogjakarta. Saat itu ia pernah mendampingi Ari Lasso hingga The Virgin di beberapa program musik televisi.

Cerita Anton bermula dari grup Band Celtic. Sebuah grup kumpulan anak-anak muda di Yogyakarta. Meski tak begitu moncer, namun dari situlah Anton punya beberapa kenalan sesama musisi di Kota Gudeg. Diantaranya, Eros Sheila on 7, Pongky Jikustik dan beberapa musisi asli Yogyakarta. ”Kita sesama musisi memang sering kumpul,” ujar dia.

Jika tidak ada jadwal manggung, Anton sering menghabiskan waktu dengan mereka. Saling belajar ke sejumlah senior dan memperluas jaringan.”Saya dulu pernah bergabung dengan the King, grub band asli Jogjakarta yang sering manggung di café-café. Dari situlah saya mulai merasakan bisa dapat uang dari musik,” jelasnya.

Selama lima tahun lebih Anton bergabung dengan the King. Mereka sering manggung di berbagai tempat. Bahkan, Anton juga pernah manggung di luar daerah seperti Batam, Jawa Barat dan beberapa daerah lain. ”Kita setiap hari manggung jarang ada jadwal istirahat, bahkan saat di Batam kita main hingga malam,” jelas Anton lagi.

Dengan sedikit berat hati, akhirnya dia memutuskan kembali menetap di Jogjakarta sembari menyiapkan project baru. Seiring berjalannya waktu, Anton kemudian mengajak Anjar Budoyo, finalis empat besar Akademi Fantasi Indosiar (AFI) 2005 untuk mendirikan Mysin. ”Jadi Anjar AFI vokalis, aku di drum, Andi mantan gitaris Mata Band sebagai gitaris, Nando di Bass dan kami pun jalan,” papar dia.

Baru berjalan beberapa bulan, Mysin kemudian meluncurkan album pertama berjudul Aku Kamu, Selalumu dan Bersandinglah Dengaku yang diproduseri WnD music asli Surabaya. ”Waktu itu kita skalanya udah menasional, kami sering main di beberapa event musik, dan beberapa pentas lain,” jelasnya.

Beberapa tahun berjalan bersama Mysin, Anton merasa kurang produktif karena ada batasan dan aturan yang ditentukan sang produser. Akhirnya, Anton memutuskan mengundurkan diri dan bergabung menjadi drummer Juliette Band di Jakarta. ”2009 saya cabut dari Mysin dan seminggu kemudian saya main di Juliete,” beber dia.

Sebagai drummer profesional tak sulit bagi Anton untuk mengikuti ritme musik Juliette. Bahkan, sehari setelah bergabung dengan Juliette, ia langsung manggung di salah satu acara TV swasta di Jakarta. ”Waktu itu saya manggung di program the rings,” papar dia.

Anton berjalan dengan Juliette cukup lama hingga dua tahun. Namun karena berbeda aliran musik, satu persatu personel grup band tersebut hengkang. Antonpun memutuskan untuk menjadi season player di beberapa band yang ingin menyewa jasanya. ”Saya kemudian jadi season player dan additional beberapa band,” terangnya.

Anton bergabung dengan Republik Cinta Management (RCM) milik Ahmad Dhani. Diapun bergabung dan banyak belajar dari sesama musisi senior di RCM. ”Di RCM kami ketemu Pak dhe Dhani, kami standby untuk jadi additional,”papar dia.

Anton sering kali mendampingi beberapa penyanyi solo bermain. Misalnya Ari Lasso maupun the Virgin. ”Zamannya the Virgin main  sebagai drumer sebagai additional saja, kemudian sama Ari Lasso dan Ahmad Bersaudara El Dul juga pernah,” pungkasnya.

Konser Terhalang Pandemi

SEJAK bergabung menjadi dummer Powerslaves awal 2019, Anton sudah manggung di beberapa tempat dan event musik. Namun memasuki 2020, semua agenda ditunda hingga batas waktu yang belum dipastikan karena pandemi Covid-19. Terakhir manggung Festival Musik Jogjarockarta di Stadion Kridosono November 2019 lalu.

”Saya masih ingat manggung bersama Scorpion dan sejumlah band internasional,” ujar dia. Selama hampir dua tahun menjadi personel Powerslave, paling banyak mereka konser di hard rock café Jakarta. ”Powerslaves alirannya sesuai dengan karakter saya, rock metal, jadi dimanapun konser serasa menjiwai,” tambahnya.

Kini, setelah ada pandemi Covid-19, semua jadwal manggung Powerslaves dibatalkan. Menurutnya, panggung hiburan adalah sektor yang paling terpukul dengan adanya pandemi. Tak hanya di Indonesia, namun di penjuru dunia. ”Jadi kebanyakan kini konser dilakukan secara virtual di chanel Youtube, instagram hingga facebook,” jelas dia.

Beruntung, Anton memiliki bisnis sampingan yang dapat diandalkan di Jakarta. Yakni bisnis restorasi mobil klasik. ”Selain manggung, kesibukanku selama hampir empat tahun ini di bengkel restorasi mobil klasik, terus sibuk juga usaha bikin cajon drum kayu, yang saya stok ke beberapa toko musik termasuk di Jombang,” pungkasnya.

(jo/ang/mar/JPR)

 TOP
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia