alexametrics
Rabu, 05 Aug 2020
radarjombang
Home > Tokoh
icon featured
Tokoh

Anom Antono, ASN Pemkab Jombang yang Eksis Uri-Uri Seni Wayang Kulit

26 Juli 2020, 10: 00: 59 WIB | editor : Mardiansyah Triraharjo

URI-URI BUDAYA: Anom Antono, ASN Pemkab Jombang yang getol uri-uri budaya wayang kulit.

URI-URI BUDAYA: Anom Antono, ASN Pemkab Jombang yang getol uri-uri budaya wayang kulit. (ANGGI FRIDIANTO/JAWA POS RADAR JOMBANG)

Share this      

JOMBANG - Bagi pegiat budaya di Kabupaten Jombang, nama Anom Antono tentu tak asing. Lelaki yang kesehariannya sebagai aparatur sipil negara (ASN) ini eksis uri-uri kesenian wayang kulit. Bahkan sudah menjadi dalang sejak 1996 sebelum ia diangkat menjadi pegawai negeri.

Anom Antono lahir di Desa Gabusbanaran, Kecamatan Tembelang, Kabupaten Jombang 16 November 1973. Anak kedua dari tiga bersaudara pasangan dalang Hadi Carito dan Hj Duryati ini memang satu-satunya putra yang mewarisi bakat dari ayahnya di dunia perdalangan. Ayahnya merupakan  salah satu dalang senior di Jombang. 

Anom mengenyam pendidikan SD hingga SMP di Jombang. Ia belajar di SDN Gabusbanaran 1 dan SMPN 1 Ploso. Setelah itu, melanjutkan ke SMK I Surakarta yang sekarang menjadi SMKN 8 Surakarta jurusan seni perdalangan. ”Dari dua saudara, memang saya tidak pandai kimia dan matematika, sehingga bapak menyekolahkan di jurusan seni perdalangan,” ujarnya kemarin (25/7).

Setelah lulus SMK, suami Luchy Hardhani ini tidak langsung kuliah. Kendala biaya menjadikan ia harus menunda keinginannya kuliah selama setahun. Selama itu pula Anom sering diminta warga untuk mengisi hiburan wayang kulit. ”Sejak lulus SMK saya sering diundang warga untuk ndalang, mulai hajatan khitanan, resepsi pernikahan hingga sedekah desa,” jelas dia.

Anom sudah mulai berlatih mendalang sejak kecil. Berbagai karakter tokoh pewayangan mulai Hanoman, Indrajit, Jatayu hingga Subali dan Sugriwa dia hafal. Anom juga sering diminta membantu ayahnya kala ada banyak pertujukan wayang. ”Saya sering menggantikan bapak kalau banyak jadwal,” tambahnya.

Setahun kemudian Anom baru melanjutkan kuliah dan masuk di  Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) yang sekarang menjadi Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta. Namun karena terlanjur sering manggung, perkuliahan Anom menjadi molor. Pendidikan S1 yang seharusnya dapat selesai empat tahun, ternyata molor hingga delpaan tahun. ”Ya, karena sering diundang ndalang jadi molor,” kenangnya sembari tertawa.

Anom termasuk anak yang tidak ingin merepotkan orang tua. Honor dari hasilnya ndalang ia gunakan membayar biaya kuliah. Setelah lulus dari STSI Surakarta 2001, Anom kemudian kembali ke Jombang. Pada 2003, Anom diminta membantu acara adat kumkum sinden di Sendang Made. Dengan kepiawaiannya, Anom memandu acara kumkum sinden dengan bahasa Jawa yang merdu.

Secara tak sengaja, Bupati Suyanto seusai acara menghampiri Anom dan bertanya tentang asal usulnya. ”Lalu saya ditanya kamu lulusan apa dan anaknya siapa. Kemudian dengan spontan beliau menawari saya menjadi honorer di dinas Dinas Pariwisata Budaya Pemuda dan Olahraga (Parbupora) karena membutuhkan pegawai yang bisa memandu acara adat,” kenangnya.

Tak lama, Anom kemudian menjadi staf di Dinas Parbupora. Dua tahun kemudian ia dinyatakan lolos seleksi PNS. Dalam perjalanan karirnya, ia kemudian dipercaya menjadi Kasi Pengembangan Organisasi Kebudayaan 2017. Kini, ia menjabat Kasi Sejarah dan Budaya di Dinas P dan K Jombang. Serta merangkap Plt Kasi Cagar Budaya dan Permusiuman dan Plt Kepala Bidang Kebudayaan.

Lestarikan Peninggalan Leluhur

SEJAK 2000, Anom Antono sudah eksis di dunia perdalangan. Bersama grub Sanggar Seni Mayangkara yang anggotanya dari anggota dalang ayahnya, ia meneruskan  kesenian wayang kulit hampir 20 tahun ini.

Sebelum menjadi PNS, Anom seringkali manggung kesana kemari mengisi acara hajatan resepsi pernikahan hingga sedekah desa. Sekali manggung, ia harus duduk semalam suntuk mulai pukul 21.30 hingga 04.00 dini hari. ”Dalam sekali tanggapan, kami berangkat bersama puluhan anggota yang didalamnya ada penabuh gamelan, sinden hingga petugas sound system,” tambahnya.

Honor sekali tanggapan, kata Anom, berkisar antara Rp 15 juta sampai Rp 20 juta. Nilai itupun bergantung dari lamanya acara dan kelengkapan personil yang ikut bergabung. Menurut Anom, kepuasan seorang dalang bukanlah mendapat honor yang banyak. Namun antusiasme dari penonton/warga adalah tantangan terbesar bagi seorang dalang. ”Dalang itu berat. Sangat berat,” tegasnya.

Dalang harus duduk semalam suntuk hingga dini hari dengan membawakan cerita selama pertunjukan. Ada puluhan bahkan ratusan karakter tokoh pewayangan yang harus ditampilkan. ”Kepuasan kami ketika membawakan cerita lucu penonton ikut tertawa, ketika cerita sedih penonton ikut bersedih. Kalau kami membawa cerita lucu tapi penonton justru semakin sepi dan pulang sendiri-sendiri. Berarti gagal membawakan cerita,” jelas dia.

Dalam pandangannya, keberhasilan seorang dalang membawakan cerita tergantung dari kemampuan dalang menjiwai setiap karakter yang ditunjukkan. ”Saya sudah berlatih jadi dalang sejak SMP dan hingga kini masih eksis,” jelasnya lagi. Hanya saja, masa pandemi Covid-19 membuat ia dan  grub wayangnya tak pernah ada job. ”Terakhir tanggapan 2019 lalu di Desa Tambar acara sedekah desa,” pungkasnya.

Gelar Budaya Sabtu Pahingan

MELALUI Dinas P dan K Jombang, Anom Antono memfasilitasi para pegiat budaya, seniman dan generasi muda untuk melestarikan sekaligus menjaga kesenian daerah agar tetap eksis. Kegiatan  itu diberi nama gelar budaya sabtu pahingan.

Gelar budaya sabtu pahingan sendiri berjalan sejak 2018 lalu. Setiap malam Sabtu pahing atau 36 hari sekali, kegiatan ini digelar di Pendopo Jombang. Para seniman, budaya atau generasi muda yang notabene kalangan pelajar boleh menampilkan kesenian di Pendopo Jombang. ”Kenapa pendopo karena disana sudah ada gamelan, sound dan tempat yang luas untuk mereka,” ujar Anom.

Apalagi kegiatan tersebut mendapat dukungan dari Bupati Mundjidah Wahab dan Wabup Sumrambah. ”Memang program itu sebagai bentuk salah satu ruang publik untuk memfasilitasi teman-teman seniman berkarya, berlatih sekaligus menunjukkan kebolehan mereka,” tambah bapak tiga anak ini.

Anom juga menggandeng MGMP Seni Budaya untuk mengundang siswa-siswi di sekolah agar bisa menampilkan kesenian lokal. Budaya yang ditampilkan tidak cenderung satu aspek. Lebih dari itu, semua aspek mulai dari tarian, wayang, macapatan, permainan tradisional hingga karawitan. ”Ada beberapa sekolah yang pernah tampil diantaranya SDN 1 Bedahlawak, SMPN 1 Kudu, SDN Jombatan hingga organisasi kemasyarakatan desa,” tandasnya.

Di sejumlah organisasi, Anom juga pernah aktif sebagai wakil sekretaris KONI selama tiga periode, bendahara persatuan pedalangan Indonesia Jombang (PEPADI) dan Koordinator seni dan budaya KNPI Jombang. Selain itu, Anom juga sering diminta menjadi MC dalam acara hajatan pernikahan, pengajian, maupun acara desa.

(jo/ang/mar/JPR)

 TOP
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia