alexametrics
Selasa, 04 Aug 2020
radarjombang
Home > Jombang Banget
icon featured
Jombang Banget

Produksi Kain Ecoprint Ramah Lingkungan di Jombang Mulai Bergeliat

25 Juli 2020, 09: 25: 42 WIB | editor : Mardiansyah Triraharjo

Kegemaran Budi Rahayu Ningsih mengumpulkan segala jenis dedaunan yang diolah untuk bahan kain batik alami, berbuah rupiah. Dalam setahun terakhir, hobi ecoprint yang dilakukannya bernilai jual tinggi.

Kegemaran Budi Rahayu Ningsih mengumpulkan segala jenis dedaunan yang diolah untuk bahan kain batik alami, berbuah rupiah. Dalam setahun terakhir, hobi ecoprint yang dilakukannya bernilai jual tinggi. (WENNY ROSALINA/JAWA POS RADAR JOMBANG)

Share this      

JOMBANG - Kegemaran Budi Rahayu Ningsih mengumpulkan segala jenis dedaunan yang diolah untuk bahan kain batik alami, berbuah rupiah. Dalam setahun terakhir, hobi ecoprint yang dilakukannya bernilai jual tinggi.

“Ecoprint itu ramah lingkungan, tidak hanya mengambil hasil alam, tapi juga merawatnya,” katanya mengawali perbincangan dengan koran ini kemarin. Aktivitas itu dijalaninya mulai dengan memberi tanda atau jejak memakai tanaman, batang, daun, bunga ke media, bisa kain atau kulit dengan pewarna alami dan ramah lingkungan.

Ya, semua tanaman bisa dimanfaatkan untuk membuat karya ecoprint. Mulai dari daun, batang, hingga bunga. Semua bisa dipakai. Budi memanfaatkan tanaman disekitar rumahnya untuk membuat karya ecoprint.

Menurutnya sebagian besar daun bisa dimanfaatkan. Daun mangga misalnya, jika diletakkan pada kain akan meninggalkan jejak warna hijau. Daun ketapang besar menjadi warna hijau, hingga kulit bawang bombai juga bisa digunakan.

Untuk bunga, ia biasanya menggunakan bunga kesumba untuk mengeluarkan warna pink fanta. Sedangkan kayu secang, kayu tingi, kayu mahoni dan kayu nangka juga bisa dipakai. Termasuk daun bayam pun juga bisa dipakai. Namun untuk daun bayam dan buah-buahan tidak disarankan karena warnanya tidak terlalu melekat di kain.

“Warnanya cepat ambyar kalau dicuci, jadi seperti buah naga yang mengeluarkan warna cerah begitu, tapi warnanya tidak bisa nancep,” tambahnya. Dari semua tanaman yang pernah digunakan, ia mengaku paling suka daun jati. Menurutnya, daun jati memiliki warna merah gelap yang sangat menarik, dan sejauh ini tak pernah gagal menancapkan warna daun jati ke kain.

“Kata orang jati tak pernah ingkar janji, dan benar, daun jati tidak pernah gagal produksi dan hasilnya sangat bagus sekali, seratnya bagus, warnanya juga bagus,” ungkapnya sembari menunjukkan corak baju yang ia kenakan bermotif daun jati.

Ia menyampaikan, tak semua kain bisa digunakan untuk menjadi media ecoprint. Kain yang dipilih adalah kain yang memiliki serat alami seperti katun dan sutra. “Kain katun kan dari tumbuhan,” tambahnya.

Ia selalu menggunakan warna dasar putih. Kain yang sudah dibeli tidak bisa serta merta langsung melalui proses cetak. Namun harus dibersihkan dulu dari bahan kimia yang ada di kain tersebut. Setelah kain dinyatakan bebas dari zat kimia, barulah proses pewarnaan dasar.

Jika sebelumnya ingin menggunakan warna dasar, maka dicampur dulu dengan rendaman kayu secang atau jenis kayu lain sesuai warna. “Secang memunculkan warna kemerahan,” tambahnya. Perendaman dilakukan kurang lebih semalam. Setelah itu baru ditempel daun yang akan dijadikan bahan motif. Daun ditempel tak beraturan dan cenderung tak rapi.

“Karena kita campurkan semua daun, jadi semakin berantakan semakin bagus, justru kalau tertata rapi tidak bagus, kecuali kita menggunakan satu jenis daun,” tambahnya.

Setelah daun ditempel, kemudian ditutup lagi dengan kain baru dengan plastik. Digulung hingga tidak ada udara yang bisa masuk, baru kemudian dikukus selama dua jam dengan api sedang. Setelah proses pengukusan selesai, kain dijemur dibawah sinar matahari yang tidak langsung. Seminggu kemudian baru dilakukan penguncian warna.

Jika ingin gelap menggunakan tunjung, jika ingin warna asli daun tersebut menggunakan tawas. Selebihnya, jika ingin warna yang lebih lembut diberi kapur. Setelah itu kembali dijemur dengan cara yang sama. Baru kemudian dicuci tanpa sabun hingga warna yang menempel pada kain tidak keluar lagi.

“Setelah itu, diangin-anginkan lagi sampai kering baru kita coba cuci pakai detergen, ini sudah tidak luntur, karena setelah penguncian sisa-sisa warna semua kita buang,” tambahnya. Setelah dicuci, dijemur lagi, baru kemudian kain sudah jadi dan siap diproduksi.

Ecoprint tidak hanya bisa dilakukan dengan media kain, tapi juga dengan media kulit. Bahkan hasil ecoprint di kulit disebutnya lebih bagus karena protein bahan kulit lebih baik. “Di kain sutra juga sangat bagus, kelihatan mewah dan warnanya sangat menarik,” jela dia.

Kain yang sudah siap jual itu dibungkus dengan besek. Ia menyebut besek karena dianggapnya lebih ramah lingkungan jika dengan kemasan plastik. Tidak hanya dijual per lembar, ia juga menjual hasil ecoprint ini dalam bentuk barang seperti tas, sepatu, dompet dan lain sebagainya. Selain secara online, beberapa hasilnya juga dipajang di Dekranasda Jombang.

Salah satu pelanggan tetap yang sering kali memakai produk ecoprint buatannya adalah Ny Wiwin Sumrambah. “Bu Wabup sering cari ke saya, karena istimewanya produk ecoprint tidak ada yang menyamai, betul-betul limited, beberapa yang saya buat produk dari kulit, untuk bahan dompet, sendal, sepatu, tas. Tapi yang buat bukan saya sendiri, industri sepatu rumahan di sekitar,” jelasnya.

Ia lantas menyebut produk kain ecoprint yang dibanderol dengan harga Rp 200-Rp 300 ribu per potong. Harga ini untuk jenis katun. Sementara kain sutra lebih mahal antara Rp 400 ribu sampai Rp 750 ribu per potong.

(jo/wen/mar/JPR)

 TOP
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia