alexametrics
Rabu, 05 Aug 2020
radarjombang
Home > Kota Santri
icon featured
Kota Santri

Masjid Darul Ulum Rejoso; Usia Seabad, Didirikan KH Tamim Irsyad

24 Juli 2020, 11: 06: 16 WIB | editor : Mardiansyah Triraharjo

Masjid Pondok Pesantren Darul Ulum di kompleks asrama induk putra. Persisnya di depan ndalem kasepuhan KH M Romly Tamim, pendiri pondok pesantren.

Masjid Pondok Pesantren Darul Ulum di kompleks asrama induk putra. Persisnya di depan ndalem kasepuhan KH M Romly Tamim, pendiri pondok pesantren. (MARDIANSYAH TRIRAHARJO/JAWA POS RADAR JOMBANG)

Share this      

JOMBANG – Sebagai salah satu pondok tua di Jombang, pesantren Darul Ulum Rejoso, memiliki masjid yang punya nilai sejarah. Selain yang berada di lapangan pondok, ada juga masjid lain yaitu di kompleks asrama induk putra. Persisnya di depan ndalem kasepuhan KH M Romly Tamim, pendiri pondok pesantren.

Jawa Pos Radar Jombang kemarin (23/7) mendatangi masjid ini. Karena berlokasi di dalam asrama santri, masjid ini berbeda dengan masjid pada umumnya. Ada proteksi khusus dari petugas keamanan pondok. Tak semua orang bisa masuk, kecuali jika mendapatkan izin. Bahkan masjid ini kurang begitu terlihat jika dipantau dari luar. Karena ada tembok cukup tinggi yang mengelilingi bangunan masjid.

Binhad Nur Rohmad, penelusur sejarah yang tinggal di kawasan pondok pesantren Darul Ulum, menyebut, usia masjid sudah 100 tahun lebih. ”Sampai sekarang belum ada sumber data tentang tahun berapa masjid ini berdiri. Tapi masjid ini sudah ada sejak tahun 1905,” katanya.

Perbandingan kondisi menara dan asrama masjid, dulu (melalui arsip foto) dan saat ini.

Perbandingan kondisi menara dan asrama masjid, dulu (melalui arsip foto) dan saat ini. (MARDIANSYAH TRIRAHARJO/JAWA POS RADAR JOMBANG)

Sejarah berdirinya masjid, kata Binhad memang tidak bisa dipisahkan dengan perjalanan hidup KH Tamim Irsyad, kiai asal Bangkalan Madura.

KH M Romly Tamim adalah satu dari empat putra Kiai Tamim Irsyad. Urutannnya, anak pertama adalah Muhammad Fadlil, Siti Fatimah, Muhammad Romly Tamim, dan terakhir yaitu Umar Tamim. KH Romly Tamim sendiri lahir pada 1888 di Bangkalan. Saat masih bayi, orang tuanya mengajak boyongan ke Jombang.

Setelah nyantri di berbagai pondok pesantren, KH Romly Tamim kembali pulang ke Rejoso. ”Di sini beliau mengembangkan pesantren pada 1939. Masjid yang awalnya berbentuk musala tempat mengaji biasa, berubah menjadi masjid dan memiliki banyak santri dari berbagai daerah,” lanjutnya.

Masjid ini pun menjadi pusat kegiatan pendidikan keagamaan para santri. Sejumlah tokoh yang pernah mengaji di masjid ini diantaranya, KH Muhammad Abbas (Cirebon), KH Muhammad Utsman Ishaq (Surabaya), KH Shonhaji (Kebumen), dan KH Imron Hamzah (Sidoarjo).

Dari pernikahannya dengan Nyai Maisaroh, KH Romly Tamim memiliki dua putra yaitu Ishomuddin Romly dan Musta'in Romly. Putra keduanya ini yang kemudian menjadi pengasuh pesantren, setelah KH Romly Tamim wafat 6 April 1958. ”Beliau mendirikan sekolah umum di dalam pesantren, di samping madrasah diniyah yang sudah ada. Di masjid ini, KH Musta'in Romly mendidik santri-santrinya,” tambah Binhad.

Jadi Saksi Gugurnya Pejuang Hizbullah saat Agresi Militer Belanda

SELAIN bangunannya yang tua, masjid Darul Ulum Rejoso,  juga kental akan nilai sejarah. Masjid ini diketahui sebagai lokasi gugurnya Gus Ishomuddin Romly, putra pertama KH Romly Tamim. Peristiwa gugurnya Gus Ishomuddin terjadi sekira 1948 silam, pada masa Agresi Militer Belanda.

”Mbah Ishomuddin adalah pejuang Laskar Hizbullah. Usia beliau saat itu masih remaja,” kata Binhad.

Cerita dimulai saat para pejuang Laskar Hizbullah yang terdiri dari santri, bersembunyi di Masjid Darul Ulum yang dipakai markas. Mereka menyelamatkan diri dari kepungan Belanda.

Namun takdir berkehendak lain, Belanda berhasil menemukan tempat persembunyian mereka. Hingga kini belum ada sumber data mengenai berapa jumlah pejuang Laskar Hizbullah yang gugur dalam serangan itu.

Namun salah satu pejuang yang gugur, dipastikan adalah Gus Ishomuddin Romly. ”Beliau gugur ditembak serdadu Belanda. Menurut cerita, lokasi penembakan di tempat wudlu sisi utara masjid,” imbuhnya.

Gus Ishomuddin Romly lalu dimakamkan di kompleks pemakaman keluarga pondok pesantren Darul Ulum.

Binhad mengaku memiliki sejumlah foto masjid yang diambil puluhan tahun silam. Foto itu adalah dokumentasi pondok pesantren yang tercecer di gudang arsip. ”Kalau spesifik yang berhubungan dengan masjid, ada tiga foto yang saya temukan. Foto pertama, terlihat Mbah Kiai Romly Tamim di depan serambi masjid. Kemudian dua foto lainnya adalah para santri yang bermain di halaman masjid,” tambahnya.

Khusus mengenai foto yang di dalamnya terdapat KH Romly Tamim, Binhad menyebut masih menjadi perdebatan sejumlah kalangan. Pasalnya, KH Romly Tamim dikenal memiliki ilmu tinggi, sehingga tidak bisa diambil gambarnya melalui kamera. ”Ada yang meyakini begitu. Tapi dari arsip yang saya simpan ini, wajah sangat mirip dengan Mbah Kiai Romly Tamim,” imbuhnya.

Ditambah lagi, foto itu bersumber dari buku harian KH Musta'in Romly, putra kedua KH Romly Tamim. ”Buku hariannya masih saya simpan. Saya temukan dari gudang arsip,” ucapnya.

Foto itu lanjut Binhad, kemungkinan besar diambil sebelum 1958. Sebab, KH Romly Tamim meninggal dunia pada tahun itu.

Sementara itu, konstruksi masjid hingga kini masih terlihat utuh seperti saat awal dibangun. Meskipun cukup banyak penambahan bangunan, misalnya bagian serambi masjid yang diperluas. Kemudian halaman masjid yang dulu terbuka, kini sudah memiliki atap.

Sudah berusia lebih dari satu abad, bagian dalam masjid masih dibiarkan asli. Dari mulai atap, dinding, mihrab, hingga menaranya. ”Menara yang asli ada di sisi selatan. Kalau menara di sisi utara, menurut cerita itu dibangun setelah menara pertama. Supaya punya dua menara kiri dan kanan,” ujarnya.

Empat pilar penyangga, hingga kusen dan pintunya, semua masih peninggalan lama dan belum pernah diganti. Gedung bundar di sisi selatan masjid, dan sebuah asrama tua, sampai sekarang juga masih ada.

(jo/mar/mar/JPR)

 TOP
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia