alexametrics
Sabtu, 15 Aug 2020
radarjombang
Home > Peristiwa
icon featured
Peristiwa

Giliran Istri Sekdakab Jombang Terkonfirmasi Positif Covid-19

24 Juli 2020, 10: 48: 54 WIB | editor : Mardiansyah Triraharjo

ILUSTRASI: Covid-19

ILUSTRASI: Covid-19 (ISTIMEWA)

Share this      

JOMBANG – Ny Nuriyatin Jazuli, istri Sekda Jombang akhirnya dinyatakan positif Covid-19. Ini setelah hasil uji swab yang dijalaninya keluar kemarin sore. Namun kondisi kesehatan Ketua DWP Kabupaten Jombang dan Ketua Perwosi ini lebih stabil.

“Kemarin sore (22/7) hasil uji swab keluar, dan hasilnya sama seperti suami, terkonfirmasi positif,” ungkap Pudji Umbaran, Koordinator Bidang Penanganan Gugas PP Jombang, kemarin. Menurutnya, kondisi kesehatan Ny Nuriyatin relatif lebih stabil jika dibandingkan dengan Sekda Akhmad Jazuli. “Kesehatan Bu Sekda lebih prima, dan Pak Sekda yang sempat drop hari ini juga mulai membaik,” tambahnya.

Mengenai sumber penularan, Pudji tak menjelaskan secara detail. Ia hanya menyebut, sebagai pejabat publik, sekda tentu banyak bertemu banyak orang dimana saja dan kapan saja. Apalagi sering menempuh perjalanan pulang pergi Jombang-Mojokerto karena memang berasal dari Mojokerto dan bertempat tinggal di Kota Mojokerto. Sehingga potensi penularan cukup tinggi.

Setelah sekda dinyatakan Covid-19, lanjutnya, sejumlah orang di lingkup rumah dinas sekda, pendopo dan sekpri harus menjalani rapid test. Semua dinyatakan nonreaktif. Meski begitu, untuk orang-orang yang kontak erat seperti ajudan dan driver, ia sudah meminta untuk melakukan isolasi mandiri di rumah.

“Sepuluh orang lebih yang kemarin di-rapid test, rumah dinas juga harus dikosongkan, kita disinfektasi selama tiga hari berturut-turut, general cleaning. Setelah dinyatakan betul-betul steril, baru boleh ditempati,” jelasnya.

Sementara itu ditanya keberadaan istri dua kepala dinas yaitu Ny Dyah Masduki istri Kepala Dispendukcapil Jombang dan Ny Sri Saleh istri Kepala Dinsos Jombang, lebih dulu terpapar. Pudji menceritakan, jika keduanya sempat bepergian ke salah satu tempat perbelanjaan di Surabaya. “Acara apa saya kurang tahu,” tambah dia.

Seminggu setelah bepergian, keduanya mengalami gejala yang mirip Covid-19. Kemudian dilakukan uji swab dan hasilnya positif. Masduqi yang sehari-hari bersama dengan istri juga diuji swab dan dinyatakan positif. Tidak demikian dengan M Saleh Kepala Dinsos Jombang hasil uji swab yang dilakukan kemarin dinyatakan negatif. “Hari ini kita uji swab lagi. Kalau hasilnya negatif, sesuai dengan revisi kelima Kemenkes, kontak erat harus menjalani isolasi mandiri, minimal 10-14 hari,” tambahnya.

Sementara itu, salah seorang putra Inspektur Jombang Eka Suprasetya juga terpapar Covid-19 di Surabaya. Karena kontak erat dengan putranya, Eka juga menjalani rapid test dan hasilnya nonreaktif. Namun harus tetap menjalani isolasi mandiri. Hingga dua minggu ini kondisi kesehatannya stabil. “Pak inspektur sempat konsultasi. Isolasi mandiri dijalani secara ketat di Surabaya. Alhamdulillah sampai hari ini keluarga lain tidak terpapar,” pungkas Pudji.

Satu ASN Perkim Cenderung Reaktif

TERPISAH, rapid test juga dilaksanakan di Dinas Perumahan dan Permukiman (Perkim) dan Dinas PUPR Jombang. Hasilnya, sementara ada satu pegawai Perkim yang cenderung reaktif.

Heru Widjajanto Kepala Dinas Perkim Jombang menyebut total ada 46 orang yang mengikuti rapid test. Masing-masing dari tenaga honorer dan ASN. “Satu orang hasilnya cenderung reaktif. Artinya masih samar-samar,” katanya dikonfirmasi Kamis kemarin (23/7).

Pihaknya langsung memberikan instruksi kepada satu pegawainya itu untuk melakukan isolasi mandiri di rumah. Sesuai arahan dari gugus tugas isolasi selama 14 hari. “Yang bersangkutan langsung kita minta pulang ke rumah dan libur. Untuk melakukan isolasi mandiri di rumah,” imbuh dia.

Kebijakan itu berpedoman pada saran Dinkes setelah melihat situasi belakangan terakhir. Sehingga selama 14 hari ke depan menjalani isolasi mandiri. “Saran dari dinkes tadi karantina mandiri dulu, biar aman. Karena yang bersangkutan  kondisinya sehat, juga tidak menunjukkan gejala seperti flu, demam atau batuk,” sambung Heru.

Selanjutnya bakal ditindaklanjuti gugus tugas. Apakah akan dilakukan rapid test ulang atau langsung uji swab. “Karena kalau ini cenderung reaktif bisa jadi karena faktor lain. Makanya nanti ada rapid lagi kepada yang bersangkutan,” terangnya.

Kendati demikian, ia menyebut seluruh pegawai tetap berdinas seperti biasa. “Tapi tetap mengikuti protokol kesehatan yang kita utamakan, rapat juga sekarang menyesuaikan. Intinya kita coba untuk membatasi rantai penularan,” tegas Heru.

Sementara itu, Miftahul Ulum Kepala Dinas PUPR Jombang menyebut ada 160 pegawai ASN dan tenaga honorer yang juga di-rapid test. Namun dia belum bisa menyampaikan hasil seluruh pegawai. “Sampai sore (kemarin, Red) hasilnya belum keluar, mungkin dinkes akan segera komunikasi dengan kita,” imbuh dia.

Pelaksanaan rapid test di tempatnya baru terlaksana pukul 11.00. Sehingga hasilnya tidak bisa keluar hari ini (kemarin, Red). “Tadi disampaikan petugas dinkes akan mengirim dulu ke pimpinan, baru disampaikan ke kita,” ungkapnya.

Untuk aktivitas kantor sementara berjalan normal seperti biasa. Pihaknya menunggu instruksi Bupati Jombang Mundjidah Wahab. “Apakah harus kembali WFH atau bagaimana. Yang jelas Senin kemarin kami sudah tidak melaksanakan apel pagi,” pungkas Ulum.

(jo/wen/fid/mar/JPR)

 TOP
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia