alexametrics
Jumat, 25 Sep 2020
radarjombang
Home > Kota Santri
icon featured
Kota Santri

Sinyal Seluler Tak Ada, Murid SDN Marmoyo Kabuh Pilih Belajar Kelompok

23 Juli 2020, 13: 57: 28 WIB | editor : Mardiansyah Triraharjo

Anak-anak Desa Marmoyo terpaksa berkumpul di tempat-tempat yang menyediakan akses internet melalui Wifi.

Anak-anak Desa Marmoyo terpaksa berkumpul di tempat-tempat yang menyediakan akses internet melalui Wifi. (AZMY ENDIYANA Z/JAWA POS RADAR JOMBANG)

Share this      

JOMBANG – Belajar di rumah secara daring masa pandemi Covid-19, ternyata memunculkan masalah baru bagi siswa yang tinggal di wilayah terpencil. Salah satunya, anak-anak di Desa Marmoyo, Kecamatan Kabuh, Kabupaten Jombang yang sulit jaringan internet.

Sekretaris Desa Marmoyo Sumandi mengungkapkan, jaringan internet di desanya merupakan sesuatu sangat langka. Di desa yang dihuni sekitar 1.100 jiwa itu akses internet sangat terbatas. Selama ini, akses jaringan internet hanya berada di Kantor Desa Marmoyo, SDN Marmoyo, serta 10 rumah penduduk. Kondisi tersebut, menurutnya jadi kendala tersendiri bagi anak-anak untuk mengikuti pelajaran sekolah secara daring.

Ia menyampaikan, hampir seluruh kawasan di Desa Marmoyo tidak memiliki akses untuk jaringan yang disediakan operator seluler. Dari tiga jaringan operator seluler berbeda yang dicoba, seluruhnya tidak berfungsi dengan baik. Desa Marmoyo sendiri, salah satu desa pelosok di wilayah utara Jombang.

Sebagian wilayahnya berupa hutan yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Lamongan dan Kabupaten Bojonegoro. Lantaran tidak terakses jaringan internet itulah anak-anak hanya belajar kelompok di rumah-rumah.

Dia menyebut, agar tetap bisa mengikuti pelajaran sekolah, anak-anak Desa Marmoyo terpaksa berkumpul di tempat-tempat yang menyediakan akses internet melalui Wifi. ”Kendala utama untuk pembelajaran daring di Desa Marmoyo, soal jaringan. Di sini hanya bisa lewat Wifi. Kalau seluler tidak bisa,” katanya.

Menurut Sumandi, terbatasnya jaringan seluler di Desa Marmoyo itulah menjadikan sedikit warga yang memiliki handphone. ”Ramainya handphone ya baru-baru ini, sejak ada Covid-19. Itu karena sekolah menerapkan belajar secara daring,” ujar dia.

Dirinya tak menampik bila belajar dengan cara berkumpul atau berkelompok sebenarnya tidak diizinkan. Namun karena anak-anak harus tetap bersekolah, terutama siswa SDN Marmoyo, maka tetap berkumpul untuk belajar bersama. Setiap pagi, kata dia, anak-anak sekolah mulai berkumpul di kantor desa atau rumah warga yang memiliki akses internet melalui Wifi.

"Sebenarnya bukan hanya soal Wifi, tapi warga banyak yang tidak punya handphone. Jadi satu HP dipakai bersama, bergantian,” bebernya. Di rumah Sumandi sendiri juga menjadi salah satu lokasi jujugan anak-anak yang belajar secara daring.  

Tampak lima siswa SDN Marmoyo yang sedang belajar bersama di ruang depan. Selain sejumlah buku pelajaran yang disiapkan, di tengah-tengah mereka terdapat sebuah handphone yang dipegang dan dipantau siswa secara bergantian. ”Belajar disini karena tidak punya HP. Ini miliknya Adam (anak Sumandi),” celetuk Karin, salah satu siswa SDN Marmoyo, saat belajar bersama.

Sementara, Kepala SDN Marmoyo Liwon mengatakan, sebagian besar siswa belajar berkelompok karena keterbatasan sinyal dan orang tua yang tidak memiliki handphone. Pembelajaran dengan sistem daring sudah diterapkan sejak beberapa bulan lalu, sejak pandemi Covid-19. Pada awal tahun ajaran baru, sekolah sempat merumuskan pembelajaran daring dilengkapi kunjungan guru pada kelompok di rumah salah satu siswa.

Rumusan itu disusun setelah otoritas pendidikan melarang sekolah menggelar belajar dengan tatap muka di sekolah. Menurut Liwon, hal itu untuk memudahkan dan efektifitas sehingga guru membagi kelompok sesuai kelas dan jarak antar rumah siswa.

Namun, lanjut dia, rumusan itu urung dilakukan karena ada kebijakan baru yang hanya mengizinkan pembelajaran secara daring. ”Sebenarnya kami sudah membagi kelompok anak-anak untuk dikunjungi. Tetapi sebelum dijalankan, muncul kebijakan baru yang melarang anak-anak berkumpul,” imbuhnya.

Meski dilarang belajar berkelompok, Liwon tak memungkiri jika anak didiknya tetap berkumpul bersama teman-temannya selama pembelajaran daring. Karena memang terbatasnya akses internet di Desa Marmoyo dan banyak orangtua siswa yang tidak mempunyai handphone. ”Kami menyadari situasi ini. Karena itulah kami wanti-wanti orang tua agar terus memantau anak-anaknya,” pungkas Liwon.

(jo/yan/mar/JPR)

 TOP