alexametrics
Kamis, 06 Aug 2020
radarjombang
Home > Jombang Banget
icon featured
Jombang Banget

Job MC Hilang Akibat Covid-19, Kariyono Produksi Gentong Cuci Tangan

20 Juli 2020, 11: 53: 10 WIB | editor : Mardiansyah Triraharjo

Kariyono, 49, warga Desa /Kecamatan Ngusikan, MC yang banting setir produksi gentong cuci tangan.

Kariyono, 49, warga Desa /Kecamatan Ngusikan, MC yang banting setir produksi gentong cuci tangan. (ACHMAD RW/JAWA POS RADAR JOMBANG)

Share this      

JOMBANG – Pandemi Covid-19 membuat Kariyono, 49, warga Desa /Kecamatan Ngusikan, kehilangan seluruh job master of ceremony (MC). Menganggur karena tak naik panggung, ekonomi keluarga pria yang akrab disapa Ari Kodel ini kacau.

Kariyono berpikir keras agar ekonominya tidak tumbang.  Ia mencoba berbagai peluang usaha yang bisa dikerjakan. Suami dari Suwarni, 46, ini akhirnya menemukan jalan, produksi tempat cuci tangan.

Survei di beberapa tempat, Kariyono menyediakan tempat air yang berbeda dari lainnya. Ia memilih gentong berbahan tanah liat. Agar menarik minat pembeli, gentong air dilukis dan dipasangi kran pada bagian bawah.

Gentong dibandrol dengan harga Rp 100 ribu sampai Rp 150 ribu. “Pertama kali yang saya lakukan melukis gentong air dan memberinya kran. Alhamdulillah, hasilnya lumayan,” kata Kariyono.

Sempat berjalan lancar, kegiatan produksi tempat cuci tangan dari gentong Kariyono mulai sepi. Kurang lebih satu bulan, omzet yang didapat turun.

Kembangkan Gentong Lukis dengan Miniatur Alam

DI TENGAH sepinya pesanan gentong cuci tangan, Kariyono berpikir keras untuk bertahan hidup. Cerita dimulai saat salah satu tetangganya datang membawa gentong bekas yang sudah rusak.

“Tetangga itu berkata apa tidak mungkin gentong ini dijadikan pemandangan menarik,” ungkap dia. Ia berhasil membuat miniatur air terjun dari gentong yang rusak itu. Dinding dalam gentong juga dilukisnya.

Sejak itu Kariyono terus mengembangkan usaha dan mengasah kemampuan seni rupa yang dimilikinya. Proses pembuatan dimulai dari menyiapkan gentong bekas atau gentong tua sebagai bahan dasar.

Dirinya biasa mendapatkan gentong dari tetangga sekitar. “Kalau gentong bekas di sini banyak, biasanya sudah tidak terpakai saya kumpulkan terus dibersihkan,” lanjutnya.

Setelah membuat lubang pada sisi gentong, ia menyiapkan semen dan pasir. Lalu membentuk struktur dan interior miniatur pemandangan. “Saya lebih suka konsep Indonesia, artinya pemandangan tapi yang lokal saja. Bisa gunung, desa, atau tempat ibadah,” lanjutnya.

Setelah itu baru finishing berupa cat untuk memperlihatkan detail miniatur. Ari biasanya menambahkan tutup yang diberi lampu di atas. Juga selang sebagai lintasan air di dalam gentong.

Terdapat beberapa miniatur yang sudah selesai dikerjakan Kariyono dan siap dikirim ke pemesan. Miniatur itu antara lain wisata Banyu Mili Wonosalam, Gunung Pucangan, serta Gunung Rinjani.

Di sekitarnya terdapat beberapa gentong yang belum diproses atau yang setengah jadi. “Miniatur yang ada sekarang sudah dipesan, ini tinggal mengirimkan,” ujar Kariyono.   

Membuat satu miniatur air terjun dengan ketinggian 45 sentimeter dan diameter 41 sentimeter, kata Kariyono butuh waktu dua hari. Miniatur dijual dengan harga terendah Rp 500 ribu dan harga tertinggi Rp 1 juta.

Selain dari Jombang, pesanan juga datang dari Mojokerto, Gresik, dan Sidoarjo. “Harga itu kalau mengambil di sini. Tapi kalau harga sampai ke alamat pembeli, beda lagi. Karena menyesuaikan biaya pengiriman,” ujar dia.

Hingga saat ini Kariyono sudah menyelesaikan lebih dari 30 miniatur sesuai pesanan konsumen. Lebih dari 50 gentong air yang diberi lukisan dan kran cuci tangan, berhasil dijual.

Omzet per bulan yang didapat Kariyono berkisar Rp 11 juta. Ia mengaku bisa bangkit dari keterpurukan. “Alhamdulillah, berkat gentong dan miniatur urusan cicilan bisa diatasi. Belanja kebutuhan rumah juga tercukupi,” kata Kariyono yang diketahui tidak tamat SD ini.

(jo/riz/mar/JPR)

 TOP
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia