alexametrics
Rabu, 05 Aug 2020
radarjombang
Home > Olahraga
icon featured
Olahraga

Bedah Buku Kwat Prayitno; Rajin Donor dan Taat ke Gereja (10-Habis)

19 Juli 2020, 18: 27: 04 WIB | editor : Mardiansyah Triraharjo

TAAT: Pendeta GPdI House of Prayer Sawahan, Jombang, Petrus Harianto bersama Kwat Prayitno di Toko Mulur III.

TAAT: Pendeta GPdI House of Prayer Sawahan, Jombang, Petrus Harianto bersama Kwat Prayitno di Toko Mulur III. (ROJIFUL MAMDUH//JAWA POS RADAR JOMBANG)

Share this      

“Kwat Prayitno pelayan Tuhan yang mampu menjadi teladan dalam hal integritas, tanggung jawab, loyalitas, dan kesetiaan. Tidak pernah pamrih dan selalu all out.”

JOMBANG - Itulah komentar yang tertulis di halaman 201 buku Kwat Prayitno; Guruku, Ayahku, Kakakku. Disampaikan Pendeta GPdI House of Prayer Sawahan, Jombang, Petrus Harianto. Pria 50 tahun ini mengaku sangat terinspirasi dengan buku tersebut. 

“Kwat Prayitno adalah pribadi yang loyal, disiplin dan setia. Buku ini sangat menginspirasi. Saya mengucapkan selamat atas terbitnya buku Kwat Prayitno: Guruku, Ayahku, Kakakku,” urainya kemarin.

Pendeta Petrus juga salut dengan kata-kata Kwat yang ditulis di halaman 188. “Tuhan tidak pernah meninggalkan kita, lalu bagaimana kita bisa meninggalkan-Nya,” kata Kwat.

Kwat Prayitno adalah bendahara majelis gereja GPdI Sawahan. Kwat selalu datang ke gereja setiap Minggu baik kala ibadah pagi jam 06.00 maupun sore pukul 16.00.

“Saat ke gereja, Kwat selalu berangkat sendiri. Ia termasuk jemaat paling aktif. Kalau pergi selalu pamit memberi tahu. Beliau orang yang sangat bertanggung jawab. Tidak hanya soal iman, tapi juga tanggung jawabnya sebagai pengurus gereja,” urai Petrus.

GPdI Sawahan merintis pelayanan sejak 1973. Kwat aktif ke gereja sejak masih muda. Petrus berinteraksi dengan Kwat mulai 2005. Walau ada kegiatan besar seperti kejuaraan nasional (kejurnas) yang sejak 2005 rutin digelar di Jombang, Kwat tetap menyempatkan berdoa.

Diantara kegiatan rutin GPdI yakni donor darah, setahun dua kali. Kwat sangat antusias dan mendukung kegiatan tersebut. Apalagi sejak 2019 dia juga menjadi pengurus PMI.  “Pengabdiannya memang untuk Tuhan dan karate.

Beliau tidak pernah simpoa untuk kesetiaannya di gereja dan karate. Ke gereja naik motor biasa. Salah satu jemaat yang tidak pernah ngersulo. Jika ada permasalahan, Kwat termasuk jemaat yang mampu memberikan usul penyelesaian,” ujarnya.

Soal donor, Kwat juga sangat rajin. Sampai sekarang dia sudah donor 125 kali. “Donor darah memang tidak memengaruhi kebugaran kita. Tapi dengan donor kita membuktikan bahwa diri kita masih bugar,” ucap Kwat sebagaimana tertulis di halaman 150.

Saking aktifnya donor, pria kelahiran 28 Agustus 1960 ini  sampai mendapatkan penghargaan Satya Lencana Kebaktian Sosial dari Presiden Republik Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono 2013 lalu karena sudah donor lebih dari 100 kali.

Sebelumnya, Kwat mendapatkan penghargaan dari Gubernur Jatim Imam Utomo karena sudah donor 75 kali. Pemegang sabuk hitam karate Dan VII, tertinggi di Jatim ini mulai donor sejak usia 20.

“Saat itu kita ingin mengajak anak-anak donor, sebagai pelatih kita juga harus ikut,” terang Sensei Kwat, panggilannya. “Saat itu PMI kehabisan stok darah. Kebetulan ada salah satu anggota karate orang PMI, sehingga mengajak donor darah,” tambahnya.

Atas dedikasinya, Kwat kemudian diangkat menjadi pengurus PMI Jombang 2019-2024 yang dilantik 16 September lalu. Menurut Kwat, melakukan hal yang positif dan bermanfaat bagi kehidupan adalah hal yang menyenangkan. Apalagi dulu masih banyak orang yang enggan donor.

Seorang karateka tidak hanya harus memiliki jiwa sportif dan disiplin. Tetapi juga harus memiliki kepekaan sosial dan rasa kemanusiaan tinggi. Oleh karena itu, Kwat selalu mengajak anak-anaknya melakukan kegiatan positif seperti donor darah.

Sebuah penelitian dalam bidang psikologi menunjukkan, orang yang mendonorkan darahnya dengan tujuan menolong orang lain memiliki resiko kematian lebih rendah dibandingkan dengan orang yang tidak mendonorkan darah sama sekali.

Selain itu, menyumbangkan hal yang tidak ternilai harganya kepada yang membutuhkan, akan membuat seseorang merasakan kepuasan psikologis yang tidak bisa diukur dengan apa saja.

“Kadang kita tidak tahu nilai sebuah moment hingga momen itu berubah menjadi kenangan,” ucap Kwat sebagaimana ditulis di halaman 192.

(jo/jif/mar/JPR)

 TOP
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia