alexametrics
Selasa, 04 Aug 2020
radarjombang
Home > Olahraga
icon featured
Olahraga

Bedah Buku Kwat Prayitno; Selalu Mencari Contoh dan Menjadi Contoh (9)

19 Juli 2020, 18: 25: 28 WIB | editor : Mardiansyah Triraharjo

KAGUM: Dansadar 222 Mayor Lek Eprit Repita menunjukkan buku Kwat Prayitno; Guruku, Ayahku, Kakakku (9/7).

KAGUM: Dansadar 222 Mayor Lek Eprit Repita menunjukkan buku Kwat Prayitno; Guruku, Ayahku, Kakakku (9/7). (ROJIFUL MAMDUH//JAWA POS RADAR JOMBANG)

Share this      

“Saya kagum dengan Kwat Prayitno. Saya ingin meniru beliau mengembangkan karate.”

JOMBANG - Itulah komentar singkat Dansatradar 222, Mayor Lek Eprit Repita, 40, ketika membaca buku Kwat Prayitno; Guruku, Ayahku, Kakakku.  SD hingga SMA dia aktif berlatih karate. “Sering juara juga,” ujarnya.

Tugas dimanapun, pejabat kelahiran Surabaya ini selalu berusaha mengembangkan karate. Di Tegal dia mendirikan dojo. “Ketika di Jakarta saya bergabung dengan dojo milik senior,” terangnya. Saat bertugas di Makasar dia juga mengadakan latihan karate. “Disini (Satradar 222) juga baru merintis mengadakan latihan karate,” terangnya.

Latihan ditujukan untuk anak-anak anggota satuan. “Agar mereka bisa cerita,” ucapnya. Juga bagi anggota yang belum menikah. Agar energinya tersalurkan secara positif.

Membuka buku Kwat, dia langsung berhenti di halaman 138. Yakni tokoh yang memengaruhi kehidupan Kwat. Salah satunya Willem Mantiri, anggota marinir yang juga pelatih karate. “SD sampai SMA saya dilatih Willem,” ucapnya. Menurutnya, Willem sosok yang tegas dan keras.

Banyak tokoh yang dikagumi Kwat. Salah satunya Bill Gregory. Seperti ditulis di halaman 87, guru besar karate Australia ini mengunjungi Dojo Mahameru 2001. Ia memberi penghargaan pada Dojo Mahameru. Fasilitas dan pembinaan karate Jombang dia nilai setara dengan karate di Australia. Selama di Jombang, Bill juga sempat mengikuti latihan bersama.

Di halaman 135, ada beberapa nama lain yang menginspirasi Kwat. Diantaranya, Widjojo Soejono, bapak pemersatu karate Indonesia. Gaya mengajarnya sabar dan kebapak-bapakan.

Juga Bob Crain, mantan Ketua FORKI Jatim. Kwat bertemu dengannya saat latihan karate bersama. Gaya kepemimpinannya tenang dan bijaksana.

Kwat juga selalu mengenang Bandil Suwandi. Ayah Adhe Rengga Drestian dan Aditya Harja Nenggar. Bandil selalu aktif menjadi offisial tim saat karateka Jombang mengikuti kejuaraan. Dia tidak pernah takut menyuarakan protes kepada siapapun.

Kwat juga kagum dengan Willem Mantiri karena  kepemimpinan Willem keras yang juga diperlukan dalam karate. Willem satu angkatan dengannya dan pernah menjadi pelatih. Tim Karate Indonesia di SEA Games Busan 2000.

Kwat juga kagum dengan Dasril Muchtar, pengurus PB FORKI. Menurut Kwat, Dasril sangat konsisten dan pernah menyatakan akan mengajak tim luar negeri untuk mengikuti kejurnas karate yang setiap tahun digelar di Jombang sejak 2005. Dan itu terbukti. Pada kejurnas 2009 dan 2010, tim Brunei Darussalam ikut kejurnas di Jombang. Ketika Dasril meninggal di Bandung 2014, Kwat pun takziah ke sana.

Kwat juga terinspirasi Baud Adikusumo, orang Jombang yang menjadi salah satu pendiri karate Indonesia. Ia guru Kwat Prayitno yang juga pernah menguji kenaikan sabuk Dan. Sebelum Baud Adikusumo berpulang, ia sempat datang ke Dojo Mahameru dan memberikan barang yang sangat langka berupa disket film karate kepada Kwat Prayitno.

Barang itu sangat mahal dan langka. Sebuah disket film selulosa dibuat oleh Nakayama. Orang Indonesia bahkan orang Jepang belum tentu punya. Kwat juga selalu terkenang Abdul Wahid. Tentara veteran yang pertama kali melatihnya karate. Gaya melatihnya sabar. Abdul Wahid pindah ke Malang 1977. Saat itu Kwat sudah sabuk hitam. (bersambung)

(jo/jif/mar/JPR)

 TOP
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia