alexametrics
Rabu, 05 Aug 2020
radarjombang
Home > Olahraga
icon featured
Olahraga

Bedah Buku Kwat Prayitno; Bangun Dojo Mandiri di Lahan Pribadi (8)

19 Juli 2020, 18: 21: 40 WIB | editor : Mardiansyah Triraharjo

KARIB: DR Muchtar bersama Kwat Prayitno di depan Dojo Mahameru, (7/7).

KARIB: DR Muchtar bersama Kwat Prayitno di depan Dojo Mahameru, (7/7). (ROJIFUL MAMDUH//JAWA POS RADAR JOMBANG)

Share this      

“Kwat sangat luar biasa dalam dunia karate. Jika tidak ada Kwat, mungkin karate Jombang tidak akan bisa seperti sekarang ini.”

JOMBANG - Komentar itu tertulis di halaman 202 buku Kwat Prayitno; Guruku, Ayahku, Kakakku. Disampaikan DR Muchtar, Dekan Fakultas Ekonomi Undar yang sudah puluhan tahun berteman dengan Kwat.

“Saya kenal Kwat sejak pertama kali latihan karate 1975,” kata Muchtar. Kala itu, pria asal Pekalongan ini duduk di bangku kelas 1 SMA di Pesantren Darul Ulum Rejoso. “Sebelum bertanding, kita dulu selalu berkumpul di toko milik keluarga Kwat,” ucap penyandang sabuk hitam karate Dan V ini.

Hingga kini, Muchtar masih rutin latihan karate bersama Kwat. Setiap pagi pukul 05.30-06.15, keduanya berlatih di Dojo Mahameru milik Kwat. “ Kwat baik banget orangnya. Dalam perjalanan perkawanan saya dengan dia, kebaikannya melebihi ekspektasi. Luar biasa pokoknya,” jelasnya. Setiap latihan pagi, Kwat menyediakan madu dan telur ayam kampung.

Cerita Kwat membangun dojo dengan dana mandiri di atas lahan pribadi miliknya ditulis di halaman 91. Posisi Dojo di perumahan Mahameru ini tersambung dengan rumah Kwat. Dojo dengan arsitektur Jawa-Jepang itu dibangun di atas lahan 300 meter persegi. Arsiteknya, Ir Sudibyo Pratama. Dojo diresmikan ajudan Presiden Soeharto, Irjen Pol  Hamami Nata 2002.

Keberadaan Dojo Mahameru mendongkrak perkembangan karate Jombang. Disitu pernah diadakan Penataran Kepelatihan dan Perwasitan Oktober 2009 yang diikuti 172 peserta. Pematerinya, A Erwin Taufik (Penasehat FORKI Jatim). Kadar Harianto (Seksi Perwasitan FORKI Jatim), Saifur Hadi (Seksi Perwasitan FORKI Jatim), William Mantiri (Binpres FORKI Jatim) dan Tri Bakti (Binpres FORKI Jatim). Juga Purwanto (Seksi Perwasitan FORKI Jatim ) dan Heru Widyoto (Dosen Olahraga Universitas Malang).

Dojo dirintis 1995, namun atapnya masih terbuka. Lokasi dojo dulunya adalah tempat parkir. Kemudian dibangun secara bertahap. Mulanya lantai hanya disemen. Lalu dikeramik dengan sisa pecahan keramik dari toko, kemudian diberi atap agar para karateka tidak kehujanan. Keinginan Kwat membuat tempat berlatih karate yang layak sangat kuat.

Ia tidak tega melihat anak-anak yang berlatih cedera karena lantai kasar. Kaki berdarah dan lecet-lecet adalah pemandangan yang sering ia temui kala itu.

Pada 2001, toko Mulur 1 milik kakaknya terbakar. Nah, besi-besi sisa kebakaran dijadikan atap Dojo Mahameru. Ditambah dengan dana tabungan pribadinya, ia menyulap Dojo Mahameru yang terbuka menjadi Dojo tertutup sehingga sangat nyaman digunakan untuk berlatih.

Tidak ada kaki karateka yang lecet dan berdarah lagi. Sebab, lantai sudah dilapisi dengan matras lantai dengan warna hijau dan kuning. Kaca ada di semua penjuru dinding agar para karateka bisa melihat setiap gerakannya selama berlatih. Alat-alat latihan seperti samsak, sarung tangan tinju, bahkan baju dogi, serta alat-alat fitness juga tersedia di Dojo.

Dojo Mahameru terdapat dua lantai. Di lantai atas terdapat dua kamar tempat untuk menginap bagi karateka yang kemalaman. Lantai dua juga dapat digunakan untuk melihat pertandingan atau kegiatan latihan di lantai satu. Setelah Dojo Mahameru diresmikan, gedung olahraga ini banyak digunakan untuk latihan para karateka.

Tempat itu digratiskan Kwat untuk siapapun yang ingin berlatih karate. Dojo Mahameru tidak pernah sepi. Selalu saja ada yang belatih dari pagi, siang, dan malam.

Arsitektur Dojo Mahameru merupakan perpaduan gaya Jepang dan Jawa. Arsitektur Jepang memiliki maksud untuk mengingatkan kepada siapa pun tentang asal-usul olahraga karate. Sedangkan arsitektur Jawa sebagai cerminan di mana bumi berpijak di situ adat di junjung.

Pada halaman 199 disebutkan, Kwat berharap ke depan Dojo Mahameru bisa menjadi honbu atau markas. Di mana ada karateka yang tinggal dan berlatih setiap hari. (bersambung)

(jo/jif/mar/JPR)

 TOP
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia