alexametrics
Sabtu, 08 Aug 2020
radarjombang
Home > Olahraga
icon featured
Olahraga

Bedah Buku Kwat Prayitno; Merintis Usaha sejak Kuliah (6)

19 Juli 2020, 18: 17: 26 WIB | editor : Mardiansyah Triraharjo

TEMAN LAMA: Ketua Forki, Widjono Soeparno, menunjukkan buku  Kwat Prayitno; Guruku, Ayahku, Kakakku, di rumahnya, (8/7).

TEMAN LAMA: Ketua Forki, Widjono Soeparno, menunjukkan buku Kwat Prayitno; Guruku, Ayahku, Kakakku, di rumahnya, (8/7). (ROJIFUL MAMDUH//JAWA POS RADAR JOMBANG)

Share this      

“Karakter seorang pemimpin ada dalam diri Kwat. Dia juga low profile dan tidak pernah mengeluh.”

JOMBANG - Itulah komentar Widjono Soeparno,68, terhadap Kwat Prayitno,60.  Wabup Jombang 2008-2013 ini cukup lama berteman dengan Kwat.

“Rumah mertua saya dibeli keluarga Kwat, dipakai toko Mulur. Jadi sejak muda sudah kenal,” kata Widjono. Terlebih sejak menjabat kepala Dispenda 1997 sampai sekarang, dia didaulat menjadi ketua induk cabang olahraga karate (Forki) Jombang. Dimana Kwat menjadi ketua hariannya.

Widjono menjelaskan, ada tiga hal yang harus dimiliki seorang pemimpin. “Kualitas fikir, kualitas fisik dan kualitas kejiwaan. Ketiga-tiganya ada dalam diri Kwat,” tegasnya. 

Sebagaimana ditulis di halaman 40, toko bangunan Mulur III milik Kwat menjadi salah satu yang terbesar dan terlengkap di Jombang. Perkembangan usahanya sangat jauh dibandingkan dengan kondisi saat dirintis 38 tahun silam.

Kala itu, dagangannya sangatlah sedikit. Mulai ungkal, paku, sepatu sapi, hingga lampu dokar. Oleh karena dagangannya masih dikatakan terbatas sehingga untuk memajang dagangannya cukup di emperan berukuran tidak lebih dari 10 meter persegi. Sementara, saat ini semua jenis perlengkapan bangunan sudah tersedia di tempatnya.

Termasuk besi semua ukuran yang biasanya digunakan untuk membuat beton. Tempat untuk memajang barang dagangan kini lebih dari 100 meter persegi dengan dua lantai. Dulunya, toko dijaga bergiliran dengan saudara-saudaranya. Kini, dia punya belasan karyawan. Di toko, Kwat  sangat sederhana. Seperti bukan  dewan guru karate Jawa Timur dan dosen STKIP.

Saat ia mengajar di kampus, toko akan tutup lebih awal.  Di depan tokonya ada logo  Forki dan Inkanas. Kwat menjadi ketua harian kedua organisasi itu. Kwat mengurus organisasi karate bersamaan dengan tokonya. “Memiliki banyak kesibukan itu menyenangkan. Saat jenuh dengan pekerjaan satunya, kita bisa mengerjakan yang lain sebagai hiburan. Maka, jenuh kita bisa hilang tidak mengerjakan hal yang sama terus,” ujar Kwat Prayitno saat tengah asyik berada di tokonya.

Kwat sempat berbagi tips sukses menjadi wirausaha. Yakni seseorang harus mampu mencari peluang usaha, memiliki rasa percaya diri, mampu bersikap positif, bertingkah laku pemimpin, inisiatif dan kreatif. Juga mau melakukan inovasi baru, bekerja keras, serta berani mengambil resiko yang diperhitungkan. Seorang wirausaha juga harus tanggap terhadap kritik dan keluhan.

“Enaknya jadi wirausaha itu kita bisa mandiri, bebas, dan memperoleh laba seluas-luasnya bergantung pada strategi kita,” ujar lulusan S2 Unibraw Malang ini.  Sebagai wirausahawan, dia memiliki penghasilan luas. Sehingga bisa membangun Dojo Mahameru dengan dana pribadi.  Kwat selalu memupuk jiwa wirausaha anak-anak didiknya.

Salah satunya Aditya Harja Nenggar yang sudah menjadi muridnya sejak umur lima tahun. Semasa SMP, Aditya diajari untuk berjualan es saat latihan karate. Jika jualan masih tersisa maka Kwat-lah yang akan membeli semua esnya. “Dulu Simpek selalu bilang enak sambil minum es jualan saya. Sekarang saya sadar itu hanya trik belaka supaya saya terus jualan,” ujar pemegang sabuk hitam Dan III itu sambil tertawa mengingat masa kecilnya.

Berkat dorongan Kwat Prayitno, Aditya kecil memiliki semangat dan keberanian menjadi seorang wirausaha hingga kini. Kwat adalah tipe orang yang tidak bisa menganggur, pasti ada saja yang dikerjakannya di toko. Terkadang ia ikut merapikan barang-barang di toko. Ia pun selalu membawa bahan bacaan di tokonya baik koran atau majalah. Kwat selalu mengisi waktunya dengan semua hal yang bersifat positif.

“Toko ini dirintis saat saya masih sekolah di STIE Surabaya 1985,” ujar Kwat. “Karena harus bolak-balik Jombang-Surabaya, maka tidak dapat sepenuhnya saya menjaga toko itu. Sehingga, harus bergantian dengan saudara-saudara yang lainnya untuk menjaga toko,” tambahnya.

Kalau Kwat kuliah maka saudara-saudaranyalah yang akan menjaga tokonya. Begitu pula sebaliknya. Setelah kuliahnya lulus Kwat mulai total menggeluti usahanya. Delapan jam dalam sehari, selama enam hari dalam sepekan, dia hanya menghabiskan waktu di toko. Pada saat itu usaha yang dirintis saudara-saudaranya juga mulai berkembang. Sampai akhirnya masing-masing memiliki toko sendiri.

Kwat tidak pernah merasa terpaksa atau terbebani dalam menjalankan usaha. “Bekerja adalah realitas yang harus dijalani setiap hari. Jadi, kita harus bisa menikmatinya. Alangkah susahnya hidup ini kalau kebahagiaan hanya kita bayangkan bisa dicapai setelah pensiun dan tidak ada aktivitas keseharian yang kita jalani,” tuturnya saat berada di toko.

Kwat selalu riang melayani pelanggan. Tak jarang dirinya bergurau dengan pembeli yang datang. “Sejak kecil sudah ikut bisnis. Jadi, akhirnya jiwa entrepreneur tumbuh dengan sendirinya.”

Sejak SD setiap pulang sekolah dirinya selalu membantu usaha orangtuanya yang berjualan bahan bangunan. Ayahnya merupakan tukang kayu dan pembuat mebel.“Karena keadaan kita harus  membantu orangtua. Kakak-kakak semua membantu orangtua. Kita sebagai anak tidak bisa tinggal diam saja. Saya dulu bagian menimbang semen,” katanya.

Pergumulannya dengan usaha bangunan sejak kecil membuatnya tidak ragu membuka usaha toko sendiri saat di bangku kuliah. “Yang terpenting kita mau terus-menerus dan rutin mengerjakan apa yang di depan mata. Sehingga saat rezeki datang kita bisa menyongsonnya,” tutur Kwat Prayitno.

Aktif di banyak organisasi dan kegiatan menurutnya juga ikut menyukseskan bisnis. “Istilahnya banyak teman, banyak rezeki. Relasi adalah hal yang penting untuk membangun usaha. Oleh karena itu, kita harus baik dan berteman dengan semua orang tanpa membeda-bedakan atau memandang siapa dia. Karena orang yang bukan siapa-siapa suatu saat nanti mungkin bisa lebih sukses daripada kita,” tuturnya. (bersambung)

(jo/jif/mar/JPR)

 TOP
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia