alexametrics
Sabtu, 08 Aug 2020
radarjombang
Home > Olahraga
icon featured
Olahraga

Bedah Buku Kwat Prayitno; Dorong Prestasi dan Persatuan (5)

19 Juli 2020, 18: 15: 23 WIB | editor : Mardiansyah Triraharjo

TAKJUB: Kapolres AKBP Agung Setyo Nugroho menunjukkan buku  Kwat Prayitno; Guruku, Ayahku, Kakakku, di ruangannya, kemarin.

TAKJUB: Kapolres AKBP Agung Setyo Nugroho menunjukkan buku Kwat Prayitno; Guruku, Ayahku, Kakakku, di ruangannya, kemarin. (ROJIFUL MAMDUH//JAWA POS RADAR JOMBANG)

Share this      

“Selamat atas terbitnya buku Kwat Prayitno; Guruku, Ayahku, Kakakku. Semoga karate di Jombang semakin maju dan berkembang,”

JOMBANG - Begitu apresiasi yang diberikan Kapolres AKBP Agung Setyo Nugroho atas terbitnya buku biografi Kwat Prayitno.  Selaku ketua perguruan karate Inkanas, ia juga berharap karate semakin diterima masyarakat.

“Semoga Kwat Prayitno semakin maksimal dalam membina karate. Kerjasama dengan Polres juga semakin bagus. Sehingga nilai-nilai positif karate semakin memasyarakat,” ungkapnya.

Kepada anak didiknya, Kwat memang selalu mewanti-wanti agar tidak latihan karate untuk berkelahi atau tawuran. Pemegang sabuk hitam Dan VII tertinggi di Jatim ini, selalu menasehati karateka agar selalu berpegang pada sumpah karate.

Sanggup memelihara kepribadian. Sanggup patuh pada kejujuran. Sanggup mempertinggi prestasi. Sanggup menjaga sopan santun. Serta sanggup menguasai diri.

Dalam kejuaraan pun, Kwat yang menjadi ketua harian Inkanas dan induk cabang olahraga karate (Forki ) Jombang, tidak memaksa harus menang. “Bukan masalah menang atau kalah, akan tetapi bagaimana menjadi pribadi yang lebih baik dari hari kemarin,” ucap Kwat.

Bahkan dia selalu mengapresiasi kemenangan lawan. “Mampu berbahagia atas kemenangan orang lain adalah kemenangan bagi diri,” tuturnya. Pria kelahiran 28 Agustus 1960 ini sejak muda sudah aktif di kejuaraan. Ditulis pada halaman 34, Kwat pernah mengikuti kejuaraan daerah 1975. Juga mengikuti Piala Gubernur 1977 yang turun di nomor kumite (tanding) 60 kilogram.

Kejurda 1975 itu tidak juara. Namun di Piala Gubernur 1977 berhasil membawa pulang medali. Kala itu, tim karate Jombang dipandang sebelah mata. Namun Kwat dan rekan-rekannya yang turun di kumite beregu 60 kilogram tidak ciut nyali.

Setelah memenangkan pertandingan, ia semakin yakin, Jombang tak bisa diremehkan. Dengan tekad kuat serta mental dan fisik yang bagus, pertandingan bisa dimenangkan. Mental adalah kunci utama kemenangannya. Sejak itu Kwat bertekad membawa karate Jombang agar tidak lagi diremehkan.

Dukungan orangtua dan keluarga semakin besar kepadanya. Di lapangan basket Kodim 0814, Kwat dan kawan-kawan semakin giat berlatih. Kaki atau tangan lecet menjadi hal biasa. Setelah merasakan kemenangan dalam sebuah kejuaraan, Kwat menyadari bahwa bukan masalah menang atau kalah.

Akan tetapi bagaimana menjadi pribadi yang lebih baik dari hari kemarin. Baginya, tekad dan sikap disiplinlah yang akan membawa seorang karateka mampu menguasai jurus dan melalui setiap pertandingan dengan baik.

Sikap disiplin sudah dia tempa sejak awal berlatih karate. Ia selalu datang setengah jam lebih awal sebelum latihan dimulai. Dengan dogi-nya, Kwat rela menunggu sampai latihan dimulai. Hal itu membuat teman-temannya heran, “Kok ada ya orang sedisiplin itu.”

Sejak muda, pemilik toko bangunan Mulur III ini juga sudah aktif wirausaha. Banyak yang mengira, Toko Mulur di Jombang sudah ada sejak Kwat lahir dan merupakan usaha turun-temurun. Itu tidak benar. Sejak SMA Kwat sudah membantu kakaknya berwirausaha. Mulur adalah toko bangunan usaha Kwat dan saudara-saudaranya.

Awalnya berdiri Toko Mulur I, yang merupakan milik kakak perempuan Kwat Prayitno bernama Jing Ling (Erlina). Saat mau lulus SMA, Kwat sudah membantu kakaknya belanja bahan-bahan bangunan di Surabaya. Dari situ Kwat gemar menabung, untuk biaya kuliah di Surabaya. Lalu berdiri Toko Mulur II milik kakak laki-laki Kwat bernama Ahmad Arif Juantana pada 1979. Di Toko Mulur II, Kwat juga ikut membantu. Hingga pada 1985, berdiri Toko Mulur III milik Kwat Prayitno. Mulur berasal dari bahasa Jawa yang artinya semakin panjang.

Harapan Kwat dan saudara-saudaranya, dengan nama itu tokonya bisa berumur panjang dan bertambah rezekinya. Mulur sekarang telah menjadi toko bangunan terbesar di Kabupaten Jombang. “Bekerja adalah realitas yang harus dijalani setiap hari. Jadi, kita harus bisa menikmatinya,” pungkasnya. (bersambung)

(jo/jif/mar/JPR)

 TOP
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia