alexametrics
Sabtu, 08 Aug 2020
radarjombang
Home > Olahraga
icon featured
Olahraga

Bedah Buku Kwat Prayitno; Kisah Paling Indah di Sekolah (4)

19 Juli 2020, 18: 14: 07 WIB | editor : Mardiansyah Triraharjo

TERKENAL: Sekdakab Akhmad Jazuli menunjukkan buku  Kwat Prayitno; Guruku, Ayahku, Kakakku, di kantor Pemkab Jombang (7/7).

TERKENAL: Sekdakab Akhmad Jazuli menunjukkan buku Kwat Prayitno; Guruku, Ayahku, Kakakku, di kantor Pemkab Jombang (7/7). (ROJIFUL MAMDUH//JAWA POS RADAR JOMBANG)

Share this      

“Saya mengenal Kwat Prayitno hanya lewat media. Saya salut atas kegigihan beliau dalam membina anak-anak bangsa melalui olah raga karate,”

JOMBANG - Kegigihan Kwat Prayitno dalam memajukan karate Jombang terdengar hingga keluar kota. Sebagaimana dikatakan Akhmad Jazuli di atas. Mantan ketua induk cabang olahraga karate (Forki) Kabupaten Mojokerto 2004-2008 itu kini menjabat Sekdakab Jombang.

“Saya tidak ahli karate. Tapi saya pernah jadi ketua Forki. Karate mengajarkan disiplin dan sportifitas. Meski karate olahraga keras, tapi penuh persahabatan dan solidaritas. Kwat sosok karateka yang patut diteladani. Ulet dan telaten membina  dan melatih bela diri melalui karate,” urainya.

Sebagaimana remaja lainnya, Kwat yang kini memegang sabuk hitam Dan VII, tertinggi di Jatim, juga punya kenangan indah masa sekolah. Seperti lagu milik Chrisye, tiada kisah paling indah - kisah kasih di sekolah.

Orang tua Kwat berusaha keras menyekolahkan 10 putra putrinya. Terkadang karate dan tugasnya membantu orangtua membuat Kwat kelelahan di kelas. Saat ketinggalan pelajaran di sekolah, selalu ada seorang teman baik perempuan yang tulus dan bersedia meminjami Kwat buku catatannya.

Nama teman baik perempuan itu adalah Lidya Santoso. Panggilan akrabnya Lidya. Banyak teman-temannya yang berkata bahwa Lidya termasuk salah satu perempuan paling cantik di kelasnya. Teman kelas Kwat saat SMP tidak banyak berubah. Sebab, SD Kristen Wijana dan SMP Kristen Wijana masih dalam satu naungan. Kwat Prayitno selain memiliki kecintaan terhadap karate juga punya hobi lain. Yakni berfoto dan selalu mendokumentasikan. Walaupun saat itu belum ada smartphone.

Setelah tamat SMP 1974, ia melanjutkan ke SMPP (Sekolah Menengah Pertama Pembangunan) yang sekarang bernama SMAN 2 Jombang. Semasa SMA, Kwat mulai membantu keluarga membangun toko bersama kakaknya, Erlina (Jing Ling). Ia sangat senang membantu melayani pelanggan.

Terkadang juga ikut dalam menyetok barang yang akan dijual. Bersama kakaknya itulah Kwat Prayitno mulai belajar berwirausaha dengan tekun dan serius. Di era sekolah dulu, peraturan tidak ketat. Kerapian berpakaian maupun model rambut tidak diperhitungkan. Kwat memiliki rambut panjang sebahu saat SMA. Mirip rambut Bruce Lee. Gaya rambut paling populer kala itu.

Semasa SMA, Kwat mengaku juga pernah merasakan jatuh cinta. Gadis idamannya rambutnya panjang berombak. Matanya indah. Dan ada tahi lalat mungil di atas bibir. Ia terlihat sangat imut waktu itu. Hanya saja Kwat tidak berani mengungkapkan perasaannya karena si gadis lebih tua. Maklum, Kwat mengawali sekolah dengan usia lebih muda dua tahun. Dan saat SD pernah meloncat dari kelas IV langsung kelas VI. Sehingga teman-teman sekelasnya lebih tua tiga tahun.

“Seluruh gadis di kelas lebih tua dari saya. Jadi mana ada yang melirik bocah laki-laki yang usianya lebih muda,” ujar Kwat sebagaimana ditulis di halaman 27.

Tanpa pacaran, waktu Kwat lebih banyak digunakan untuk belajar, latihan karate dan bekerja membantu kakaknya. Ia sempat mengikuti beberapa kejuaraan karate saat SMA. Sehingga serius berlatih di Kodim 0814.

Melajang bukanlah berarti menghabiskan hidup dengan sendiri dan sepi. Kwat justru lebih suka bersosialisasi dan menolong orang lain. Ia juga lebih sering silaturahmi, memberi nasehat, dan tetap berkomunikasi dengan orangtua dan saudara.

Kwat Prayitno yang tinggal sendirian justru menjadi nadi kehidupan perkotaan Jombang. Ia lebih aktif berpartisipasi dalam kegiatan publik. Utamanya di Inkanas, Forki dan KONI. Juga ikut kegiatan keagamaan di gereja serta aksi sosial di Palang Merah.

Keluarga beberapa kali berusaha menjodohkannya namun hingga kini belum berhasil. “Usaha pasti ada, untuk mengenalkan dengan si A, B, maupun C. Keluarga sangat peduli, namun seiring berjalannya waktu, kami sadar, menikah bukan satu-satunya jalan kebahagiaan,” ujar Cahya, adik Kwat.

Kwat aktif mengikuti reuni alumni SMA. Reuni dilakukan dengan berwisata bersama atau berkumpul di suatu tempat. Kwat tampak sangat senang bila berkumpul dengan sahabat-sahabatnya dulu, walaupun ia yang paling muda.

“Saya selalu bersyukur sebab punya banyak sahabat dan teman-teman. Saya tidak pernah merasa sendiri walau banyak orang menyangka seperti itu. Saya memiliki banyak anak-anak di Dojo Mahameru. Semua karateka adalah anak-anak saya. Melihat mereka berlatih, berkembang, dan berprestasi adalah kebahagiaan yang tidak ternilai harganya,” ujar Kwat Prayitno dengan wajah sumringah dan penuh kebanggaan.

Banyak yang bertanya kenapa ia memilih tidak menikah. Ia pun menjawab ringan, hidup dan waktunya ingin dia dedikasikan untuk karate. Karate sudah seperti keluarga dan teman hidupnya. Para karateka muda adalah anak-anak dan cucu-cucu kesayangannya. Dengan penuh senyum keceriaan ia selalu merangkul bibit-bibit muda karateka di Jombang. (bersambung)

(jo/jif/mar/JPR)

 TOP
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia