alexametrics
Sabtu, 08 Aug 2020
radarjombang
Home > Olahraga
icon featured
Olahraga

Bedah Buku Kwat Prayitno; Sejak Kecil Pekerja Keras dan Disiplin (3)

19 Juli 2020, 18: 12: 39 WIB | editor : Mardiansyah Triraharjo

SALUT:Wabup Sumrambah menunjukkan buku  Kwat Prayitno; Guruku, Ayahku, Kakakku, di kantor Pemkab Jombang, (7/7).

SALUT:Wabup Sumrambah menunjukkan buku Kwat Prayitno; Guruku, Ayahku, Kakakku, di kantor Pemkab Jombang, (7/7). (ROJIFUL MAMDUH//JAWA POS RADAR JOMBANG)

Share this      

“Kwat Prayitno adalah karate Jombang, karate Jombang adalah Kwat Prayitno,”

JOMBANG - Reputasi Kwat Prayitno, 60, dalam mengembangkan karate di Jombang telah diakui banyak pihak. Termasuk oleh Wabup Sumrambah, sebagaimana tercermin dalam kalimat diatas. Sumrambah bahkan menyatakan, seluruh hidup Kwat dihabiskan untuk karate.

“Kwat Prayitno sosok sederhana yang telah mendedikasikan hidupnya untuk berkembangnya beladiri karate di Jombang,” ucapnya sebagaimana tertulis di halaman 201. 

Kwat begitu mencintai keluarga besarnya. Sampai sekarang Kwat tetap tinggal di rumah orangtuanya. Karena di rumah  itu dia memiliki segudang kenangan. Setiap pagi, ia sendiri yang mengepel dan membersihkan rumah. Semua pekerjaan rumah ia lakukan sendiri tanpa bantuan orang lain.

Sebagaimana diceritakan di halaman 23, sejak kecil, pagi-pagi sekali Kwat sudah bangun. Ia lihat ibunya sibuk merawat seluruh anggota keluarga. Saudara-saudaranya bersiap berangkat sekolah seperti dirinya.  Kwat selalu berjalan kaki ke sekolah. Bersama kakak, adik, dan teman-temannya. Ia tidak bisa bebas menikmati masa kanakkanak, karena keluarganya masih sulit dalam hal ekonomi.

Di usia lima tahun, Kwat sudah masuk SD Kristen (SDK) Wijana Jombang. Dia masuk sekolah dua tahun lebih awal dibanding teman-teman satu kelasnya. Perjalanan pagi menuju sekolah adalah satu hal yang menyenangkan baginya. Ia bisa bersenda-gurau dengan teman-temannya. Ia selalu datang tepat waktu.

Sifat disiplin dan tanggung jawab selalu ditanamkan kedua orangtuanya sejak kecil. Kwat menerima rapor kenaikan kelas. Ia sangat senang, sebab kelas lima baru pertama kali dibuka di sekolahnya. Namun, Kwat merasa janggal, dibacanya berulang- ulang rapor kenaikan kelas yang sudah dibagikan gurunya.

Rupanya Kwat tidak naik kelas lima, tapi langsung naik ke kelas enam. Ia heran, karena merasa tidak terlalu pintar dalam mengerjakan ujian. Esoknya, saat mengembalikan rapor, Kwat pun bertanya pada teman-temannya. Apa hanya rapornya yang salah tulis? Rupanya hampir separuh anak kelas empat tidak naik kelas lima, namun langsung naik ke kelas enam. Ini karena kelas yang dibuka tidak hanya kelas lima, tetapi juga kelas enam.

Untuk menghindari kelas agar tidak kosong, maka siswa kelas empat dibagi menjadi dua. Sebagian mengisi kelas lima dan sebagian mengisi kelas enam.

Ada rasa bangga yang luar biasa saat itu. Karena ia termasuk yang dipilih langsung naik ke kelas enam. Walaupun tidak menjadi juara kelas, Kwat termasuk anak yang rajin dan cepat dalam menerima pelajaran. Ia selalu mengerjakan pekerjaan rumah sendiri.

Namun, yang membuatnya sedih kala itu, ia harus berbeda kelas dengan teman yang dulunya sering diajak main bersama. Ia menjadi murid paling muda dan paling kecil di kelasnya. Dampaknya, setiap jam pelajaran olahraga ia selalu menjadi sasaran. Karena terlalu kecil, dia sering tidak diajak masuk tim olahraga sekolah.

Tapi Kwat menerimanya dengan lapang dada. Ia tidak biasa banyak protes atau melawan. Paling tidak, sepulang sekolah ia masih bisa bermain dengan teman-temannya yang dulu.

Rupa-rupanya pembagian kelas tersebut berakibat besar bagi pergaulan Kwat Prayitno. Ia menjadi murid yang paling muda di kelasnya hingga lulus SMA. Apalagi ia masuk SD lebih awal dua tahun. Sehingga  jarak usia Kwat dengan teman-temannya di SMA tiga tahun. Hal itu tidak membuat Kwat merasa rendah diri. Ia menjadi kalah-kalahan di kelas. Namun, saat di luar kelas, ia selalu memimpin teman-temannya yang lebih muda.

Kwat lulus SD Kristen 1971. Lalu melanjutkan  SMP Kristen Wijana Jombang. Di bangku SMP prestasi akademik Kwat tidaklah terlalu buruk. Juga tidak terlalu mencolok. Namun, dalam karate ia terus berlatih dan berkembang. Karate membuatnya menjadi pribadi yang semakin percaya diri. Saat di SMP, Kwat menjadi murid paling kecil.

Ia berusaha belajar dengan baik untuk membanggakan kedua orangtua. Tidak banyak waktu bermain yang dia punya. Ia harus berlatih karate dan membantu orang tua bekerja. Ia sangat bersyukur. Di tengah keterbatasan ekonomi orangtuanya, ia masih bisa sekolah.  Karena waktu itu, tidak banyak anak yang bisa melanjutkan sekolah tingkat lanjut. Apalagi ekonomi orang tuanya pas-pasan dan  punya 10 anak. (bersambung)

(jo/jif/mar/JPR)

 TOP
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia