alexametrics
Jumat, 14 Aug 2020
radarjombang
Home > Olahraga
icon featured
Olahraga

Bedah Buku Kwat Prayitno; Sempat Dilarang Ayah Latihan Karate (2)

19 Juli 2020, 18: 11: 15 WIB | editor : Mardiansyah Triraharjo

APRESIASI: Bupati Mundjidah Wahab menunjukkan buku  Kwat Prayitno; Guruku, Ayahku, Kakakku, di kantor Pemkab Jombang, kemarin.

APRESIASI: Bupati Mundjidah Wahab menunjukkan buku Kwat Prayitno; Guruku, Ayahku, Kakakku, di kantor Pemkab Jombang, kemarin. (ROJIFUL MAMDUH//JAWA POS RADAR JOMBANG)

Share this      

“Kwat Prayitno pribadi yang supel dan ramah. Semangat memajukan karate sehingga tiap tahun bisa mengadakan kejurnas dan meraih banyak prestasi,”

Itulah komentar singkat Bupati Mundjidah Wahab terhadap sosok Kwat Prayitno,60. Sejak kecil, cintanya terhadap karate membuatnya harus berkorban dan berjuang keras.

JOMBANG - Sebagaimana ditulis di halaman 17, ayahnya, Sutrisna Raharja Budiman, sempat melarangnya latihan karate. Sang ayah bahkan menyita dogi, baju karate miliknya sehingga tak bisa latihan. Kwat tidak menyerah. Walaupun baru kelas 4 SDK Widjana, dia bekerja dengan menjual barang bekas agar bisa membeli dogi baru.

Kwat juga tetap membantu ayahnya bekerja menjual kayu mebel. Melihat kegigihannya, sang ayah lantas memanggil.  “Benarkah kau tetap ingin mengikuti karate?” tanya ayahnya.

Kwat kecil hanya mengangguk. “Karate olahraga berbahaya, kamu bisa cedera bahkan lebih parah. Apa kau tidak paham dengan kekhawatiran orangtuamu ini,” tambah sang ayah.

Dia mempersilahkan Kwat mengikuti kegiatan selain karate. “Ikutilah kegiatan yang positif dan tidak berbahaya. Kalau tubuhmu cedera, bagaimana bisa sekolah? Belajarlah yang giat, kau akan sukses suatu saat nanti. Saat kau memiliki ilmu dan pendidikan tinggi maka kehidupanmu nanti bisa lebih baik. Orang-orang akan lebih menghargaimu. Bukan dengan berkelahi,” tutur ayahnya.

Namun Kwat kukuh. Dia ingin membuktikan, karate tidak seperti disangka sang ayah. “Karate olahraga yang positif. Bukan untuk berkelahi. Nanti Kwat akan lebih rajin belajar dan membantu Ayah,” ucap Kwat meyakinkan ayahnya.

Kwat lantas menceritakan siapa saja yang melatihnya. Siapa saja teman yang ikut latihan. Juga bagaimana kegiatan saat latihan. Serta isi lima sumpah karate yang dihafalnya. Sanggup memelihara kepribadian. Sanggup patuh pada kejujuran. Sanggup mempertinggi prestasi. Sanggup menjaga sopan santun. Serta sanggup menguasai diri.

Ia berusaha meyakinkan ayahnya. Kalau diizinkan latihan, dia akan lebih rajin membantu sang ayah dan belajar.  Sutrisna hanya diam lalu meninggalkannya. Kwat kembali patah hati dengan kebisuan sang ayah. Diusap kedua matanya yang perih. Ia berdiri tertegun menatap punggung ayahnya yang lenyap di balik pintu. Kwat menghela napas menyingkirkan sedih.

“Simpanlah uangmu dan pakailah baju karatemu ini.” Secara mengejutkan terdengar suara sang ayah. Sutrisna berjalan menuju Kwat sembari membawa baju dogi miliknya.

Kwat sangat senang dan menyambutnya dengan ucapan terima kasih. Serta mengucap janji  dalam hati untuk memenuhi harapan ayahnya. Ia benar-benar tidak menyangka ayahnya mau mengembalikan baju karatenya.

Yang paling membuat Kwat senang kala itu, ia tidak perlu lagi berlatih karate sembunyi-sembunyi. Ia tidak perlu lagi diam-diam memasuki rumah agar tidak ketahuan usai latihan karate. Hari itu juga, ia meminta izin kepada ayahnya untuk mengikuti latihan.

Abdul Wahid, salah satu pelatih karate yang sangat dikagumi Kwat saat itu. Ia tentara veteran yang pertama kali melatih karate di Jombang. Kesungguhan Kwat dalam berlatih karate tidak hanya membentuk kemampuannya. Tetapi juga membentuk kepribadiannya yang tangguh. “Pak Abdul Wahid begitu sabar dalam melatih karate. Ia panutan saya, sampai sekarang!” tutur Kwat.

Pada 28 Agustus 1960, Kwat terlahir dengan nama Kwang Fu’, yang artinya cahaya kebijaksanaan. Kwang Fu’ sendiri lebih senang dipanggil Kwat Prayitno, nama Indonesianya. Pasangan Sutrisna Raharja Budiman dan Yuli Ajeng Soeprapti kala itu tidak pernah bermimpi anaknya menjadi tokoh berpengaruh dalam dunia karate.

Yuli Ajeng Suprapti sosok gadis cantik sederhana. Di usia 19 tahun, ia menikah dengan Sutrisna Raharja Budiman, 39. Jarak usia yang jauh tidak menjadi kendala dalam membesarkan 10 buah hati yang lahir berdekatan. Andam Cahyo Raharjo, Soetrisno Hardjo, Jing Mei, S. R. Giono, Jing Ling (Erlina), Rahmad Arif Juantara, Kwat Prayitno (Kwang Fu’), Erlina Rahardja, dan S. Cahyo Pamuncak .

Mereka dibesarkan dalam keluarga yang serba pas-pasan sehingga terbiasa bekerja keras dan mendiri. Ketika kecil, mereka punya tugas masing-masing di rumah maupun tempat ayahnya kerja. Sehingga kini seluruhnya menjadi orang-orang sukses dan mandiri. (bersambung)

(jo/jif/mar/JPR)

 TOP
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia