alexametrics
Minggu, 25 Oct 2020
radarjombang
Home > Olahraga
icon featured
Olahraga

Bedah Buku Kwat Prayitno; Menjadi Manusia Bermanfaat Segala Aspek (1)

19 Juli 2020, 17: 07: 57 WIB | editor : Mardiansyah Triraharjo

TELADAN: Kwat Prayitno bersama Harry Kusmadi saat launching buku Guruku, Ayahku, Kakakku Minggu (31/5).

TELADAN: Kwat Prayitno bersama Harry Kusmadi saat launching buku Guruku, Ayahku, Kakakku Minggu (31/5). (ISTIMEWA)

Share this      

Semua kisah itu berkesan dan istimewa, walaupun menurut orang lain biasa saja....

Kata mutiara ini membuka tulisan pertama buku Kwat Prayitno; Guruku, Ayahku, Kakakku. Setiap bab selalu diawali kata mutiara Kwat Prayitno, 60.  Menggugah kita untuk terus membaca halaman demi halaman. Buku setebal 209 halaman ini ditulis Aditya Harja Nenggar, Anton Wahyudi dan Khusnul Khotimah.

JOMBANG - Harry Kusmadi, 67, Kepala Dispora Jombang 2007-2009 mengapresiasi buku biografi Kwat Prayitno yang diterbitkan Jombang Institute Mei lalu. “Bukunya bagus. Apalagi di Jombang jarang ada orang yang biografinya dibukukan,” ungkapnya.

Dia berharap buku itu dikirimkan ke daerah-daerah yang pernah mengirim atlet pada kejurnas karate di Jombang. “Agar mereka bisa meniru bagaimana mengadakan kejurnas secara konsisten mulai 2005 sampai sekarang,” jelasnya.

Figur Kwat menurut Harry sangat inspiratif. Sehingga biografinya benar-benar layak dibukukan. “Kwat sangat sederhana dan berjiwa sosial tinggi,” ujarnya. Terhadap karate Jombang, perjuangannya sangat besar. “Sampai-sampai rela menyediakan Dojo yang besar dari kantongnya sendiri,” paparnya. Sehingga karate Jombang sukses  meraih banyak prestasi.

Bab pertama berjudul Kwat dan Cinta Pertamanya menceritakan perkenalan Kwat dengan karate. Pria kelahiran 28 Agustus 1960 ini belajar karate sejak kelas 4 SDK Widjana. Kala itu dia sama sekali tidak bermimpi menjadi atlet olahraga. Bahkan di sekolahnya dia tidak suka mata pelajaran olahraga.

Dia berlatih karate diajak seorang tentara veteran. Latihan karate setiap pulang sekolah. Ia pernah tertunduk lesu dengan tangan dan kaki gemetar.  Kwat tak mampu menatap wajah ayahnya yang begitu marah. Karena dia diam-diam mengikuti latihan karate bersama teman-temannya.

Putra ketujuh dari sepuluh bersaudara ini sejak kecil sudah semangat berlatih karate. Ia pun sedih ketika orang tuanya melarang. Saat itu, karate menjadi olahraga yang asing, aneh, dan berbahaya.

Orang pakai baju karate sering diejek gila. “Jangan ikut karate lagi!” ujar Sutrisna Raharja Budiman, ayah Kwat dengan penuh amarah. “Sekolah saja yang benar! Jangan ikut-ikutan hal yang berbahaya!” tambahnya.

Kwat mengusap matanya yang sudah berkaca-kaca dan melihat dogi (baju karate) miliknya sudah berada di tangan sang ayah. Ia lemas saat menyadari tidak bisa lagi berlatih karate. Yuli Ajeng Suprapti, ibunya, hanya menatap iba. Sebagai istri, Yuli tidak banyak berbicara ketika suaminya marah. Sebagai ibu yang sangat menyayangi anak-anaknya ia pun sebenarnya sependapat dengan suami. Tidak ingin Kwat mengikuti kegiatan yang berbahaya.

Kwat sadar, sejak ikut karate, pelajaran di sekolah menjadi tidak menarik. Jadwal membantu ayahnya bekerja di rumah pun ikut berkurang. Ia berjanji akan lebih giat lagi belajar dan membantu orangtua. Namun ayahnya tetap melarang latihan karate. Karena dogi sudah diambil,

Kwat pun tidak bisa berlatih. Ia merasa hampa ketika pulang sekolah dan melewati Lumpang Bolong. Disitulah pertama kali Kwat dan teman-temannya bertemu tentara veteran yang berlatih karate. Mereka mengajak anak-anak yang pulang sekolah ikut belajar karate. Sejak itu Kwat langsung jatuh hati. Hingga akhirnya memberanikan diri untuk berlatih secara rutin setiap pulang sekolah.

Badannya terasa kaku saat tidak berlatih karate. Kwat merasa tak nyaman jika tidak latihan. Ia kehilangan semangat selama berhari-hari. Kwat lantass mencari akal agar bisa mendapatkan dogi untuk berlatih lagi. Kwat berinisiatif jualan. Agar  bisa memiliki uang untuk membeli dogi. Sehingga bisa membuktikan kepada orang tua bahwa ia bersungguh-sungguh ingin latihan karate.

Kala itu, Kwat berjualan barang-barang bekas. Ia rela tidak membeli jajan agar bisa menabung uang sakunya. Ambisinya terlihat begitu kuat. Yuli Ajeng Suprapti pun diam-diam mengamati perilaku putranya yang terlihat ganjil. Sebagai ibu dengan sepuluh anak, ia sangat sabar. Ia perhatikan dan didik anaknya satu per satu. Ia melihat putra ketujuhnya sangat berambisi latihan karate.

Terlebih dia mendengar sendiri dari putra ketujuhnya, ia ingin tetap mengikuti karate dan membeli dogi melalui uang tabungan hasil bekerja. Dia sempat melarang Kwat bekerja karena masih kecil.

“Bantu saja ayahmu dan giatlah belajar,” pesan tegas Yuli. Kwat menolak dan tetap bertekad ingin mengikuti karate. Ia pun berjanji, jika diizinkan mengikuti karate, akan lebih giat lagi dalam belajar. Serta akan tetap membantu kedua orangtuanya. (bersambung)

(jo/jif/mar/JPR)

 TOP