alexametrics
Rabu, 05 Aug 2020
radarjombang
Home > Kota Santri
icon featured
Kota Santri

Kembali Mondok, Sudah Tiga Ribu Santri Tiba di Jombang

15 Juli 2020, 14: 29: 39 WIB | editor : Mardiansyah Triraharjo

DI-SCREENING: Santri baru dan walimurid yang masuk ke pondok wajib membawa surat kesehatan.

DI-SCREENING: Santri baru dan walimurid yang masuk ke pondok wajib membawa surat kesehatan. (ANGGI FRIDIANTO FRIDIANTO/JAWA POS RADAR JOMBANG)

Share this      

JOMBANG – Secara berkala, santri baru kembali  berdatangan di sejumlah pondok pesantren di Jombang. Seperti terpantau di Pondok Pesantren Darul Ulum (PPDU) Rejoso Peterongan yang datang kemarin (14/7). Ada sekitar tiga ribu santri baru yang datang dengan diantar orang tua masing-masing.

Sejak pukul 08.00, ribuan santri mulai memasuki area pondok. Mereka wajib melalui beberapa tahapan screening alias pemeriksaan sebelum memasuki asrama masing-masing. Misalnya cek suhu tubuh, pengecekan berkas persyaratan seperti surat pernyataan dan surat bebas Covid-19.

”Ya ini tadi membawa surat rapid test,” ujar Lilik Muslimah, wali santri asal Kabupaten Tulungagung kepada Jawa Pos Radar Jombang. Surat rapid test itu didapatkan dari Puskesmas Rejotangan Tulungagung. ”Untuk rapid kami dapat gratis, karena untuk santri,” tambahnya.

Sementara itu, dari total 10.300 santri yang tercatat di  PPDU Rejoso, ada sekitar 3.511 santri baru yang melakukan daftar ulang. ”Kemudian yang kembali ke sini (baca; ponpes)  sekitar 2.900 sampai tiga ribuan santri,” ujar KH Zaimuddin Wijaya As’ad alias Gus Zuem Bendahara MPPDU.

Sebelum kembali ke pondok, santri diwajibkan menjalani isolasi mandiri di rumah masing-masing selama 14 hari. Setiba di pondok, setiap santri bakal diperiksa kesehatannya secara ketat. ”Sejak awal kita buatkan persyaratan seperti wajib membuat surat pernyataan dan barang-barang yang  dibawa,” tambahnya.

Gus Zuem menyebut, kebijakan santri kembali ke pondok itu bukan hal wajib. Namun hanya pilihan dengan izin orang tua. ”Jadi sebelum ke pondok mereka wajib mengisi surat pernyataan,” papar dia.

Melihat persebaran kasus Covid-19 di Jombang yang masih tinggi dengan status zona merah itulah pihaknya mengirim kuisioner kepada wali santri. ”Dan khusus untuk wali santri baru menginginkan mereka ke pondok, sehingga kami pertimbangkan dengan tetap mengedepankan protokol kesehatan,” tandasnya.

Setiba di pondok, santri tidak bisa berkeliaran. Seluruhnya  akan menjalani isolasi mandiri di asrama masing-masing selama dua minggu ke depan. Setelah itu barulah kegiatan santri akan dimulai secara tatap muka dengan normal. ”Ini hanya santri baru, sedangkan santri lama kelas 2 dan 3 kembali ke pondok bulan depan,” pungkas Gus Zuem.

Bakal Dikarantina dan Rapid Test

BERBEDA dilakukan di pondok pesantren Tebuireng. Santri kelas akhir yang akan kembali bakal dikarantina sepuluh hari, kemudian di-rapid test secara masal. KH Fahmi Amrullah Hadzik (Gus Fahmi) Kepala Pondok Putri Tebuireng mengatakan, dari hasil rapat pengurus pondok, santri yang diperbolehkan kembali hanya kelas akhir. Sedangkan santri baru maupun lainnya masih belajar di rumah.

”Untuk kembalinya 20 Juli mendatang, itupun hanya kelas 3,” ujarnya. Setiba di pondok, mereka akan dikarantina selama sepuluh hari. Bagi santri putra akan dikarantina di Gedung Ma'had Aly Tebuireng, sedangkan santri putri dikarantina di pondok putri. ”Tempat kedatangan mereka pun kita sendirikan, untuk putra di kawasan makam Gus Dur sedangkan santri di depan pondok putri,” tambahnya.

Untuk menyambut kedatangan santri, pihaknya sudah menyiapkan beberapa protokol kesehatan pencegahan Covid-19. Diantaranya, check point satu pintu, penyemprotan disinfektan santri yang masuk area pondok termasuk pemeriksaan barang-barang. ”Mereka juga harus menyertakan surat surat bebas Covid-19,” terang Gus Fahmi.

Setelah menjalani isolasi selama 10 hari, santri akan di-rapid test secara masal. Bagi santri yang nonreaktif akan dikembalikan ke asrama masing-masing. Sedangkan santri yang reaktif akan diisolasi ditempat terpisah dan di-rapid test lagi sepuluh hari kemudian. ”Langkah ini kita lakukan untuk mencegah penularan Covid-19 di tingkat pondok,” terangnya lagi.

Dia menyebut, ada 4.000 santri Pondok Pesantren Tebuireng. Dari jumlah itu hanya sekitar 600-an santri kelas akhir yang kembali. Sisanya, akan kembali bertahap mulai bulan depan dengan mempertimbangkan status kedaruratan Covid-19 di Jombang. ”Kita dahulukan kelas tiga karena waktu mereka kan sebentar, hanya delapan bulan,” pungkas Gus Fahmi.

(jo/ang/mar/JPR)

 TOP
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia